Jokowi Minta Personel SAR Ditambah untuk Percepat Evakuasi Korban Bencana NTT-NTB

Oleh Lizsa Egeham pada 06 Apr 2021, 10:15 WIB
Diperbarui 06 Apr 2021, 10:19 WIB
Presiden Joko Widodo (Jokowi)
Perbesar
Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberi pernyataan terkait aksi terorisme yang terjadi di Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan, dari Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Minggu (28/3/2021). (Biro Pers Sekretariat Presiden)

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Joko Widodo atau Jokowi meminta agar proses evakuasi korban banjir bandang serta tanah longsor di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB) dipercepat.

Jokowi pun memerintahkan jajarannya untuk menambah jumlah personel tim pencarian dan pertolongan (SAR) sehingga dapat menjangkau lebih banyak wilayah-wilayah terdampak bencana.

"Percepatan proses evakuasi pencarian dan penyelamatan korban yang belum ditemukan. Ini saya minta Kepala BNPB, Kepala Basarnas dibantu dengan Panglima TNI dan Kapolri dan seluruh jajarannya mengerahkan tambahan personel SAR sehingga dapat menjangkau lebih banyak wilayah terdampak," kata Jokowi saat memimpin rapar terbatas dari Istana Merdeka, Selasa (6/7/2021).

Dia ingin proses evakuasi korban banjir dan tanah longsor juga dilancarkan di wilayah-wilayah yang terisolasi. Selain itu, Jokowi mengingatkan jajarannya melakukan evakuasi korban yang berada di gugus pulau yang terdampak bencana.

"Termasuk wilayah terisolir dan berbagai gugus tugas dan berbagai gugus pulau di NTT di Pulau Alor, Pulau Pantar dan pulau-pulau lainnya untuk melancarkan proses evakuasi pencarian dan penyelamatan korban," kata dia.

Disamping itu, Jokowi meminta Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono untuk mengerahkan alat-alat berat dari berbagai tempat. Hal ini untuk memudahkan proses evakuasi di tempat-tempat yang tertutup aksesnya.

"Jika jalur darat masih sulit ditembus, saya juga minta agar dipercepat pembukaan akses melalui laut maupun udara," ujar Jokowi.

 

2 dari 4 halaman

Siklon Tropis Seroja

Kondisi Lembata NTT usai Terjangan Banjir Bandang
Perbesar
Suasana banjir bandang di Pulau Lembata, provinsi Nusa Tenggara Timur, Minggu (4/5/2021). NTT diterjang banjir bandang dan tanah longsor pada Minggu dini hari, 4 April 2021, sekitar pukul 01.00 WITA. (AFP/Handout/BNPB)

Sebelumnya, Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati mengatakan, munculnya siklon tropis seroja yang mengakibatkan bencana banjir bandang dan longsor di Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi bukti bahwa perubahan iklim global itu nyata adanya.

"Perubahan iklim global itu memang nyata, ditandai semakin meningkatnya suhu baik di udara maupun di muka air laut," katanya di Jakarta, Senin 5 April 2021.

Menurutnya, fenomena ini jarang terjadi di wilayah tropis seperti Indonesia. Namun, sejak sepuluh tahun terakhir, kejadian siklon tropis semakin sering terjadi. Bahkan pada 2017, dalam satu pekan bisa terjadi dua kali siklon tropis.

Perihal siklon tropis seroja di NTT, BMKG telah mengeluarkan peringatan dini waspada bibit siklon pada 2 April. Beberapa faktor yang mengakibatkan terbentuknya bibit siklon seroja itu suhu muka laut yang semakin hangat di wilayah Samudera Hindia mencapai lebih dari 26,5 hingga 29 derajat celcius atau melebihi rata-rata.

3 dari 4 halaman

Banjir Bandang Terjang NTT

Infografis Banjir Bandang Terjang NTT. (Liputan6.com/Abdillah)
Perbesar
Infografis Banjir Bandang Terjang NTT. (Liputan6.com/Abdillah)
4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓