BMKG Jelaskan Anomali Cuaca yang Picu Bencana Hidrometeorologi di NTT dan NTB

Oleh Muhammad Radityo Priyasmoro pada 05 Apr 2021, 22:23 WIB
Diperbarui 05 Apr 2021, 22:32 WIB
Kondisi Lembata NTT usai Terjangan Banjir Bandang
Perbesar
Suasana banjir bandang di Pulau Lembata, provinsi Nusa Tenggara Timur, Minggu (4/5/2021). NTT diterjang banjir bandang dan tanah longsor pada Minggu dini hari, 4 April 2021, sekitar pukul 01.00 WITA. (AFP/Handout/BNPB)

Liputan6.com, Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut, bencana hidrometeorologi berupa banjir bandang, longsor, dan angin kencang di sejumlah wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB) akibat anomali cuaca.

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati menyatakan, anomali cuaca di wilayah NTT dan NTB itu sudah diprediksi sejak 2 April 2021.

"Pada tanggal 2 sudah kita prediksi, tapi masih berupa bibit siklon, belum menjadi siklon," kata Dwikorita saat jumpa pers daring bersama BNPB, Senin (5/4/2021).

Dwikorita menjelaskan, perubahan dari bibit siklon menjadi siklon diakibatkan sejumlah faktor. Antara lain, perubahan suhu permukaan air laut dan peningkatan suhu di atmosfer.

"Faktor berikutnya adalah global warming akibatnya terjadilah aliran angin yang sifatnya siklonik, maka terjadi aliran angin yang sifatnya juga siklonik dan ini sangat jarang terjadi di wilayah tropis spererti Indonesia, tapi 5-10 tahun ini terjadi karena dampak perubahan iklim global," terang dia.

Dwikorita memprediksi, situasi alam seperti saat ini akan segera berakhir dalam dua hari ke depan. Data BMKG menunjukkan adanya pelemahan siklon pada Selasa 6 April 2021 dan akan bergerak terus menjauh dari Indonesia.

"Tanggal 5 semakin bergerak ke barat daya itu kita namakan siklon seroja dan diprediksi tanggal 6 semakin lemah karena menjauh walau mengalami peningkatan dan perlu diwaspadai, saat ini angin dan tanggal 7 makin melemah dan akan punah dan akan memasuki wilayah Australia," kata Dwikorita menandasi.

2 dari 3 halaman

68 Warga Meninggal

Kondisi Lembata NTT usai Terjangan Banjir Bandang
Perbesar
Sebuah kendaraan rusak terendam air banjir setelah banjir bandang di Ile Ape, di Pulau Lembata, provinsi Nusa Tenggara Timur, Minggu (4/5/2021). NTT diterjang banjir bandang dan tanah longsor pada Minggu dini hari, 4 April 2021, sekitar pukul 01.00 WITA. (AP Photo/Ricko Wawo)

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan, korban meninggal akibat banjir bandang dan bencana lainnya di sejumlah wilayah di Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Minggu dini hari 4 April 2021 mencapai 68 orang.

Kepala Pusat Data dan Informasi Kebencanaan BNPB Raditya Jati mengatakan 68 korban jiwa tersebar di empat kabupaten di NTT.

"Korban jiwa saat ini terdata 68 orang meninggal dunia dan angka ini masih sangat dinamis karena masih berlangsung pendataan di lapangan," ucap Raditya, Senin (5/4/2021).

Sebaran korban jiwa dari bencana banjir bandang dan bencana lainnya yaitu; Kabupaten Flores Timur 44 orang meninggal dunia, Kabupaten Lembata 11 orang meninggal dunia, Kabupaten Ende 2 orang meninggal dunia, dan Kabupaten Alor 11 orang meninggal dunia.

Akibat bencana alam ini pula, total 15 orang mengalami luka-luka, 70 orang hilang, dan 938 kepala keluarga atau 2.655 jiwa terdampak.

Raditya juga menyampaikan, kerugian materil dari bencana banjir bandang dan bencana lainnya di NTT yaitu, 25 unit rumah rusak berat, 114 unit rumah rusak sedang, 17 unit rumah hanyut, 60 unit rumah terendam, 743 unit rumah terdampak, 40 titik akses jalan tertutup pohon tumbang, 5 jembatan putus, 1 unit fasum terdampak, dan 1 unit kapal tenggelam. 

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓