Pengamat: Dianggap Tak Dicurigai, Perempuan Kerap Disasar Jadi Pelaku Teror

Oleh Yopi Makdori pada 02 Apr 2021, 10:29 WIB
Diperbarui 02 Apr 2021, 10:29 WIB
Suasana Mabes Polri Jakarta Usai Baku Tembak
Perbesar
Suasana di sekitar kawasan Mabes Polri Jakarta, Rabu (31/3/2021). Seorang terduga teroris diduga berupaya melakukan penyerangan ke area Mabes Polri hingga aksi baku tembak dengan polisi pun sempat terjadi. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Liputan6.com, Jakarta - ZA seorang perempuan kelahiran 1995 melakukan teror di Mabes Polri, Jakarta, Rabu 31 Maret 2021 sore. Aksinya ini mengagetkan banyak pihak.

Selain dilakukan perempuan, pelaku teror itu juga tergolong dalam kelompok milenial yang identik dengan keterbukaan dalam memandang sesuatu.

Tak disangka, perempuan muda itu menerobos penjagaan Mabes Polri dan menodongkan senjata api ke arah petugas jaga di pos yang berada di gedung utama, lokasi kantor Kapolri.

Kriminolog Universitas Indonesia (UI), Adrianus Meliala menilai, ada kecenderungan kelompok teroris merekrut perempuan untuk menjadi pengebom alias pengantin atau aktor yang melaksanakan penyerangan ke target-target tertentu.

Menurut dia, hal ini lantaran seorang perempuan lebih tidak dicurigai daripada pria.

"Mengapa? Karena ada semacam anggapan umum bahwa wanita itu tidak mungkin berbuat kekerasan, bahwa wanita itu baik ya, sehingga kemudian itu pengawasan atau kecurigaan orang terhadap wanita itu tidak setinggi pria. Itu menjadikan wanita berada pada posisi selangkah lebih baik dalam rangka mendekati targetnya dibandingkan dengan pria," papar Adrianus kepada Liputan6.com, Kamis 1 Maret 2021 malam.

Kondisi ini dianggap menguntungkan bagi kelompok teroris. Sehingga kata Adrianus, banyak perempuan yang disasar oleh mereka untuk diindoktrinasi.

"Dan itu juga mulai menggejala di Indonesia," kata Adrianus terkait teror di Mabes Polri.

 

2 dari 3 halaman

Indoktrinasi Berlangsung Lama

Menurut Adrianus, ZA dipastikan telah melalui proses indoktrinasi yang panjang hingga muncul dalam ekspresi kekerasan dengan menyerang Mabes Polri.

"Proses indoktrinasi, proses brainwashing pada dirinya itu sudah berlangsung sekitar 10 tahun sebelumnya, yakni pada saat dia masih berusia 15 tahun misalnya. Lalu pada usia 25 tahun sudah jadi tuh, sudah keras dia," papar dia.

Dengan adanya ZA, Adrianus meyakini 10 tahun lalu, banyak aktor yang mampu melakukan cuci otak para remaja. Dengan begitu ia menganggap masih banyak ZA-ZA lain yang belum terdeteksi.

Fenomena ZA, lanjut dia, hanyalah puncak gunung es yang tampak di permukaan. Masih banyak perempuan milenial lain yang memiliki ideologi kekerasan layaknya ZA.

"Jadi yang mau saya katakan adalah bahwa sebetulnya apa yang muncul pada dirinya itu adalah proses yang bertahun-bertahun, proses yang didorong oleh banyak orang yang ada di Indonesia. Sehingga memang kalau bicara puncak gunung es yang kelihatan, maka yang tidak kelihatan itu jauh lebih besar, dan jauh lebih banyak dari segi orangnya," ucap Adrianus.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓