Megawati: Industri Kreatif Salah Satu Penyangga Ekonomi Nasional

Oleh Delvira Hutabarat pada 27 Mar 2021, 18:07 WIB
Diperbarui 27 Mar 2021, 18:07 WIB
Megawati Sukarnoputri
Perbesar
Ketua Umum DPP PDIP, Megawati Sukarnoputri (Liputan6.com/Helmi Fitriansyah)

Liputan6.com, Jakarta - Presiden kelima Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri memuji industri kreatif Indonesia yang kini menjadi salah satu penyangga ekonomi nasional. Hal itu disampaikannya saat menjadi keynote speaker dalam acara pagelaran An Exotic Journey to Nusantara karya Samuel Wattimena, Sabtu (27/3/2021).

"Sektor ekonomi kreatif yang dahulu secara ekonomi memiliki arti kecil dan bersifat sampingan, sekarang telah berubah. Ekonomi kreatif menunjukkan potensinya menjadi kekuatan ekonomi yang tangguh, dan mampu menjadi salah satu penyangga perekonomian nasional. Ekonomi kreatif adalah nilai yang tercipta dari suatu ide," kata Megawati.

Sebagai bukti, berdasarkan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, bahwa sub sektor fesyen berkontribusi besar dalam PDB ekonomi kreatif Indonesia yang mencapai 41,4 persen. Lebih tinggi dari kuliner dan kriya yang berkontribusi di bawah 20 persen.

"Bagi saya, sama membahagiakannya saat mengetahui Indonesia merupakan negara ketiga, setelah Amerika Serikat dan Korea Selatan, yang kontribusi ekonomi kreatifnya besar bagi perekonomian nasional," jelas Megawati.

Dia menyatakan bicara fesyen Indonesia, maka berkaitan dengan wastra atau kain tradisional. Menurutnya, wastra nusantara setiap helai benang dan bubuhan motifnya adalah karya yang memiliki ciri khas, simbol, warna, ukuran, hingga material dipengaruhi kultur sosial masyarakat Indonesia.

"Indonesia memiliki teknik wastra atau kain tradisional terlengkap di dunia, dan nenek moyang kita berhasil membuatnya menjadi identitas nusantara, seperti batik, songket, sulam, ikat, tapis, dan lainnya, banyak banyak lainnya," ungkap Megawati.

Ketua Umum PDI Perjuangan ini menyinggung salah satu fesyen yakni batik, yang perajinnya telah tumbuh subur di berbagai daerah. Menurutnya, dari tahun ke tahun batik selalu mengalami perkembangan.

"Sepanjang sejarahnya, perkembangan batik Indonesia dipengaruhi juga oleh para pedagang asing dan juga pendatang. Beberapa sumber menyebutkan batik Indonesia mencapai puncak kreativitasnya pada 1890 hingga 1910. Pada zaman tersebut telah muncul batik Belanda, batik Cina, atau batik Hokokai," kata Megawati.

2 dari 3 halaman

Tak Kalah dengan Negara Maju

Sekitar tahun 1955, Presiden Sukarno mendorong terciptanya gaya baru batik, yaitu Batik Indonesia. Bung Karno menginginkan batik yang menampilkan nilai seni budaya sebagai jati diri bangsa.

"Bung Karno menginginkan desain Batik Indonesia tersebut mencerminkan penggabungan rasa persatuan, nasionalisme dan romantisme, yang mampu mendukung proses nation building," tutur Megawati.

Akhirnya, Batik menjadi warisan budaya dunia milik Indonesia setelah ditetapkan oleh UNESCO pada 2 Oktober 2009. Pemerintah Indonesia pun menjadikan 2 Oktober sebagai hari Batik Nasional yang selalu diperingati setiap tahunnya.

Sementara itu, perancang mode yang fokus pada kain nusantara, Samuel Wattimena, sangat yakin produk lokal Indonesia bisa mendunia.

Ia mengatakan karya lokal Indonesia tidak kalah dengan negara-negara maju. Buktinya, saat ini dia bersama The Palace merancang perhiasan yang tentunya banyak mengangkat kearifan lokal.

"Jadinya, kalau yang tadinya kita sibuk untuk meng-ekspor produk saja, sekarang kita bisa mengekspor produk dan menarik mata dunia untuk melihat kelokalan kita," kata Sammy.

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓