Romansa Perjuangan Bung Tomo dan Sulistina, Cinta Bersemi di Tengah Revolusi

Oleh Rita Ayuningtyas pada 25 Mar 2021, 08:13 WIB
Diperbarui 25 Mar 2021, 08:18 WIB
[Bintang] Meninggal Dunia, Istri Bung Tomo Dimakamkan di Sebelah Sang Suami
Perbesar
Sulistina Sutomo, istri Bung Tomo yang meninggal Rabu (31/8) dini hari di RSPAD Gatot Subroto. (Via: instagram.com/koransumeks)

Liputan6.com, Jakarta - Sutomo, atau yang lebih akrab disapa Bung Tomo, mengenal belahan jiwanya, Sulistina, pada masa pergolakan revolusi.

Keduanya memiliki ketertarikan pada hal yang sama. Mereka sama-sama aktif sebagai aktivis yang bergerak untuk kepentingan dan kesejahteraan orang banyak.

Namun, Bung Tomo lebih mengarahkan perjuangannya untuk merebut kemerdekaan Indonesia. Sedangkan pujaan hatinya fokus di kepentingan sosial. 

Pertemuan keduanya terjadi kala Sulistina sibuk dalam keanggotaannya di Palang Merah Indonesia (PMI) cabang Malang, Jawa Timur. Saat itu, dia ditugaskan ke Surabaya. Di sanalah dia kemudian bertemu dengan Sutomo. 

Usai berkenalan, perempuan kelahiran Malang, Jawa Timur 25 Oktober 1925 itu memanggil Bung Tomo dengan panggilan "Mas Tomo".

Sulistina melihat Bung Tomo sebagai sosok yang tegas. Meski ternyata, pahlawan nasional tersebut memiliki sisi romantis. 

Sementara, Bung Tomo melihat Sulistina sebagai sosok yang tiada duanya. Bisa dibilang Bung Tomo sudah "cinta berat" dengan perempuan satu itu.

Keromantisannya terlihat saat Bung Tomo berani menyatakan cinta pada Sulistina, seperti yang ditulis Abdul Waid dalam bukunya, Bung Tomo, Hidup dan Mati Pengobar Semagnat Tempur 10 November.

Dengan berani Bung Tomo menyatakan ingin menjalin hubungan serius dan mengarah pada masa depan dengan Sulistina.

Kecintaannya pada Sulistina kadang dituangkannya dalam bentuk lisan dan tulisan, misalnya dalam puisi. 

Sejak saat itu, hari-hari Bung Tomo kini dipenuhi juga dengan kasih sayang dari Sulistina. Bung Tomo menyebut kisahnya dengan Sulistina sebagai "Roman Perjuangan". 

2 dari 4 halaman

Terpisah Jarak dan Perjuangan

Walau sudah resmi sebagai pasangan kekasih sejak 1946, Bung Tomo dan Sulistina jarang bertemu. Selain sibuk, mereka berada di dua kota yang cukup jauh, yakni Surabaya dan Malang.

Keadaan semakin sulit karena Surabaya sedang dikuasai sekutu. Terjadi bentrokan antarpemuda pejuang RI dengan pasukan Sekutu. Bentrokan itu kemudian semakin membesar dan terkenal dengan nama Pertempuran Surabaya.

Bung Tomo pun disibukkan dengan perjuangannya. Apalagi, sejak awal pacaran, Bung Tomo memang menjadi buronan sekutu. Maklum saja, sikap Bung Tomo yang suka memberontak dan menjadi pemimpin Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia (BPRI), membuat sekutu geram.

Namun, Bung Tomo dan Sulistina memilih saling percaya. Sifat Sulistina yang penuh pengertian itulah yang membuat Bung Tomo semakin cinta. Lamunan Bung Tomo tidak pernah lepas dari sosok Sulistina yang cerdas, baik, ramah, dan bersahaja.

3 dari 4 halaman

Minta Izin Rekan Seperjuangan untuk Menikah

Setelah menjalin hubungan cukup lama sebagai pasangan kekasih, akhirnya Bung Tomo memutuskan untuk membawa jalinan itu ke jenjang pernikahan. Pernikahan Bung Tomo dan Sulistina berlangsung pada 19 Juni 1947 di Malang.

Namun, keputusan menikah saat masa revolusi menjadi rasa bersalah besar dalam hati Bung Tomo. Saat itu, masyarakat Indonesia sedang dalam situasi genting dan penuh tekanan dari penjajah. Pernikahan di masa tersebut bagai hanya memuaskan keinginan dan kesenangan pribadi. 

Pandangan banyak pemuda masa itu, perkawinan yang dilaksanakan di masa revolusi adalah adat feodal dan ciri egoistis manusia untuk mengejar kebahagiaan pribadi. Revolusi menuntut pengorbanan dalam segala hal, termasuk perkawinan. 

Atas rasa berdosanya tersebut, Bung Tomo melangsungkan pernikahannya atas izin dan persetujuan dari kelompok pemuda yang dipimpinnya yakni BPRI. Bung Tomo sangat menghargai kelompoknya dan tidak ingin melangkahi serta mengesampingkan kelompoknya demi kepentingan pribadinya.

Hal tersebut terlihat dari bahasa iklan pernikahannya di media. Dalam pengumuman tersebut, Bung Tomo menyatakan meski perkawainan sudah dilangsungkan, mereka tidak menjalankan kewajiban dan hak sebagai suami istri sebelum ancaman negara dan rakyat dapat dihalaukan. 

Izin perkawinan itu diperoleh dari pimpinan BPRI. Bisa dibilang, Bung Tomo beruntung memiliki teman seperjuangan di BPRI yang memberikan izin tersebut.

Hal yang memaksa Bung Tomo harus menikah pada saat itu adalah sosoknya yang dicari oleh tentara sekutu. Sekutu yakin provokasi Bung Tomo untuk melawan Belanda pada rakyat telah sampai pada puncaknya.

Untuk itu, pada 1947, pemerintah Indonesia ingin menerbangkan Bung Tomo ke Australia. Namun, banyak pemimpin pejuang yang khawatir jika Bung Tomo justru menyukai perempuan di sana atau terbawa pergaulan bebas di Australia.

Atas dasar tersebut lah Bung Tomo diharuskan menikah terlebih dahulu dengan Sulistina pada Juni 1947.

 

**Tidak semua orang bisa dan punya kesempatan untuk bertemu dengan belahan jiwa dan saling memberikan cinta abadi hingga lanjut usia sampai maut memisahkan. Seribu Kali Cinta merupakan ungkapan tekad untuk memberikan cinta abadi kepada sang belahan jiwa.

 

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓