Bocah SD Asal Manggarai Timur Terima Bantuan dari Pemerintah

Oleh Reza pada 14 Mar 2021, 07:58 WIB
Diperbarui 14 Mar 2021, 10:05 WIB
PT Pos Indonesia (Persero)
Perbesar
PT Pos Indonesia (Persero) tergerak untuk membantu meringankan beban Risalianus Aja, bocah kelas 6 SDI Sopang Rajo, Kampung Kota Tunda, Desa Nanga Meje, Kecamatan Elar Selatan, Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur

Liputan6.com, Jakarta PT Pos Indonesia (Persero) tergerak untuk membantu meringankan beban Risalianus Aja, bocah kelas 6 SDI Sopang Rajo, Kampung Kota Tunda, Desa Nanga Meje, Kecamatan Elar Selatan, Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur. Risalianus sudah menjadi tulang punggung keluarga pada usia dini lantaran kedua orang tuanya jatuh sakit.

Bantuan diserahkan oleh Kantor Pos Komodo 86700, berupa bantuan uang tunai dan sembako, senilai Rp5 juta. Bantuan dari program Kementerian Sosial (Kemensos) itu diserahkan oleh Karyawan Kantor Pos Cabang Borong Dato Hasim, pada Jumat, (12/3/2021).

Kepala Kantor Pos Komodo 86700 Tri Rahayu Ningtiah menjelaskan, bantuan tersebut merupakan bentuk kepedulian dari PT Pos Indonesia (Persero) terhadap masalah sosial. Terlebih, selama ini pihaknya bersama Kemensos selalu bersama-sama dalam membantu warga ketika ada masalah sosial.

"Diharapkan bantuan ini bisa memberikan banyak manfaat kepada Risalianus," kata Tri, Sabtu, (13/3/2021).

Sosok Risalianus mendapat sorotan belakangan ini. Ayahnya, Benediktus Poseng mengalami lumpuh. Sementara ibunya, Wihelmina Mbi mengalami lumpuh dan bisu sejak melahirkan anak bungsunya sejak 2016.

Keduanya hanya bisa terbaring di rumah mereka saja. Benediktus terbaring di atas pelupuh bambu dan hanya beralaskan karung berisi kapuk. Sementara ibunya terbaring di ruang tamu, hanya beralaskan beberapa lembar papan.

Hal itu mendorong Risalianus untuk mengurus kedua orang tuanya sembari sekolah, dan mencari nafkah. Anak sulung itu harus membagi waktu untuk mengurus makan dan minum, membersihkan kotoran kedua orang tuanya, dan memungut kemiri di kebun.

Keluarga itu memiliki kebun yang ditanami kopi dan kemiri. Uang hasil penjualan kemiri digunakan untuk membeli beras, sabun, dan berbagai kebutuhan lainnya.

Selain dari hasil penjualan kemiri. keluarga itu juga bergantung dari belas kasih tetangga dan komunitas berbasis gerejani (KBG), kelompok doa di tingkat keluarga.

Rumah keluarga itu masih berlantai tanah. Dapurnya juga sudah sangat reot. Jika hujan, menjadi sangat becek, sehingga sulit untuk memasak.

 

(*)