Anggota DPR Mengaku Bingung Ada Pihak yang Alergi Bicara Vaksin Nusantara

Oleh Liputan6.com pada 10 Mar 2021, 21:19 WIB
Diperbarui 10 Mar 2021, 21:19 WIB
Terawan Buka-bukaan Soal Vaksin Nusantara di DPR
Perbesar
Mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto memberikan paparan dalam rapat dengan Komisi IX DPR RI di Senayan, Jakarta, Rabu (10/3/2021). Dalam rapat tersebut, Ketua Tim Pengembangan Vaksin Nusantara Terawan Agus Putranto buka-bukaan soal pengembangan Vaksin Nusantara. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta Anggota Komisi IX DPR RI Dewi Asmara mengaku bingung dengan respons pihak-pihak tertentu dengan adanya vaksin Nusantara.

Padahal, menurut dia, vaksin Nusantara ini adalah hasil penelitian anak bangsa yang diprakarsai oleh mantan Menteri Kesehatan dr. Terawan Agus Putranto yang layak untuk diapresiasi.

"Mengapa semua sekarang seperti alergi tidak mau membicarakan," kata Dewi Asmara saat memotong pembicaraan Ketua Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Penny Kusumastuti Lukito saat Raker di Ruang Komisi IX DPR RI, Rabu (10/3/2021).

Menurut dia, BPOM selaku pengawas atas proses penelitian hingga uji klinis vaksin Nusantara harus membuka semua surat keputusan mulai dari Kementerian terkait, BPOM hingga Badan Kesehatan Dunia atau WHO untuk memperjelas masalah ketidaksesuaian data penelitian.

"Saya minta perizinan awal dibagikan ke anggota, mulai dari SK Menteri kemudian BPOM, kemudian WHO jadi kita jelas, karena ini bukan suatu penelitian yang abal-abal, karena ini ada izinnya," pinta Dewi.

Politisi Partai Golkar ini pun meminta pihak BPOM untuk tidak menutup data, terkait proses penelitian vaksin Nusantara agar publik bisa mengetahui kejelasan dari proses tahapan penelitian vaksin tersebut.

"Kalau awalnya ini berizin, makanya cepat dibagikan ke anggota izinnya supaya kita jelas, mana yang benar persyaratannya apa, mana kurang dan mau dilengkapi ya kita lengkapi," ucapnya.

 

 

2 dari 3 halaman

Tidak Ada Diskriminasi

Dewi Asmara pun menyarankan agar tidak ada diskriminasi pada vaksin yang merupakan hasil kerja anak bangsa.

"Jangan seolah-olah kita jadi diskriminatif bahwa ini sesuatu yang abal-abal, nggak benar dan sebagainya," tutupnya. 

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓