PDIP: Terbukti SBY Menzalimi Dirinya Sendiri

Oleh Liputan6.com pada 17 Feb 2021, 18:18 WIB
Diperbarui 17 Feb 2021, 18:18 WIB
Pertemuan SBY dan Megawati di Pemakaman Ani Yudhoyono
Perbesar
Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono bersalaman dengan Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri usai prosesi pemakaman Ani Yudhoyono di TMP Kalibata, Jakarta, Minggu (2/6/2019). Megawati duduk bersebelahan dengan Ibu Negara Iriana Joko Widodo dan Sinta Nuriyah Wahid. (Liputan6.com/HO/Rangga)

Liputan6.com, Jakarta Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto mengatakan, mantan Ketua Umum Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu memainkan politik pencitraan dengan menzalimi dirinya sendiri.

Hal ini disampaikannya menanggapi pernyataan mantan Sekjen Demokrat Marzuki Alie pada sebuah acara di salah satu channel Youtube. Saat itu, Marzuki mengklaim SBY berbicara padanya bahwa membuat Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri kecolongan dua kali.

Menurut Hasto, hal ini membuktikan tudingan SBY yang menyebut Megawati berlaku zalim padanya adalah salah.

"Jadi kini rakyat bisa menilai bahwa apa yang dulu dituduhkan oleh Pak SBY telah dizolimi oleh Bu Mega, ternyata kebenaran sejarah membuktikan bahwa Pak SBY menzolimi dirinya sendiri demi politik pencitraan," kata Hasto dalam keterangannya, Rabu (17/2/2021).

Dia menuturkan, dalam berpolitik, pihaknya diajarkan moralitas politik yaitu satunya kata dan perbuatan. Apa yang disampaikan oleh Marzuki Alie tersebut menjadi bukti bagaimana hukum moralitas sederhana dalam politik itu tidak terpenuhi dalam sosok SBY.

"Terbukti bahwa sejak awal Pak SBY memang memiliki desain pencitraan tersendiri termasuk istilah kecolongan dua kali sebagai cermin moralitas tersebut," tutur Hasto.

Dia pun menceritakan sebuah kisah dari almarhum Cornelis Lay, saat SBY diangkat menjadi Menko Polhukam oleh Megawati banyak mempertanyakan keterkaitannya sebagai menantu Sarwo Edhie yang dipersepsikan berbeda dengan Bung Karno dan berkaitan dengan serangan ke kantor DPP PDI 27 Juli 1996.

Namun, Megawati mempunyai pandangan berbeda saat mengangkat SBY.

"Saya mengangkat Pak SBY sebagai Menkopolhukam bukan karena menantu Pak Sarwo Edhie. Saya mengangkat dia karena dia adalah TNI, Tentara Nasional Indonesia. Ada Indonesiab dalam TNI sehingga saya tidak melihat dia menantu siapa," cerita Hasto.

 

2 dari 3 halaman

Bagian Kebenaran

Karena itu, Hasto menuturkan, apa yang disampaikan Marzuki Alie adalah dialetika kebenaran.

"Jadi apa yang disampaikan Pak Marzuki Alie itu bagian dari dialektika bagi kebenaran sejarah itu," kata dia.

 

Reporter: Ahda Bayhaqi

Sumber: Merdeka.com

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓