BMKG Ingatkan Potensi Gelombang Tinggi di Sejumlah Daerah dalam Sepekan ke Depan

Oleh Yopi Makdori pada 10 Feb 2021, 05:15 WIB
Diperbarui 10 Feb 2021, 05:15 WIB
rob
Perbesar
Gelombang tinggi di Pekalongan memicu rob masuk lebih dalam ke pemukiman warga. (foto: Liputan6.com)

Liputan6.com, Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan potensi adanya gelombang tinggi yang bakal menerjang sejumlah wilayah di Indonesia dalam sepekan ke depan.

Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto menyebut, gombang tinggi diperkirakan berada pada rentang 2,5 meter hingga 4 meter. Sebagian besar daerah yang berpotensi terjadi gelombang tinggi adalah yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia, termasuk di selatan Jawa.

"Gelombang dengan ketinggian 2,5 - 4 meter atau kategori tinggi berpeluang terjadi di Laut Natuna Utara, Perairan barat Kepulauan Mentawai, Perairan Enggano, Perairan barat Lampung, Samudera Hindia barat Kepulauan Mentawai hingga Lampung, Selat Sunda bagian selatan, Perairan selatan Jawa hingga Pulau Sumba, Selat Bali - Lombok - Alas bagian Selatan, Samudra Hindia selatan Jawa hingga NTT," kata Guswanto dalam keterangan tulis, Selasa (9/2/2021).

Sementara itu, untuk daerah dengan prakiraan gelombang sedang yakni ketinggian 1,25 meter hingga 2,5 meter akan menerjang daerah-daerah seperti Aceh hingga Nias.

"Untuk Prakiraan Gelombang sepekan ke depan, dengan ketinggian 1,25 - 2,5 meter berpeluang terjadi di Perairan utara Sabang, Perairan barat Aceh hingga Kepulauan Nias, Perairan Bengkulu, Perairan Kepulauan Anambas - Natuna, Laut Natuna, Perairan timur Lingga - Bintan, Selat Karimata, Laut Jawa, Selat Makasar, Laut Flores, Perairan Bau-bau dan Wakatobi, Perairan Kep. Sermata hingga Tanimbar, Perairan selatan Kep. Kai - Aru, Laut Banda, Laut Sulawesi, Perairan Kep. Sangihe - Talaud, Laut Maluku bagian utara, Laut Halmahera, Perairan utara Papua Barat hingga Papua, Laut Arafuru," beber dia.

 

2 dari 3 halaman

Waspadai Cuaca Ekstrem

Gelombang Tinggi Manado
Perbesar
BMKG menyebut superposisi gelombang tinggi dan pasang air laut di Manado diprediksi masih akan berlangsung hingga dua hari ke depan. (Liputan6.com/ Istimewa)

Guswanto meminta masyarakat agar tetap waspada dan berhati-hati terhadap dampak yang dapat ditimbulkan oleh kondisi cuaca ekstrem seperti banjir, tanah longsor, banjir bandang, genangan, angin kencang, pohon tumbang, dan jalan licin.

BMKG mencatat bahwa saat ini sebagian besar wilayah di Indonesia (96 persen dari 342 Zona Musim) telah memasuki musim hujan. 

"Hal ini juga telah diprediksi sejak Agustus 2020 lalu, bahwa terkait dengan puncak musim hujan akan terjadi pada Januari - Februari 2021 di sebagian Sumatera bagian selatan, sebagian besar Jawa termasuk DKI Jakarta, sebagian Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Sulawesi, sebagian Maluku, sebagian Papua Barat dan bagian selatan Papua. Berdasarkan kondisi tersebut, maka kewaspadaan akan potensi cuaca ekstrem harus terus ditingkatkan," sebutnya.

Analisis BMKG menunjukkan bahwa kondisi dinamika atmosfer yang tidak stabil dalam beberapa hari ke depan dapat meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di beberapa wilayah Indonesia.

Menurutnya hal ini disebabkan oleh munculnya pusat tekanan rendah di sekitar wilayah Australia dan munculnya sirkulasi siklonik di sekitar wilayah utara Indonesia sehingga mempengaruhi pola arah dan kecepatan angin yang dapat meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sekitar wilayah Indonesia. 

"Selain itu, kondisi labilitas atmosfer yang kuat di sebagian wilayah Indonesia dapat turut berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan awan hujan dalam skala lokal," pungkasnya.

 

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓