Langkah Indonesia Menuju Inovasi Neutralitas Karbon

Oleh Reza pada 23 Jan 2021, 10:00 WIB
Diperbarui 23 Jan 2021, 10:00 WIB
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif saat menghadiri IRENA 11th Session Assembly
Perbesar
Indonesia telah melaksanakan beberapa program guna mengurangi karbon, yang berarti pula mengurangi pemanfaatan bahan bakar fosil.

Liputan6.com, Jakarta Indonesia telah melaksanakan beberapa program guna mengurangi karbon, yang berarti pula mengurangi pemanfaatan bahan bakar fosil, diantaranya mandatori biodiesel, co-firing PLTU, pemanfaatan Refuse Derived Fuel (RDF), penggantian diesel dengan pembangkit listrik energi terbarukan termasukan yang berbasis hayati, pemanfaatan non listrik/non biufuel seperti briket, dan pengeringan hasil pertanian dan biogas.

Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif saat menghadiri IRENA 11th Session Assembly pada sesi Renewables and Pathway to Carbon Neutrality – Innovation, Green Hydrogen and Socioeconomic Policies yang berlangsung secara virtual kemarin (20/1).

Arifin menuturkan biodiesel memiliki peran penting dalam mendukung ketahanan energi nasional, oleh karenanya Pemerintah telah menyusun rencana strategis pengembangan biodiesel dengan melanjutkan program B30 yang akan dimonitor dan dievaluasi secara berkala, memfasilitasi kemungkinan terjadinya debottlenecking, meningkatkan infrastruktur pendukung serta memastikan insentif tetap berjalan.

“Sementara dalam implementasi program B40 dan B50, saat ini sedang dalam tahap pengkajian komprehensif mengenai komposisi campurannya, evaluasi ekonomi yang juga mencakup kesiapan, bahan baku dan infrastruktur pendukungnya. Uji jalan B40 akan dilanjutkan dengan uji coba pada pembangkit listrik tenaga diesel yang sudah ada,” ujar Arifin.

Pada kesempatan ini, ia juga menegaskan bahwa upaya peningkatan penyediaan bahan baku biodiesel yang dilaksanakan oleh Pemerintah Indonesia dilakukan dengan meminimalkan pembukaan lahan/hutan, serta terus berupaya mengembangkan berbagai bahan baku dari sumber daya alam domestik lainnya sebagai pengganti kelapa sawit.

“Kementerian ESDM bekerja sama dengan stakeholders terkait untuk menggunakan lahan reklamasi/pasca tambang dan mengupayakan tanaman yang cocok berdasarkan kondisi lahan dan iklim,” tandas Arifin.

 

(*)

Live Streaming

Powered by