Kepala Perpusnas: Tingkat Literasi Masyarakat Masih Rendah

Oleh Delvira Hutabarat pada 10 Des 2020, 12:20 WIB
Diperbarui 10 Des 2020, 12:29 WIB
Perpustakaan Nasional
Perbesar
Pengunjung membaca buku di Perpustakaan Nasional (Perpusnas), Jakarta, Kamis (10/6/2020). Perpusnas membuka kembali membuka pelayanan mulai Kamis ini, 11 Juni 2020, dengan menyiapkan protokol kesehatan setelah beberapa bulan tutup akibat COVID-19. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Kepala Perpustakaan Nasiona (Perpusnas) Muhammad Syarif Bando menyatakan, kemajuan sebuah bangsa dapat dilihat dari budaya literasinya. Sayangnya, budaya baca di Indonesia masih sangat rendah. Hal itu menurutnya menjadi pekerjaan rumah besar, tidak hanya Perpusnas melainkan pemerintah pusat dan daerah.

“Tingkat literasi masyarakat masih rendah dan menjadi PR besar semua pihak,”kata Syarif dalam Webinar “Budaya Literasi Untuk Mewujudkan SDM Unggul” pada Kamis (10/12/2020).

Senada dengan Syarif, Anggota Komisi X DPR RI, Esty Wijayati menyatakan untuk meningkatkan budaya literasi, tidak boleh hanya dari salah satu faktor saja.

“Semua harus berjalan seiring, tingkatkan infrastrukturnya, SDM-nya juga tingkatkan, bagaimana memompa masyarakat agar gemar membaca,” ucapnya.

Esty mengingatkan, fokus pengembangan peningkatan literasi jangan hanya di perkotaan saja, sebab justru daerah pelosok yang harus diberi perhatian lebih.

"Pendidikan literasi jangan hanya masyarakat kota besar, PR nya bagaimana meningkatkan masyarakat baca masya keseluruhan, di daerah-daerah," terangnya.

2 dari 3 halaman

Dorong Program Literasi

Untuk mewujudkannnya, Esty menyatakan Komisi X akan terus mendorong agar program literasi menjadi program prioritas pemerintah.

"Fakta di daerah anggaran untuk literasi sangat rendah. Kami mojon maaf upaya untuk menambah anggaran di perpusnas belum menuai hasil cukup. Anggaran di bawah Rp 1 T itu amat kecil bila kita mau naikkan tingkat literasi kita,” ucapnya.

Selain itu, Esty berhara Perpusnas membuat aplikasi khusus perpustakaan daerah, di mana memuat apa saja kebutuhan masing-masing perpustakaan bahkan hingga perpustakaan pelosok.

“Perpusna buat aplikasi pencatatan, jadi kita paham peta di bawah, paham kondisinya. Misal di sini butuh pustakawan, itu lebih butuh buku, ini butuh mobil buku keliling,” tandasnya.

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓