Greenpeace Sebut Galon Sekali Pakai Bisa Jadi Masalah Baru Sampah Plastik

Oleh Liputan6.com pada 26 Nov 2020, 22:45 WIB
Diperbarui 27 Nov 2020, 14:48 WIB
Ilustrasi sampah plastik
Perbesar
Ilustrasi sampah plastik. (Foto: pexels.com)

Liputan6.com, Jakarta Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) lingkungan Greenpeace mengingatkan semua pihak akan dampak buruk jangka panjang yang bisa disebabkan sampah dari kemasan galon sekali pakai terhadap lingkungan.

"Kehadiran produk baru galon sekali pakai ini akan memunculkan masalah baru sampah plastik dalam beberapa tahun ke depan," ujar juru kampanye Urban Greenpeace Indonesia Muharram Atha Rasyadi saat acara IG Live AZWI (Aliansi Zero Waste Indonesia), Selasa (25/11/2020).

Dia menyatakan, dulu masyarakat menggunakan botol plastik karena menganggapnya lebih mudah, lebih instan, dan lebih nyaman untuk dipakai. Sayangnya, saat itu tidak ada satupun yang memikirkan dampak jangka panjangnya itu apa terhadap lingkungan.

“Itu baru kita rasakan dampaknya pada beberapa tahun ini. Laut dan sungai-sungai kita tercemar oleh sampah plastik, mikro plastik mulai ditemukan dimana-mana," ujarnya.

Begitu juga dengan kasus galon sekali pakai. Kalau itu diterima secara umum oleh masyarakat, Atha  khawatir kita akan menemukan masalah baru lagi dalam permasalahan sampah plastik.

"Kita akan lebih sulit lagi untuk menanganinya karena harus mengubah lagi perilaku masyarakat yang mungkin sudah merasa terbiasa untuk menggunakannya,” ujarnya. 

2 dari 3 halaman

Kebiasaan Baru

Padahal, kata Atha, masyarakat saat ini sudah mulai terbiasa menggunakan air kemasan galon guna ulang. Produk ini, menurutnya, setidaknya ikut membantu pengurangan hadirnya sampah plastik dari botol plastik sekali pakai di lingkungan. Karena konsumen cukup membeli galonnya itu sekali saja, dan setelah habis mereka hanya membeli isinya saja dengan menukarkan galon kosong ke warung atau ke agen terdekat.

“Tapi sekarang kita dikenalkan lagi dengan produk baru galon sekali pakai, yang justru produksinya seharusnya dikurangi karena berpotensi menimbulkan masalah berupa sampah plastik baru  di lingkungan,” katanya.

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓