Pemberontakan DI/TII 1959, Banjir Darah 120 Warga Desa Cibugel

Oleh Nanda Perdana Putra pada 23 Nov 2020, 07:31 WIB
Diperbarui 23 Nov 2020, 07:31 WIB
Ikrar Setia pada Pancasila
Perbesar
Perwakilan Keluarga Besar Harokah Islam Indonesia, mantan anggota DI/TII dan mantan anggota NII memberikan hormat saat pembacaan ikrar setia kepada Pancasila, UUD 45, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika di Kemenko Polhukam, Selasa (13/8/2019). (merdeka.com/Imam Buhori)

Liputan6.com, Jakarta - Tugu setinggi 5 meter menjulang tinggi persis di depan Kantor Desa Cibugel, Sumedang, Jawa Barat. Monumen itu menjadi pengingat atas peristiwa berdarah pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) yang menyasar desa tersebut 61 tahun silam. Tercatat 120 warga tewas.

Masa-masa pergolakan pada 1945 hingga puncaknya di 1959, gerombolan separatis DI/TII yang dipimpin oleh Kartosuwirjo kerap menyatroni Desa Cibugel demi ransum makanan. Warga setempat yang tegas menyatakan dukungan untuk Republik Indonesia, jadi bulan-bulanan dan mendapat tekanan langsung dari DI/TII.

Sejak era Perang Kemerdekaan 1945-1949, Cibugel merupakan basis terkuat pejuang pro-Republik Indonesia di kawasan Priangan Timur. Tentara Belanda dan gerilyawan DI/TII jarang sekali bisa bertahan lama di desa tersebut.

Kesetiaan warga Cibugel pun tidak luntur oleh pemberontakan DI/TII yang resmi dimulai pada 7 Agustus 1949. Mereka tegas menolak memberikan bantuan apapun kepada kelompok yang disebut sebagai gerombolan itu.

"Jangankan harta berharga seperti emas dan uang, nasi pun pantang kami berikan kepada mereka," ujar salah seorang sesepuh Cibugel, Tarsiyah, seperti dikutip Liputan6.com, Senin (23/11/2020).

Berdasarkan buku "Sekarmadji Maridjan Kartosuwirjo" yang ditulis Pinardi, sikap keras kepala warga menjadikan Cibugel sebagai darul harbi alias kawasan musuh oleh kelompok DI/TII. Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Negara Islam Indonesia, harta dan nyawa para penghuni darul harbi halal untuk diambil, sekali pun melalui cara kekerasan. Istilahnya ada ghanimah, salab, dan fa'i.

Ghanimah mengacu pada semua benda hidup dan mati yang berhasil dirampas dari musuh lewat suatu pertempuran. Salab adalah semua benda mati yang dipakai musuh saat pertempuran dan fa’i adalah semua benda mati yang didapat dari musuh bukan lewat pertempuran.

Dengan doktrin tersebut, wajar jika selama 12 tahun lebih, Desa Cibugel selalu menjadi sasaran DI/TII. Bahkan, ada masa selama enam bulan desa tersebut diserang hingga 16 kali.

 

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

2 dari 3 halaman

Awal Penyerangan DI/TII

Berdasarkan buku "Sekarmadji Maridjan Kartosuwirjo" yang ditulis Pinardi, Desa Cibugel diserbu ratusan gerombolan DI/TII bersenjata lengkap pada senja di akhir tahun 1949. Satu regu TNI yang menjaga tidak bisa berbuat lebih. Ini menjadi awal peristiwa pahit.

Cibugel luluh lantak dengan 1.400 rumah habis terbakar, tanpa satu pun bangunan berdiri utuh. Tujuh warga desa yang dituding sebagai pengkhianat agama ditangkap karena bekerja sama dengan pemerintah kafir. Mereka adalah Eme, Tarwah, Darja, Anen, Askum, Sahlawi dan Otjid.

Satu per satu dari mereka disembelih atau dipukul gada kayu hingga kepalanya pecah di sebuah kandang kambing. Semua warga dipaksa melihat, tidak terkecuali anak-anak dan wanita, sebagai pengingat nasib pendukung Republik Indonesia.

Alih-alih nyali menciut, warga Cibugel malah bertekad melawan. Berkoordinasi dengan TNI, terbentuklah Organisasi Keamanan Desa (OKD) dengan satu unit beranggotakan 30 pemuda desa. Suparma, tokoh pemuda setempat, diangkat sebagai pemegang komando.

Mereka dimodali latihan militer, dan tiga pucuk senjata api dengan sebuah pistol dipegang komandan. Sisanya dua senjata api usang jenis Stengun dan Arisaka untuk dipakai bergiliran, lengkap dengan 50 butir peluru yang diberikan setiap bulan.

Meski diperkuat dua regu pasukan TNI yang masing-masing terdiri dari 11 prajurit, Desa Cibugel tetap kerap kebobolan. Gerombolan DI/TII masih berhasil merampok dan membunuh warga.

Hingga tiba jelang tengah malam di 23 November 1959. Rasadi, warga yang kebetulan tidak dapat giliran jaga sedang beristirahat, namun matanya belum dapat terpejam. Mendadak dari arah utara terdengar suara senjata api.

Rasadi lari kalang kabut menuju pos tentara yang terletak di Jayamekar, sementara dua pemuda tampak mengambang di kolam. Terkejutlah dia saat mendapati hanya ada dua prajurit regu keamanan dari Batalyon 323 Kodam Siliwangi yang bertahan di pos.

Satu memegang M1 Garand, satunya menembakkan Tekidanto. Rupanya, sembilan prajurit lainnya tengah berpatroli mengelilingi pagar pembatas desa, termasuk pimpinannya Letnan Koesnadi.

Dihadapan Rasadi, satu prajurit pemegang mortir roboh kena hantam peluru. Panik, dia bersama satu tentara lainnya lari ke selatan dan bertemu Zuhdi dan Uder, sesama anggota OKD Cibugel.

"Sedang apa kalian di sini? Ayo mundur!," tutur Rasadi lewat bahasa sunda.

"Kami sedang menunggu pasukan dari pos," jawab Zuhdi.

"Pasukan tidak tahu di mana, asrama kosong!," kata Rasadi.

 

3 dari 3 halaman

Hari Keji Pertumpahan Darah

Tarsiyah kelar menidurkan Acin, bayi lelakinya berusia delapan bulan. Baru hendak tidur, terdengar suara letupan senjata menggema.

"Kang! Bagaimana ini? Ke mana saya harus membawa bayi ini?," tanya Tarsiyah histeris.

"Cepat bawa anak itu ke wahangan (Legok Cibiru)!" jawab sang suami, Karsita.

Berdasarkan buku "Sekarmadji Maridjan Kartosuwirjo" yang ditulis Pinardi, ratusan warga lainnya ternyata sudah tiba di Legok Cibiru, sebagian besar perempuan dan anak-anak. Mereka menjerit dan menangis saat melihat api melalap bangunan yang dibakar gerombolan.

Masuk pukul 01.30 WIB, gerombolan DI/TII mengepung lembah dari ketinggian sambil memaki dalam bahasa sunda yang kasar. Terdengar senjata dikokang bersamaan.

"Rasakeun siahhhhhhh!"

"Sok arek menta tulung ka saha ayeuna, heh!"

Ribuan peluru tajam menghujani lembah dari berbagai arah. Para perempuan terjerembab bermandikan darah. Di atas batu-batu sungai, usus anak-anak terburai. Sebagian ibu tewas dalam kondisi sedang menyusui bayi.

"Tidak ada ampun buat kalian! Waktu kemarin ke mana saja kalian? Sekarang minta-minta tolong kepada kami? Sudah terlambat!," teriak anggota gerombolan berbahasa sunda.

Di balik batu besar, Tarsiyah terus mendekap Acin sambil berjongkok setengah tiarap. Suara tembakan masih terdengar meski telah mendekati subuh. Gerombolan tampak mulai menjarah, hingga akhirnya peluit panjang kode meninggalkan Cibugel berbunyi.

Warga baru berani keluar dari persembunyian sekitar pukul 06.30 WIB. Tarsiyah ikut bangkit, dilihatnya ratusan mayat bergelimpangan dari balik bebatuan. Air sungai sudah berubah merah.

Berdasarkan surat kabar Pikiran Rakyat edisi 26 November 1959, sekitar 120 warga Cibugel tewas dan 60 lainnya luka-luka akibat penyerbuan gerombolan DI/TII. "Bagian terbesar yang tewas adalah kaum wanita, anak-anak, dan para balita yang sengaja ditembak mati, bukan terjebak peluru dalam tembak menembak," seperti dilansir.

Sementara Lurah Wikartapradja menyebut ada 122 warga tewas, 64 lainnya luka-luka, dan 418 rumah dibakar. Adapun warga Cibugel sendiri meyakini warga yang tewas berjumlah 123 orang. Itu pun belum termasuk yang meninggal dalam perawatan di Sumedang, Bandung, dan Garut. Bahkan, Rasadi malah bilang jumlahnya lebih dari 200 orang.

Ratusan jenazah itu kemudian dimakamkan secara massal di depan Balai Desa Cibugel. Namun kini, makam korban Peristiwa Cibugel 23 November 1959 sudah tidak ada lagi. Sebagian dipindahkan keluarga masing-masing, lainnya telah berganti bangunan.

Sebagai penanda, di lokasi pemakaman itu didirikanlah masjid dengan nama Assyuhada, yang artinya mereka yang mati syahid. Sementara korban jiwa atas Peristiwa Cibugel dikenang sebagai pahlawan tanpa pusara.

Lanjutkan Membaca ↓