Menteri ESDM Tegaskan Langkah Indonesia Menuju Ekonomi Hijau di Forum Internasional

Oleh Liputan6.com pada 24 Jul 2021, 15:00 WIB
Diperbarui 27 Jul 2021, 01:15 WIB
Hadiri IRENA 11th Session Assembly, Menteri ESDM Tekanan Pemanfaatan Biodiesel
Perbesar
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif di acara IRENA 11th Session Assembly yang berlangsung secara virtual, Rabu (20/1).

Liputan6.com, Jakarta Memimpin Delegasi Republik Indonesia pada Energy and Climate Joint Ministerial Meeting-G20 secara virtual Menteri ESDM Arifin Tasrif bersama Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar memberikan intervensi singkat dalam Sesi Utama bertajuk Pemulihan Berkelanjutan dan Transisi Energi Bersih (Sustainable Recovery & Clean Energy Transitions), sementara Menteri LHK memberikan intervensi singkat dalam Sesi Utama berjudul Kota dan Aksi Iklim (Cities and Climate Actions).

Dalam paparannya Menteri ESDM menyampaikan sejumlah perkembangan kebijakan di Indonesia dalam rangka mendukung proyek-proyek hijau, juga peran penting energi terbarukan untuk menyediakan akses energi dan memberdayakan masyarakat di pedesaan maupun daerah terpencil.

Arifin juga menyampaikan subsidi yang tepat sasaran diberikan pada kelompok rentan yang berhak menerima, seperti rumah tangga dengan ekonomi lemah, untuk menjaga produktivitas dan kualitas hidup di tengah situasi pandemi. 

"Indonesia juga secara aktif, responsif, dan inklusif mengembangkan kebijakan pembangunan rendah karbon dan ketahanan iklim selagi juga memulihkan ekonomi dari dampak pandemi global. Melalui Program Pemulihan Ekonomi Nasional kami memberikan dukungan ekonomi bagi para pelaku usaha kecil dan menengan (Small and Medium Enterprises - SMEs) serta memastikan akses energi dalam rangka mencapai target SDGs," ungkap Menteri Arifin.

Menteri ESDM juga menyampaikan pentingnya kolaborasi lintas sektor dan harmonisasi kebijakan untuk mendukung proyek nasional tersebut.

"Sesuai arahan Presiden RI bahwa akses, keterjangkauan, dan keberlanjutan akan membuka jalan menuju ekonomi hijau," ujar Arifin. 

Arifin menegaskan bahwa transisi energi dipahami secara plural sebagai langkah kebijakan yang beragam, yang mengacu pada situasi nasional, kapasitas teknologi dan sosial-ekonomi, serta tantangan geografi.

Terkait hal tersebut, Indonesia juga sedang menyiapkan rencana jangka panjang untuk beralih dari pembangkit batubara ke pembangkit yang lebih bersih, dengan mempertimbangkan aspek-aspek teknologi serta sosial-ekonomi.

Pada penyelenggaraan kali ini, pihak Italia mengombinasikan persidangan hybrid, dengan sebagian besar peserta hadir secara fisik. Selain Indonesia, tercatat sejumlah G20 lainnya menghadiri secara virtual, yaitu China, India, dan Australia.

G20 merupakan forum multilateral 20 ekonomi terbesar dunia, yang terdiri atas 19 negara dan Uni Eropa. Indonesia merupakan satu-satunya negara ASEAN di G20. Isu transisi energi dan iklim merupakan isu yang beberapa tahun belakangan menjadi perhatian serius dan dibahas secara alot di forum G20. 

 

(*)

 

Tag Terkait

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya