Megawati Minta BMKG Terus Perbarui Peta Rawan Bencana bagi Petani dan Nelayan

Oleh Putu Merta Surya Putra pada 14 Sep 2020, 13:04 WIB
Diperbarui 14 Sep 2020, 13:04 WIB
Megawati Sukarnoputri
Perbesar
Ketua Umum DPP PDIP, Megawati Sukarnoputri (Liputan6.com/Helmi Fitriansyah)

Liputan6.com, Jakarta Presiden RI Kelima yang juga Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri berharap, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus memperbaharui dan memperbaiki distribusi peta rawan bencana serta informasi cuaca, terlebih untuk kepentingan petani, nelayan, maupun mitigasi kebencanaan nasional.

Adapun pesan ini disampaikan dalam acara Pembukaan Bersama Sekolah Lapang BMKG Tahun 2020 yang dilaksanakan secara virtual, di Jakarta, Senin (14/9/2020), oleh Sekretaris Jenderal DPP PDIP Hasto Kristiyanto yang mewakili Megawati.

"Ibu Megawati selalu mengingatkan soal pentingnya BMKG dan seluruh informasi yang diberikan, bagaimana BMKG mampu memberikan informasi dengan aplikasi iptek yang dapat memberikan prakiraan cuaca secara dini, yang berkaitan dengan keberhasilan masa tanam, keselamatan nelayan, hingga edukasinya," kata Hasto.

Dia menuturkan, Megawati meminta BMKG bisa terus mengeluarkan peta daerah rawan, dengan bekerja sama dengan para peneliti cuaca dan perguruan tinggi lainnya, guna membantu masyarakat.

"Dan kami harap BMKG bisa mengerjakan kerja sama penelitian cuaca bersama Perguruan tinggi, sehingga penerapan teknologi modern untuk kepentingan petani nelayan dapat ditingkatkan," kata Hasto yang menyampaikan pesan Megawati.

Pada pesan itu disebutkan pentingnya potensi titik api yang bisa diinformasikan dari BMKG agar bisa masyarakat mempercepat mitigasi bencana kebakaran hutan. Kemudian memetakan daerah rawan likuifaksi, demi mencegah bencana seperti yang pernah terjadi di Kota Palu.

Sebab, bagi PDIP, peta bencana dari BMKG sangat dibutuhkan oleh para kepala daerah dalam menjabarkan peta ruang dan tata kota. PDIP sendiri memastikan bahwa semua kepala daerah dari partainya untuk selalu membasiskan tata kota wilayahnya berbasis pengetahuan di peta rawan bencana dikeluarkan BMKG.

"Seluruh peta bencana BMKG akan dijabarkan dalam peta ruang, arsitektur, dalam sistem desain rumah tahan gempa misalnya, sistem tata kota, sistem irigasi, perencanaan yang semesta sehingga kita sebagai bangsa sadar persoalan iklim dan bencana," jelas Hasto.

Megawati juga mengharapkan agar rakyat Indonesia dan badan seperti BMKG bersedia belajar dari bangsa lain seperti Jepang dan China. Negara-negara itu dianggap berhasil membangun kesadaran rakyatnya akan kerawanan bencana.

 

2 dari 3 halaman

Berjuang Keras

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam acara Pembukaan Bersama Sekolah Lapang BMKG Tahun 2020.
Perbesar
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam acara Pembukaan Bersama Sekolah Lapang BMKG Tahun 2020. (Foto: Istimewa).

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan, melalui sekolah lapang BMKG pihaknya berjuang keras untuk membantu masyarakat Indonesia.

"Melalui sekolah lapang BMKG, baik sekolah lapang iklim, cuaca nelayan, geofisika, maka kami berupaya berjuang keras agar para petani, nelayan, dan masyarakat umum mampu bertahan, mampu selamat, beradaptasi dengan kondisi cuaca dan geofisika tersebut," kata Dwikorita.

"Bahkan dalam kondisi tersebut, petani, nelayan, masih mampu melaksanakan kegiatan produktif menghasilkan pangan, pelayaran, dan masyarakat mampu tetap tangguh dalam kondisi rentan ini," lanjut dia.

Ditambahkan Dwikorita, pihaknya memerlukan mediator untuk menyampaikan informasi cuaca yang meliputi kepentingan petani, nelayan, dan penanggulangan bencana.

"Sekolah Lapang BMKG ini diperlukan agar pemanfaatan informasi dari BMKG bisa optimal dan mengurangi kesalahpahaman," tukasnya.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓