Waspada Hoaks, Kemenkominfo Gelar Pelatihan Cara Periksa Fakta Sederhana

Oleh Liputan6.com pada 11 Agu 2022, 21:30 WIB
Diperbarui 12 Agu 2022, 20:37 WIB
[Bintang] Ilustrasi Main Handphone atau Smartphone
Perbesar
Simak 5 hal terbaik yang akan terjadi kalau kamu berhenti main media sosial. (Sumber Foto: Shutterstock/The List)

Liputan6.com, Jakarta - Pada Rabu 10 Agustus 2022, generasi muda Maluku-Papua mendapatkan pelatihan tentang 'Periksa Fakta Sederhana' dari Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo).

Pelatihan tersebut diisi oleh Dosen Sekolah Tinggi Teknologi Indonesia Nur Rahma Yenita menjelaskan dari sudut pandang kecakapan digital, Fashion Director SofiaDewi.co sekaligus Content Creator Sofia Sari Dewi dari sudut pandang etika digital, serta Influencer Adelita melengkapi pemaparan dari sudut pandang etika digital. Acara dimoderatori oleh Eddie Bingky.

Pelatihan digelar secara virtual atau online (daring) oleh para peserta dari siswa SMAS Sorong dan SMPN 1 Ternate dengan nonton bareng.

Diskusi virtual oleh kemenkominfo tersebut, dihadiri oleh kurang lebih 250 peserta dari , selama 120 menit dimulai dari 10.00 - 12.00 WIT.

Dalam paparannya, Dosen Sekolah Tinggi Teknologi Indonesia Nur Rahma Yenita menjelaskan soalnya penyebab yang bisa membuat berita atau kabar hoaks tersebar.

"Sedikitnya ada tiga penyebab gangguan informasi yang menghasilkan tersebarnya hoaks, yaitu konteks yang salah, konten tiruan, konten yang dimanipulasi, dan konten rekaan," ujar Rahma yang disampaikan melalui keterangan tertulis, Kamis (11/8/2022).

"Tapi ada beberapa cara untuk mengatasi dan memeriksa fakta dengan sederhana, seperti: Kunjungi situs https://toolbox.google.com/factcheck/explorer, lalu Ketik cek fakta apa yang ingin Anda cari dan temukan pada search bar, Klik tombol pencarian pada sisi kanan atau tekan enter, dan hasil pencarian akan muncul," sambung Rahma.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Maraknya Konten yang Langgar Aturan

[Bintang] Gara-gara Sibuk Main Hp, Wanita Ini Akhirnya Meninggal Dunia
Perbesar
Jangan hanya berfokus pada layar handphone, tapi cobalah untuk melihat sekeliling kamu. (Ilustrasi: timedotcom.files.wordpress.com)

Tidak hanya hoaks, marak juga konten-konten yang dibuat menyalahi aturan, tidak adanya batas privasi, melanggar hak cipta dan karya intelektual, serta menimbulkan ketidaknyamanan di masyarakat.

Makin rentan berita dan informasi di ranah digital saat ini, Kemenkominfo ingin generasi muda Indonesia semakin cakap digital, sehingga konten-konten yang dihasilkan lebih taat peraturan dan sesuai dengan norma yang berlaku.

Menurut Fashion Director SofiaDewi.co sekaligus Content Creator Sofia Sari Dewi, maraknya berita miring dan palsu tersebar bebas di media digital, cukup meresahkan masyarakat dari berbagai lapisan, mulai anak-anak, remaja, bahkan dewasa dan orang tua.

"Tak terhingga banyaknya informasi yang beredar di internet setiap harinya. Namun baiknya, kita sebagai makhluk sosial tetap memiliki etika dan tatakrama dalam penggunaan internet. Di antaranya paham dan sadar bahwa kita berinteraksi dengan manusia nyata di jaringan yang lain bukan sekedar layar dan jejeran huruf," kata Sofia.

"Untuk itu pentingnya kita memeriksa fakta dari informasi yang kita dapatkan dengan mengikuti komunitas hoaks, memeriksa dengan tools yang disediakan, serta menghindari speech. Agar kita menjadi generasi yang #MakinCakapDigital atau bisa disebut Netizen Asyik," sambung dia.

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS


Hati-Hati dalam Dunia Digital

ponsel
Perbesar
ilustrasi perempuan main handphone/Photo by picjumbo.com from Pexels

Sofia menambahkan, beretika di media internet memang rentan dengan hate speech atau ujaran kebencian yang mudah sekali menularkan pada orang sekitar.

"Di tengah banyaknya konten negatif, ada juga lho etika untuk bertindak dalam menerima seperti menganalisis dulu konten negatif saat diterima, verifikasi konten negatif, engga perlu mendistribusikan konten negatif, dan terakhir kita saring dan kita ciptakan konten positif lalu kita sebarkan ke masyarakat. Agar semua terpapar dengan konten positif dan informasi positif," papar Sofia.

Dia menegaskan, sebagai masyarakat yang punya hak menggunakan media digital, rupanya memang tidak sebebas yang dipikirkan sebab ada juga batasan dan norma.

"Hak kita sebagai pengguna media digital antara lain hak untuk berekspresi, hak untuk mengakses, dan hak untuk merasa aman dari konten yang kita ciptakan. Namun, jelas ada hak ada juga tanggung jawab yang kita bawa sebagai pengguna media digital yakni menjaga reputasi orang lain dan menjaga keamanan nasional serta moral publik," jelas Sofia.

 


Pentingnya Etika dalam Dunia Digital

[Fimela] WhatsApp
Perbesar
Ilustrasi Media Sosial dan Aplikasi Chat | unsplash.com/@christianw

Sementara itu, Influencer Adelita mengatakan, ada banyak cara menyaring informasi untuk mengetahui hal-hal yang benar atau tidak.

"Dengan beragam cara bijak untuk bertindak dalam menerima informasi di ranah digital, kita menyelamatkan banyak konten creator dari pembajakan dan berita miring dari ciptaan pihak tidak bertanggung jawab. Semakin banyak orang yang paham akan cara-cara memeriksa fakta dari informasi yang diterima tentu akan semakin banyak masyarakat yang kebal akan hoaks di Indonesia," terang Adelita.

Para narasumber memaparkan pelatihan tentang pentingnya 'Periksa Fakta Sederhana' agar anak-anak Maluku-Papua #MakinCakapDigital.Berangkat dari kemudahan mendapatkan informasi yang diperoleh para pengguna media digital di seluruh dunia, lalu maraknya berita hoaks dimana-mana yang semakin menghawatirkan. Kemenkominfo pun mengadakan pelatihan mengenai 'Periksa Fakta Sederhana' di ranah digital, khususnya para generasi muda Maluku-Papua.

Jenis penipuan atau hoaks di media sosial beragam macamnya, jumlah korban pun bertambah setiap harinya tanpa pandang umur. Pentingnya memeriksa fakta sebelum menyebarkan berita dan ambil tindakan dari sebuah informasi yang diterima, menjadi suatu hal sederhana namun sering terlupakan untuk sebagian orang.

Data Kemenkominfo menyebutkan, sedikitnya ada 800.000 situs di Indonesia yang telah terindikasi sebagai penyebar informasi palsu. Tercatat juga, sedikitnya 132,7 juta orang menggunakan internet dan menjadi korbannya.

Infografis Cek Fakta
Perbesar
Infografis Cek Fakta: 6 Tips Cara Identifikasi Hoaks dan Disinformasi di Medsos
Lanjutkan Membaca ↓

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya