Ma'ruf Amin: Angka Kemiskinan Berpotensi Kembali ke Kondisi 2011

Oleh Liputan6.com pada 01 Sep 2020, 11:32 WIB
Diperbarui 01 Sep 2020, 13:44 WIB
Wakil Presiden Ma'ruf Amin  saat menghadiri Silaturahmi Kerja Nasional Masyarakat Ekonomi Syariah di JCC Senayan, Jakarta, Jumat (15/11/2019).
Perbesar
Wakil Presiden Ma'ruf Amin saat menghadiri Silaturahmi Kerja Nasional Masyarakat Ekonomi Syariah di JCC Senayan, Jakarta, Jumat (15/11/2019).

Liputan6.com, Jakarta Wakil Presiden Ma'ruf Amin mengatakan pengentasan kemiskinan di Indonesia mengalami kemunduran.

Hal tersebut menurutnya ditandai dengan potensi peningkatan angka kemiskinan mencapai 11,5 persen pada akhir tahun 2020, apabila penanganan COVID-19 tidak berjalan optimal.

"Angka kemiskinan masih berpotensi meningkat lagi menjadi 11,5 persen pada akhir tahun ini, atau kembali ke kondisi pada tahun 2011, apabila upaya penanganan COVID-19 dan pemulihan ekonomi tidak berjalan sesuai harapan," jelas Ma'ruf dalam sambutannya pada Simposium Nasional Universitas Hasanuddin Makassar, yang diselenggarakan virtual, Selasa (1/9/2020) dilansir Antara.

Sejak diberlakukanya kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), Ma'ruf menyebutkan jumlah warga miskin di Indonesia bertambah lebih dari 1,6 juta orang dari data kemiskinan pada September 2019.

"Bila kita lihat angka kemiskinan pada Maret 2020, seiring dengan terjadinya pandemi COVID-19, maka jumlah warga miskin telah meningkat menjadi 26,42 juta orang atau 9,78 persen, dibandingkan dengan data bulan September 2019 yang berjumlah 24,79 juta orang atau 9,22 persen," katanya dalam seminar tentang Kesehatan, Ketahanan Pangan dan Kemiskinan tersebut.

Untuk mencegah kemunduran semakin jauh, Ma'ruf mengatakan Pemerintah tengah melakukan berbagai upaya untuk melindungi kesejahteraan masyarakat.

Antara lain dengan memberikan bantuan sosial berupa Program Keluarga Harapan (PKH), Program Sembako, Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), Bantuan Langsung Tunai (BLT) Dana Desa, dan Bantuan Tagihan Listrik.

"Pemerintah juga telah memperluas cakupan penerima bantuan dari yang sebelumnya 25 persen rumah tangga dengan kondisi sosial ekonomi terbawah, menjadi 40 persen terbawah. Alokasi anggaran perlindungan sosial ini berjumlah Rp 203,9 triliun," jelas Wapres Ma'ruf Amin

 

 

2 dari 3 halaman

Banpres dan Subsidi Upah

Untuk menyasar kategori masyarakat rumah tangga terbawah tersebut, Pemerintah kini telah meluncurkan dua program bantuan baru, yakni Bantuan Presiden (Banpres) Produktif Usaha Mikro dan program Subsidi Upah.

Banpres Produktif Usaha Mikro ditujukan untuk 9,12 juta usaha mikro kecil (UMK) dengan total anggaran Rp 22 triliun. Sementara, subsidi upah diberikan untuk 15,7 juta pekerja dengan anggaran Rp 37,78 triliun.

Ma'ruf Amin berharap anggaran yang sangat besar untuk berbagai program bansos tersebut akan berkurang seiring dengan berakhirnya pandemi COVID-19 dan pulihnya ekonomi nasional.

"Anggaran bansos yang sangat besar ini diharapkan akan jauh berkurang setelah pandemi COVID-19 mereda. Pemerintah selanjutnya akan lebih menekankan kepada program pemberdayaan dalam rangka menanggulangi kemiskinan," ujarnya.

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓