6 Pidato Kenegaraan Jokowi Gelorakan Semangat Indonesia Hadapi Pandemi

Oleh Devira Prastiwi pada 14 Agu 2020, 16:06 WIB
Diperbarui 14 Agu 2020, 23:35 WIB
Presiden Jokowi mengenakan baju adat Sabu dari Nusa Tenggara Timur (NTT) saat menghadiri sidang tahunan MPR, Jumat (14/8/2020).
Perbesar
Presiden Jokowi mengenakan baju adat Sabu dari Nusa Tenggara Timur (NTT) saat menghadiri sidang tahunan MPR, Jumat (14/8/2020). (dok Biro Pers Sekretariat Presiden)

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Joko Widodo atau Jokowi menyampaikan Pidato Kenegaraan Sidang Tahunan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2020).

Salah satu poin yang disampaikan Jokowi adalah menggelorakan semangat penanganan pandemi Corona Covid-19 di Indonesia.

Menurut Jokowi, saat ini 215 negara di dunia terkena dampak Corona Covid-19, tak terkecuali Indonesia.

"Sebanyak 215 negara, tanpa terkecuali, sedang menghadapi masa sulit diterpa pandemi Covid-19. Semua negara, negara berkembang, termasuk negara maju, semuanya sedang mengalami kemunduran karena terpapar Covid-19. Krisis perekonomian dunia juga terparah dalam sejarah," ujar Jokowi.

Selain itu, Jokowi juga memberikan apresiasinya kepada seluruh tenaga medis yang telah berjuang melawan pandemi Covid-19 di Indonesia.

Mantan Gubernur DKI Jakarta ini menilai, perjuangan untuk menghambat penyebaran Covid-19, mengobati yang sakit, dan mencegah kematian sudah luar biasa dilakukan.

Berikut 6 pidato kenegaraan Jokowi gelorakan semangat penanganan Corona Covid-19 di Indonesia dihimpun Liputan6.com:

 

2 dari 8 halaman

Indonesia Kejar Ketertinggalan

Jokowi Bicara Perkembangan Fintech di IMF-Bank Dunia 2018
Perbesar
Presiden Joko Widodo saat berpidato dalam Bali Fintech Agenda IMF-WB 2018 di Nusa Dua, Bali, Kamis (11/10). Jokowi mengaku mengacu pada kebijakan Amerika Serikat (AS) yang merupakan negara kelahiran internet. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Presiden Jokowi mengatakan, 215 Negara di Dunia terkena dampak Covid-19. Tak terkecuali Indonesia. Menurut dia, salah satu yang paling dirasakan adalah melambatkan pertumbuhan ekonomi.

"Sebanyak 215 negara, tanpa terkecuali, sedang menghadapi masa sulit diterpa pandemi Covid-19. Semua negara, negara berkembang, termasuk negara maju, semuanya sedang mengalami kemunduran karena terpapar Covid-19. Krisis perekonomian dunia juga terparah dalam sejarah," kata Jokowi di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, pada Jumat (14/8/2020).

Jokowi membeberkan analisis perekonomian Indonesia. Di kuartal pertama 2020, pertumbuhan ekonomi masih plus 2,97 persen, tapi di kuartal kedua minus 5,32 persen.

Menurut Jokowi, Indonesia nyaris senasib dengan negara-negara maju lain.

"Ekonomi negara-negara maju bahkan minus belasan persen, sampai minus 17 persen," ujar dia.

Jokowi menyambut hangat seruan moral penuh kearifan dari para ulama, para pemuka agama, dan tokoh-tokoh budaya agar menjadikan momentum musibah pandemi ini sebagai sebuah kebangkitan baru melakukan lompatan besar.

"Inilah saatnya kita membenahi diri secara fundamental, melakukan transformasi besar, menjalankan strategi besar. Strategi besar di bidang ekonomi, hukum, pemerintahan, sosial, kebudayaan, termasuk kesehatan dan pendidikan," ucap dia.

"Saatnya bajak momentum krisis untuk melakukan lompatan-lompatan besar. Pada usia ke-75 tahun ini, kita telah menjadi negara Upper Middle Income Country. 25 tahun lagi, pada usia seabad Republik Indonesia, kita harus mencapai kemajuan yang besar, menjadikan Indonesia Negara Maju," sambung Jokowi.

Jokowi melihat situasi ini sebagai peluang dan momentum bagi Indonesia untuk mengejar ketertinggalan.

Ibarat komputer, perekonomian semua negara saat ini sedang macet, sedang hang. Semua negara harus menjalani proses mati komputer sesaat, harus melakukan re-start, harus melakukan re-booting.

"Semua negara mempunyai kesempatan men-setting ulang semua sistemnya," ucap dia.

 

3 dari 8 halaman

Jadikan Momen Pandemi sebagai Batu Loncatan

Presiden Jokowi mengenakan baju adat Sabu dari Nusa Tenggara Timur (NTT) saat menghadiri sidang tahunan MPR, Jumat (14/8/2020). (dok Biro Pers Sekretariat Presiden)
Perbesar
Presiden Jokowi mengenakan baju adat Sabu dari Nusa Tenggara Timur (NTT) saat menghadiri sidang tahunan MPR, Jumat (14/8/2020). (dok Biro Pers Sekretariat Presiden)

Jokowi memaknai pandemi Covid-19 sebagai momentum untuk membajak krisis dengan melakukan lompatan besar. Salah satunya dengan dinobatkannya Indonesia sebagai negara berpenghasilan menengah ke atas.

"Saatnya kita bajak momentum krisis untuk melakukan lompatan-lompatan besar. Pada usia ke-75 tahun ini, kita telah menjadi negara Upper Middle Income Country," ujar Jokowi.

Menurut Jokowi, perjuangan Indonesia di usia ke-75 ini tak lepas dari seruan moral penuh kearifan dari para ulama, para pemuka agama, dan tokoh-tokoh budaya. Sehingga, agar menjadikan momentum musibah pandemi ini sebagai sebuah kebangkitan baru.

"Inilah saatnya kita membenahi diri secara fundamental, melakukan transformasi besar, menjalankan strategi besar," jelas Jokowi.

Jokowi merinci, strategi besar dimaksud ada di beragam bidang, mulai dari ekonomi, hukum, pemerintahan, sosial, kebudayaan, termasuk kesehatan dan pendidikan. Sehingga pada genap di usia ke-100, Indonesia bisa menjadi negara maju.

"Pada 25 tahun lagi, pada usia seabad Republik Indonesia, kita harus mencapai kemajuan yang besar, menjadikan Indonesia Negara Maju," Jokowi menandasi.

 

4 dari 8 halaman

Reformasi Sektor Kesehatan Harus Dipercepat

Alat Kesehatan (iStockphoto)
Perbesar
Ilustrasi anak kesehatan (iStockphoto)

Jokowi menyampaikan apresiasinya kepada seluruh tenaga medis yang telah berjuang melawan pandemi Covid-19 di Indonesia.

Menurutnya, perjuangan untuk menghambat penyebaran Covid-19, mengobati yang sakit dan mencegah kematian sudah luar biasa dilakukan.

"Atas nama rakyat, bangsa dan negara, saya menyampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada dokter dan perawat, seluruh petugas di RS, laboratorium, klinik kesehatan dan di rumah isolasi, tokoh masyarakat, relawan, awak media, TNI Polri dan ASN di pusat dan daerah," ujar Jokowi.

Menurutnya, pandemi Covid-19 ini menyadarkan Indonesia agar segera memperbaiki kualitas pelayanan kesehatan yang lebih merata dan lebih kuat.

"Ketahanan dan kapasitas pelayanan kesehatan harus kita tingkatkan secara besar-besaran," kata dia.

Untuk itu, Jokowi mendorong percepatan reformasi fundamental di sektor kesehatan. Reformasi tersebut harus berorientasi pada pencegahan penyakit dan pola hidup sehat. Lalu, kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) hingga pengadaan obat dan alat kesehatan harus ditingkatkan.

"Penguatan kapasitas SDM, pengembangan rumah sakit dan balai kesehatan serta industri obat dan alat kesehatan harus diprioritaskan," tutup Jokowi.

 

5 dari 8 halaman

Indonesia Tak Hanya Cukup Bebas dari Pandemi

Dedikasi Tenaga Medis Perangi Corona di Italia
Perbesar
Seorang perawat mengenakan peralatan kerjanya untuk memulai shift di rumah sakit Cremona, tenggara Milan, Lombardy, 12 Maret 2020. Para pekerja kesehatan Italia kelelahan setelah selama bermingu-minggu mereka yang berada di garda terdepan memerangi pandemi virus corona. (Paolo MIRANDA/AFP)

Jokowi menyatakan Indonesia siap menuju usia satu abad. Menurut dia, momentum pandemi Covid-19 yang menyebabkan krisis adalah momentum untuk mengambil langkah yang lebih besar lagi.

"Masih tersedia waktu 25 tahun lagi, krisis memberikan momentum bagi kita untuk mengejar ketertinggalan, untuk melakukan transformasi besar, dengan melaksanakan strategi besar," tegas Jokowi.

Jokowi mengatakan, Indonesia memiliki waktu 25 tahun lagi sebelum memasuki usia kemerdekaan satu abad. Dia berharap, pada saat itu, keadaan Indonesia sudah jauh lebih baik.

Oleh karena itu, saat ini merupakan waktu yang harus digunakan untuk membangun Indonesia sesuai yang dicita-citakan masyarakat.

"Target kita saat ini bukan hanya lepas dari pandemi, bukan hanya keluar dari krisis. Langkah kita adalah melakukan lompatan besar memanfaatkan momentum krisis yang saat ini sedang terjadi," yakin dia.

Jokowi mengajak kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk bersama pecahkan masalah fundamental yang tengah dihadapi. Caranya, dengan lompatan besar untuk kemajuan yang signifikan.

"Kita harus bajak momentum krisis ini. Kita harus serentak dan serempak memanfaatkan momentum ini," dia menandasi.

 

6 dari 8 halaman

Pelajaran dari Krisis Pandemi Bisa Diambil

Ilustrasi coronavirus, virus corona, koronavirus, Covid-19
Perbesar
Ilustrasi coronavirus, virus corona, koronavirus, Covid-19. Kredit: Fernando Zhiminaicela via Pixabay

Jokowi meminta semua pihak tak menyia-nyiakan pelajaran dari krisis yang tengah dihadapi oleh Indonesia.

"Jangan sia-siakan pelajaran yang diberikan oleh krisis," kata Jokowi.

Dia meminta krisis ini tak membuat mundur Indonesia. Tapi justru, lanjut dia, bisa dijadikan momentum untuk maju.

"Jangan biarkan krisis membuahkan kemunduran. Justru momentum krisis ini harus kita bajak untuk melakukan lompatan kemajuan," ungkap Jokowi.

Jokowi menyebutkan, krisis ini mengubah pola masyarakat dalam bekerja.

"Krisis ini telah memaksa kita untuk menggeser channel cara kerja," kata Jokowi.

Menurut dia, memang ada perubahan yang terjadi selama krisis. misalnya, dari normal menjadi cara yang agak berbeda.

Jokowi menegaskan, saat ini yang sangat dibutuhkan adalah fleksibilitas, kecepatan, dan ketepatan sangat dibutuhkan. Kemudian memprioritasikan efisiensi, kolaborasi, dan penggunaan teknologi harus diprioritaskan. Juga meningkatkan kedisiplinan nasional dan produktivitas nasional.

"Pola pikir dan etos kerja kita harus berubah," tutup Jokowi.

 

7 dari 8 halaman

Pemerintah Terus Berusaha Bantu Rakyat

Kelemahan Virus Corona
Perbesar
Ilustrasi Pandemi Covid-19 Credit: pexels.com/cottonbro

Jokowi mengatakan, tak mudah menangani krisis akibat pandemi Covid-19. Terlebih, krisis kesehatan akibat Covid-19 ini berdampak pada krisis ekonomi.

"Semuanya harus dilakukan secara cepat, dalam waktu yang sangat singkat. Ketika krisis kesehatan tersebut berdampak pada perekonomian nasional, kita juga harus cepat bergerak," ujar Jokowi.

Pada bidang kesehatan, pemerintah mengevakuasi WNI yang berada di wilayah pandemi, menyiapkan rumah sakit, tempat isolasi, obat-obatan, alat kesehatan, hingga menerapkan protokol kesehatan.

Sementara dalam menangani krisis ekonomi, pemerintah memberikan bantuan sosial (bansos) kepada masyarakat yang terdampak pandemi Covid-19.

Mulai dari, bantuan sembako, bansos tunai, subsidi dan diskon tarif listrik, BLT desa, hingga subsidi gaji. Kemudian, membantu tenaga kerja yang terkena PHK.

"Sesuatu yang tidak mudah," ucap Jokowi.

Untuk itu, pemerintah melakukan perubahan rumusan program agar sesuai dengan situasi terkini.

Misalnya, melakukan realokasi anggaran dalam waktu singkat dan menerbitkan Perppu No.1 Tahun 2020, yang kemudian disetujui oleh DPR menjadi UU No.2 Tahun 2020.

Jokowi pun berterima kasih atas dukungan dari Pimpinan dan Anggota lembaga-lembaga negara yang bekerja extraordinary di situasi krisis akibat pandemi Covid-19. Menurut dia, situasi kriris ini harus dijadikan momentum untuk meninggalkan cara kerja yang lama.

"Kita beruntung dan berterima kasih atas dukungan dan kerja cepat dari Pimpinan dan Anggota lembaga- lembaga negara yang melakukan langkah-langkah extrordinary dalam mendukung penanganan krisis dan membajak momentum krisis untuk menjalankan strategi-strategi besar bangsa," tutur Jokowi.

8 dari 8 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓