Special Content: Vaksin Covid-19, di Antara Keraguan dan Ekspektasi Tinggi

Oleh Huyogo SimbolonWindi.WicaksonoJonathan Pandapotan Purba pada 14 Agu 2020, 12:00 WIB
Diperbarui 14 Agu 2020, 17:32 WIB
Menanti Vaksin Covid-19 (Liputan6.com / Abdillah)
Perbesar
Menanti Vaksin Covid-19 (Liputan6.com / Abdillah)

Liputan6.com, Jakarta - Vaksin untuk virus corona penyebab Covid-19 menjadi hal yang paling dinantikan masyarakat dunia. Banyak negara di dunia, termasuk Indonesia terus melakukan penelitian untuk membuat vaksin Covid-19.

Sampai hari ini, belum ada satu pun negara yang telah memproduksi massal vaksin Covid-19. Negara-negara yang tengah berusaha membuat vaksin tersebut masih dalam tahap pengembangan.

Puluhan sampai ratusan kandidat vaksin Covid-19 sedang masuk uji klinis, tapi fasenya berbeda-beda. Pengembangan vaksin sendiri diketahui memang memerlukan tahapan yang cukup lama.

Untuk mengembangkan vaksin, tahapan yang diperlukan memakan waktu yang tidak sebentar. Diawali dengan proses pengembangan kandidat vaksin, kemudian masuk tahap uji yang meliputi uji praklinis pada hewan.

Setelah uji praklinis beres, dilanjutkan dengan pengajuan izin ke Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Usai mengantongi izin, baru bisa lanjut ke uji klinis fase 1 pada manusia. Jika lolos uji klinis fase 1, maka dilakukan pengajuan izin untuk dapat lanjut ke uji klinis tahap 2.

Hal yang sama diterapkan untuk bisa masuk uji klinis tahap 3 pada manusia, sampai akhirnya memperoleh izin edar dari BPOM dan lisensi vaksin untuk dapat diproduksi secara massal. Tidak sampai di situ, setelah vaksin diedarkan, pemantauan masih harus dilakukan untuk melihat terkait potensi, keamanan dan kemungkinan terjadinya kejadian medis yang tidak diinginkan.

Menurut Epidemiologi Universitas Indonesia, Pandu Riono, banyaknya negara maju yang berlomba membuat vaksin Covid-19, justru dikhawatirkan bisa menjadi penghambat.

"Seharusnya semua vaksin dikoordinasikan oleh WHO. Kalau sekarang setiap negara berloma-lomba bikin vaksin, itu bisa menghambat, karena harusnya butuh kerjasama. Tidak mudah buat vaksin, harusnya kerjasama semua dunia," kata Pandu kepada Liputan6.com.

"Nanti kalau ada yang merasa punya vaksin, mereka akan memprioritaskan negaranya sendiri. Jadi, vaksinnya bersifat nasional. Kita ingin ada vaksin bersifat dunia. Jadi, walaupun negaranya miskin, bisa mendapatkan vaksin."

Saat ini, Rusia menjadi negara pertama di dunia, yang mengumumkan bahwa vaksin Covid-19 yang mereka kembangkan telah rampung dan lolos seluruh fase uji klinis di negaranya. Rusia mendaftarkan vaksin Covid-19 pertama di dunia itu yang bernama Sputnik V itu pada 12 Agustus 2020. Tapi, baru pada Oktober mendatang vaksinasi massal dilakukan Negeri Beruang Merah tersebut.

Lalu, di mana posisi Indonesia dalam penelitian vaksin Covid-19 sejauh ini? Indonesia juga ikut berlomba bikin vaksin. Tapi, menurut Pandu Riono, tarafnya baru pengembangan. Pemerintah Indonesia bekerja sama dengan kandidat vaksin Covid-19 dari perusahaan Tiongkok bernama Sinovac, yang rencananya akan diproduksi massal Bio Farma.

"Kita (Indonesia) pakai jalan pintas, kerjasama dengan vaksin yang sudah jadi kandidat masuk fase 3. Tapi, kita tidak tahu kerjasama Bio Farma dan Sinovac seperti apa. Apa beli lisensi dari Sinovac, tidak ada yang tahu? Dan itu pun masih kandidat," ujar pria lulusan University of Pittsburgh itu.

2 dari 6 halaman

Pengembangan Vaksin Covid-19 di Indonesia

Jokowi, Vaksin COVID-19,Vaksin Corona Sinovac, Corona, COVID-19, Corona COVID-19
Perbesar
Presiden Jokowi melihat langsung uji klinis Vaksin COVID-19 atau Vaksin Corona Sinovac. Tampak, Menteri Kesehatan RI Terawan Agus Putranto dan Menteri BUMN Erick Tohir mendampingi Presiden Jokowi. (Foto: Sekretariat Presiden)

Pemerintah Indonesia sesungguhnya memilih dua jalan untuk mendapatkan vaksin Covid-19. Yang Pertama, dengan melakukan penelitian dan memproduksi vaksin secara mandiri alias tanpa kerjasama dengan negara lain. Lembaga Biologi Molekuler Eijkman ditunjuk pemerintah untuk melakukan penelitian untuk membuat antigen Covid-19.

Yang kedua, membeli kandidat vaksin dari negara yang telah memproduksinya lebih dulu, seperti Tiongkok dengan Sinovac. Tim riset Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (Unpad) memastikan uji klinis fase tiga vaksin Covid-19 Sinovac secara paralel mulai 11 Agustus 2020. Sementara Bio Farma menjadi calon produsen vaksin Covid-19 di Indonesia.

Presiden Joko Widodo telah meninjau langsung fasilitas Bio Farma yang akan digunakan untuk memproduksi vaksin Covid-19 di Jalan Pasteur, Kota Bandung, Jawa Barat. Jokowi juga mendatangi salah satu lokasi uji klinis 3 vaksin Covid-19 di RSP Unpad, Kota Bandung.

Bio Farma merupakan BUMN produsen Vaksin dan Antisera, yang sekarang berkembang menjadi perusahaan Life Science. Selain dari Tiongkok, pemerintah Indonesia juga membeli prototipe vaksin Covid-19 dari Inggris dan Norwegia.

Ilmuwan Sinovac Biotech, Qiang Gao, memimpin penelitian ilmiah di Tiongkok dan mengembangkan vaksin Covid-19 dengan menggunakan strain CN-2 sebagai virus inaktif. 35 Ilmuwan Tiongkok itu juga sudah mempublikasikan jurnal ilmiah internasional dengan judul "Development of an inactivated vaccine candidate for SARS-CoV-2."

Dalam jurnal itu, para ilmuwan Tiongkok memakai 11 isolat virus, yang bakal menjadi kandidat untuk vaksin Covid-19. Dari 11 isolat itu, 5 berasal dari Tiongkok, 3 dari Italia, 1 dari Spanyol, 1 dari Inggris, dan 1 dari Swiss.

Kandidat vaksin Covid-19 Sinovac, telah melalui uji klinis fase satu dan dua di negara asalnya. Untuk uji klinis ketiga, pemerintah Indonesia memercayakan prosesnya kepada Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (Unpad) dan Bio Farma.

Bio Farma menargetkan produksi vaksin Covid-19 dapat dimulai pada Januari 2021. Tapi, itu dengan syarat setelah hasil uji klinis fase tiga keluar dan ada izin edar serta lisensi dari BPOM. Apabila uji klinis 3 vaksin Covid-19 berhasil dilakukan Bio Farma, tenaga medis di Indonesia akan menjadi prioritas pemberian vaksin.

Selain Indonesia, Brasil, Bangladesh, India, dan Turki juga menguji klinis fase tiga Sinovac. Menurut Ketua Tim Riset Uji Klinis Vaksin Covid-19 Fakultas Kedokteran Unpad, Profesor Kusnandi Rusmil, hasil penelitian uji klinis fase tiga dari lima negara itu akan digabung untuk mendapatkan yang terbaik.

Kusnandi juga menepis anggapan penelitian vaksin Covid-19 Sinovac dipercepat. Sebab, dia menyatakan, fase-fase yang dilalui sudah ideal dan memenuhi persyaratan untuk diuji klinis fase tiga.

Menurut Kusnandi, banyaknya orang yang sakit dan meninggal karena obat Covid-19 belum ada. Pencegahan agar tidak tertular juga belum ada, sehingga dia berpendapat, harus secepat mungkin dicari vaksinnya.

"Bahan vaksinnya kan sudah diambil di Wuhan. Sudah ketemu kumannya di Wuhan. Pertama kali kan virusnya di Wuhan. Setelah itu di Wuhan dilakukan uji klinis fase 1 dengan maksimal sampai 200 orang dan dilihat keamanan dan Imunogenisitasnya," papar Kusnandi kepada Liputan6.com.

Dia menambahkan, "Fase 2 sama juga, tapi diuji klinis lebih besar lagi, sampai 400 orang. Dilihat juga keamanannya dan Imunogenisitasnya. Fase 3 harus lebih besar lagi, ribuan orang yang diuji klinis. Tapi, selain keamanan dan imunogenisitasnya, efikasinya juga harus dilihat."

Pria kelahiran Payakumbuh, Sumatera Barat ini, menjelaskan, setelah lolos fase 3, kandidat vaksin Covid-19 mesti masuk Multi Center. Apabila di Multi Center bagus, tinggal menunggu izin dari BPOM dan WHO supaya vaksin bisa dijual.

"Mungkin Januari belum bisa diproduksi, Februari lah. Saya harus buat laporan ke Bio Farma setelah uji klinis fase 3. Bio Farma juga harus melaporkan ke Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes). Baru nanti Litbangkes yang menentukan vaksin ini bisa beredar apa tidak," terang Kusnandi.

"Apabila memperoleh persetujuan dari Litbangkes, setelah itu dapat diajukan ke WHO. Nanti kalau mau dijual ke seluruh dunia. Bio Farma ini kan pabrik yang besar, dia bisa jual ke mana aja. Nah, itu harus izin dari WHO."

 

3 dari 6 halaman

Pembuatan Vaksin Merah Putih dari LBM Eijkman

Ilustrasi suntik vaksin campak pada anak (AFP/Johannes Eisele)
Perbesar
Ilustrasi suntik vaksin. (AFP/Johannes Eisele)

Sementara itu, LBM Eijkman yang ditunjuk pemerintah untuk melakukan penelitian mandiri, sekarang berada dalam tahapan proses awal mencari bahan baku utama pembuatan vaksin dengan teknologi recombinant protein vaccines menggunakan spike virus SARS-CoV-2.

Kandidat vaksin yang dikembangkan LBM Eijkman diberi nama vaksin Merah Putih. Platform dan teknologi yang digunakan LBM Eijkman berbeda dengan Bio Farma. Selain itu, LBM Eijkman menggunakan isolat virus asli Indonesia.

Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Profesor Amin Soebandrio, mengungkapkan, pihaknya mencari target antigen yang efektif menangkal virus corona. Bahan itu menjadi penentu terhadap kondisi risiko yang terjadi apabila vaksin diujicoba ke hewan dan manusia.

"Vaksin berdasarkan protein rekombinan lebih baik, karena dasar sampel yang diambil adalah bagian atau sepotong protein bukanlah virus secara utuh. Dengan begitu, tidak ada risiko infeksi virus SARS-CoV-2 itu akan kembali menjadi virulen yang sifatnya ganas atau mematikan," jelas Amin Soebandrio dalam diskusi daring bertajuk Webinar SISJ-ALMI: Vaksin Covid-19 di Indonesia, Sabtu (8/8/2020).

Amin menegaskan, pembuatan vaksin Covid-19 oleh LBM Eijkman juga tidak bisa dibandingkan dengan kandidat vaksin dari negara-negara lain, yang beberapa di antaranya telah siap diuji klinis kepada manusia.

4 dari 6 halaman

Efektivitas Vaksin Covid-19

Sampel vaksin COVID-19 nonaktif di Sinovac Biotech Ltd. Beijing, China. (Xinhua/Zhang Yuwei)
Perbesar
Sampel vaksin COVID-19 nonaktif di Sinovac Biotech Ltd. Beijing, Tiongkok. (Xinhua/Zhang Yuwei)

Pertanyaan yang mengemuka sekarang adalah, bagaimana efektivitas vaksin Covid-19 dan berapa lama kekebalan yang diberikan mampu bertahan? Apakah seseorang berpotensi untuk tertular kembali.

Virus corona jenis lain pada manusia dikenal sebagai flu biasa, di mana seseorang yang pernah terinfeksi, bisa tertular lagi. Ada kekhawatiran virus corona jenis baru penyebab Covid-19 fenomenanya bisa sama.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, sebagaimana dilansir SCMP, menyatakan bahwa vaksin virus corona jenis baru sejauh ini belum ada yang terbukti efektif. "Tidak ada 'peluru perak' saat ini dan mungkin tidak akan pernah ada," ucap Tedros Adhanom.

Epidemiologi Universitas Indonesia, Pandu Riono, menjelaskan, tidak ada jaminan bahwa vaksin yang sudah masuk fase 3 bisa digunakan. Menurutnya, di dunia hampir terdapat 140 vaksin Covid-19, dan beberapa sudah menjadi kandidat uji klinis fase tiga.

"Pada umumnya, walaupun sudah kandidat fase 3, tidak mudah mendapatkan vaksin yang betul-betul efektif dan aman. Jadi, kalau masih jadi kandidat, kemudian diumumkan bahwa Januari akan produksi, ya itu artinya tidak pas, masih belum tentu vaksin punya efek yang diharapkan," terang Pandu.

"Mungkin ini untuk memberikan harapan baru untuk menenangkan masyarakat. Tapi, kita juga harusnya jujur kepada masyarakat, bahwa ini masih kandidat, belum tentu jadi. Dan kalau jadi, vaksin itu juga harus di-review dunia internasional."

Pandu juga mengatakan, bikin vaksin dari sebuah wabah bukan hal mudah dan bisa dilakukan dalam waktu singkat. Ia memberi contoh vaksin demam berdarah dengue, yang sulit sekali ditemukan. "Jadi kalau Januari produksi vaksin, saya pikir masih belum bisa. Itu baru selesai Desember kalau lancar, tapi biasanya sih molor."

"Kita pernah coba menciptakan vaksin demam berdarah, lima tahun lebih, itu pun akhirnya batal, meski sudah masuk fase 4. Akhirnya ada efek samping yang membahayakan yang tidak terdeteksi fase 1, 2, 3," ucap staf pengajar Fakultas Kesehatan Masyarakat UI tersebut.

Peneliti LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), Wien Kusharyoto, berpendapat, vaksin Covid-19, apabila belum bisa mencegah seseorang terinfeksi, paling tidak dapat mengurangi keparahan penyakitnya sampai minimal 50 persen.

Wien Kusharyoto mengambil contoh ketentuan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Amerika Serikat tentang standar vaksin Covid-19, di mana efikasinya atau efektivitas dalam memberi manfaatnya harus menyentuh 50 persen. "Kalau vaksin bisa melindungi 60 persen, maka seluruh penduduk Indonesia harus divaksinasi," jelas Wien, seperti dilansir Antara.

Wien memaparkan, jika vaksin mampu melindung 60 persen dari jumlah populasi, maka seluruh penduduk Indonesia wajib divaksinasi untuk menciptakan herd immunity atau kekebalan di masyarakat terhadap virus corona penyebab Covid-19. Sayangnya, menurut Wien, belum terdapat standar dan regulasi vaksin di Indonesia, yang menentukan berapa persen efikasinya sehingga dapat dijadikan vaksin untuk pencegahan pandemi seperti situasi sekarang.

Mengenai efikasi, Profesor Kusnandi Rusmil mengatakan, itu bisa dilihat dari imunogenisitas. Selain itu, dilihat juga kadar zat anti Covid-19, di mana pada uji klinis fase 1 dan 2 di Wuhan hasilnya bagus.

"Kalau saya lihat, kadar zat anti yang ada, yang kemarin di Wuhan itu, uji klinis fase pertama dan dua, itu bagus, sudah 97 persen dan 96 persen. Bagus hasilnya. Makanya kita mau coba dengan yang lebih luas lagi, akan tetap segitu enggak. Kalau segitu, ya bagus datanya," beber Kusnandi.

Dia juga sampai sekarang belum melihat kendala dalam pengembangan vaksin Covid-19 Sinovac di Indonesia. Dia meminta dukungan dalam pembuatan vaksin, agar orang-orang bisa kebal terhadap penyakit Covid-19.

"Kalau disuntik vaksin ini, orang jadi kebal, enggak kena sakit. Kalau misalnya sudah 70 persen dari populasi yang divaksin, itu sudah ada timbul herd immunity. Jadi, kalau herd immunity, 30 persen yang tidak divaksin itu juga ikut terlindungi," terang Kusnandi.

5 dari 6 halaman

Infografis: Perjalanan Wabah dan Vaksinnya

Infografis: Perjalanan Wabah dan Vaksinnya (Liputan6.com / Abdillah)
Perbesar
Infografis: Perjalanan Wabah dan Vaksinnya (Liputan6.com / Abdillah)
6 dari 6 halaman

Saksikan Video Covid-19 Berikut Ini

Lanjutkan Membaca ↓