PKL di Palembang Curhat Diancam Istri Wakapolda, Polda Sumsel Klarifikasi

Oleh Nanda Perdana Putra pada 13 Agu 2020, 16:34 WIB
Diperbarui 13 Agu 2020, 16:39 WIB
Jembatan Ampera
Perbesar
Jembatan Ampera di Palembang. (Sumber: Pixabay)

Liputan6.com, Jakarta Seorang ibu bernama Tesari (28) yang merupakan pedagang kaki lima di pasar 16 Ilir Palembang, harus mengalami nasib tragis. Sebabnya dia berurusan dengan seorang perempuan yang mengaku sebagai istri Wakapolda Sumsel dan berakibat dia harus menutup warung dagangannya.

Melalui media sosial dan kemudian viral, Tesari memulai ceritanya. Tidak jelas kapan kejadian tersebut, namun yang pasti terjadi ketika dia dan suaminya hendak membuka warung namun ada kendaraan yang parkir tepat di lapak dia berjualan. Meski sudah diperingatkan, ibu tersebut mengaku bahwa dia hanya sebentar memarkirkan kendaraannya untuk mengurus keperluannya. Namun yang ditunggu tak kunjung tiba.

"Sudah sejam lebih posisi sudah siang yang lain sudah buka semua," kata Tesari menceritakan kejadiannya itu seperti dikutip Liputan6.com, Kamis (13/8/2020).

Saat perempuan tersebut muncul, Tesari menegur perempuan itu. Tak dinyana dia mendapatkan respons mengejutkan. Perempuan yang tidak terima ditegur langsung menyebut dia adalah istri wakapolda.

"Berani kamu negor saya, belum tau kamu berurusan dengan siapa, saya enggak tahu ibu itu siapa," kata Tesari.

Perempuan itu dengan keras mengancam dia dan suaminya tidak dapat berjualan di sana lagi, sembari memotret wajah Tesari.

"Tunggu saja, tunggu saja, kamu pasti enggak bisa jualan lagi," ancam perempuan yang mengaku istri Wakapolda itu kepada Tesari sambil berlalu.

Tidak sampai di situ, baru saja lapak jualan dibuka dia dan suaminya didatangi beberapa orang dan minta menutup warungnya. Dia diminta ikut ke rumah perempuan itu untuk meminta maaf.

Namun, bukan permintaan maaf yang diterima Tesari, dia terus mendapat ancaman dirinya tidak akan dapat berjualan di Pasar 16 Ilir.

Dia dan suami kembali ke lapak dagangan. Namun, kata dia, ada Satpol PP yang meminta dia menutup warung dagangannya. "Cuma saya sendiri (yang tutup), saya enggak boleh terlihat di pasar itu karena saya sudah berani menegor istri bapak Wakapola Palembang," rintih Tesari.

Viral di sosial media video seorang ibu pedagang di Palembang yang membagikan pengalaman tidak mengenakkan saat bermaksud membuka lapak dagangnya. Dia mengaku bersinggungan dengan istri Wakapolda Sumatera Selatan, yang disebutnya Wakapolda Palembang.

Saat itu, lapak dagangnya dipakai parkir oleh seseorang yang mengaku istri pejabat tinggi Polri. Ibu pedagang awalnya mengizinkan dengan syarat tidak lama.

Namun karena habis satu jam lebih, si ibu pedagang pun menegur. Hasilnya, dia pun diancam dan akhirnya terusir dari lapak dagangnya meski sudah meminta maaf.

 

2 dari 2 halaman

Kata Wakapolda Sumsel

Wakapolda Sumatera Selatan Irjen Rudi Setiawan membantah istrinya terlibat konflik dengan pedagang pasar.

"Sudah klarifikasi katanya di Polrestabes. Ibu Evi itu ke Polrestabes. Yang dia maksud bukan istri saya. Dia minta maaf malahan," tutur Rudi saat dihubungi Liputan6.com, Kamis (13/8/2020).

Menurut Rudi, ibu pedagang itu tidak punya masalah dengan istrinya. Namun oleh istri pejabat tinggi Polri lainnya.

"Iya bukan, saya malah jadi merasa dirugikan," jelas dia.

Rudi berharap urusan tersebut dapat selesai dengan baik. Dia menduga orang yang dimaksud adalah istri pejabat Polda Sumatera Selatan periode tahun-tahun sebelumnya.

"Iya 2012," Rudi menandaskan.

Sementara itu Kabid Humas Polda Sumsel Kombes Supriyadi mengatakan, rekaman yang bergulir di media sosial tersebut merupakan peristiwa Januari 2020. Dia membenarkan apa yang diceritakan PKL tersebut terjadi di Pasar 16 ilir. 

"Terjadi selisih paham antara istri wakapolda Sumsel 2012 atas nama Pak Zulkarnain. Ada selisih paham terkait parkir kendaraan. Itu kejadian 12 Januari, minta maaf datang ke rumah belum diterima. Kemudian 2 hari setelahnya tanggal 14 januari dia balik lagi ke rumah ibu itu. Ternyata suaminya itu teman anaknya. Nah kedatangan kedua itu terjadi penyelesaian masalah kekeluargaan. Sudah minta maaf ke si ibunya. Dan tanggal 15 sudah berjualan seperti biasa di bulan Januari 2020," beber Supriyadi.

Pedagang itu, Supriyadi menambahkan, pernah mengunggah curhatan tersebut di akun media sosial miliknya. Namun tidak ada yang melihatnya dan tidak ada respons seperti saat ini.

"Ada yang repost lagi dua hari lalu, nah itu yang viral," kata Supriyadi.

Saat ini Tesari dan suaminya sudah kembali berdagang sejak peristiwa tersebut dinyatakan selesai oleh kedua belah pihak.

"Sudah dagang lagi. Januari kemarin. Nah untuk yang posting sudah dilakukan penyelidikan oleh Polrestabes Palembang. Karena bukan dia yang memposting. Ada akun lain yang memposting. Itu sedang kita sidik kita tangani kasusnya," kata Supriyadi/ 

"Jadi tidak ada kaitannya dengan Pak Rudi. Tadi si ibu juga minta maaf klarifkasi," dia menambahkan.

Lanjutkan Membaca ↓