Tingkatkan Pengamanan Laut Natuna Utara, 4 KRI Disiagakan

Oleh Rita Ayuningtyas pada 19 Jun 2020, 15:22 WIB
Diperbarui 19 Jun 2020, 15:22 WIB
Gagah dan sangarnya pasukan TNI gelar apel siap amankan Laut Natuna dari kapal China.
Perbesar
Gagah dan sangarnya pasukan TNI gelar apel siap amankan Laut Natuna dari kapal China. (Twitter @Puspen_TNI)

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah Republik Indonesia meningkatkan pengamanan Laut Natuna Utara, Kepri. Empat KRI dari jenis fregat dan korvet (kapal anti kapal selam) pun disiagakan.

Panglima Komando Armada (Pangkoarmada) I Laksamana Muda TNI Ahmadi Heri Purwono mengatakan, peningkatan pengamanan ini terkait dengan konflik yang terjadi antara China dan Amerika Serikat di Laut Natuna Utara.

Dia mengatakan, sebagai negara yang wilayahnya yang berada di kawasan konflik, sudah sewajarnya pemerintah Indonesia mengambil langkah mengamankan wilayah perairan Natuna Utara.

"Kita tempatkan 4 KRI, 2 jenis fregat dan 2 jenis korvet, adapun tugas mereka adalah melakukan penegakan kedaulatan hukum, masih banyak kapal-kapal asing yang masuk ke wilayah kedaulatan kita," kata Ahmadi saat melakukan kunjungan kerja ke Tanjungpinang, Kepri, seperti dilansir Antara, Jumat (19/6/2020).

Menurut dia, keberadaan Kapal Perang Republik Indonesia di Laut Natuna Utara ini juga mengantisipasi dampak konflik di perairan tersebut. Sebab, tidak menutup kemungkinan, Natuna akan menjadi daerah persembunyian atau pendaratan negara yang sedang berkonflik.

"Kita punya hak kedaulatan dan hak berdaulat,kita harus mempertahankan wilayah kita jangan sampai dia ganggu negara asing," ucap Ahmadi.

 

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:


Nelayan Jangan Takut Melaut di Natuna

Ahmadi menjelaskan, situasi di Laut China Selatan saat ini semakin memanas. Ketegangan meningkat usai militer Amerika Serikat mengerahkan kapal-kapal perang mereka ke wilayah itu.

Kabar terbaru, kata dia, Angkatan Laut dan Udara China memukul mundur USS Barry milik Amerika. Kapal perusak nuklir itu dikejar karena secara sengaja menerobos masuk ke wilayah teritorial China di sekitar perairan Pulau Xisha. Militer China menyebut jika perbuatan Amerika Serikat itu sengaja dilakukan untuk memprovokasi.

Kondisi ini pula tentu dikhawatirkan akan berdampak terhadap aktivitas penangkapan ikan oleh nelayan tradisional di Natuna, karena takut akan konflik yang terjadi di bagian utara. Namun, Pangkoarmada I tetap meminta nelayan beraktivitas seperti biasa.

“Jangan takut untuk melakukan penangkapan ikan, kami dari TNI AL akan tetap mengawal kapal nelayan Indonesia saat menangkap ikan di laut,” tegas Ahmadi.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya