BP Batam Tengah Mengesahkan Pengerjaan Proyek IPAL untuk Masyarakat

Oleh Reza pada 10 Jun 2020, 09:51 WIB
Diperbarui 10 Jun 2020, 11:09 WIB
BP Batam
Perbesar
Badan Pengusahaan (BP) Batam saat ini tengah mengesahkan pengerjaan proyek Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) atau Waste Water Treatment Plant (WWTP).

Liputan6.com, Jakarta Badan Pengusahaan (BP) Batam saat ini tengah mengesahkan pengerjaan proyek Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) atau Waste Water Treatment Plant (WWTP).

Manfaat Pembangunan IPAL ini sebagai bentuk pengamanan waduk dari limbah domestik, penataan sanitasi dan penyehatan lingkungan, serta peningkatan derajat kesehatan masyarakat Batam.

Selain itu, pembangunan IPAL di Batam akan menjadi sumber air baku baru yang akan menyokong pasokan air baku bagi Batam, selain dari waduk tadah hujan.

Proyek IPAL untuk tahap pertama adalah area Batam Center.

BP Batam telah membangun WWTP di Bengkong Sadai dengan kapasitas 20 ribu meter kubik per hari atau setara dengan 230 liter per detik, dengan lima stasiun pompa yang akan memompa limbah domestik ke WWTP.

Proses recycling di WWTP akan menghasilkan kompos 18 meter kubik per hari dan juga menghasilkan recycling air bersih yang akan dimanfaatkan kembali untuk kebutuhan industri.

Manager Pengelolaan Lingkungan Badan Usaha Fasilitas Lingkungan BP Batam, Iyus Rusmana, mengatakan, progres proyek IPAL Tahap 1 Batam Center pada minggu ke-3 Mei 2020, sudah mencapai 86,6 persen dan direncanakan selesai pada Desember 2020.

Lebih lanjut dijelaskan, dipilihnya Batam Center sebagai lokasi pertama adalah untuk mengamankan Waduk Duriangkang (sumber tadah hujan terbesar Batam) dari limbah domestik.

“Kami ingin mengamankan Waduk Duriangkang dari limbah domestik. Kami mengambil contoh Tanjung Uma yang dulu cukup bersih, tapi karena terus menerus dialiri air limbah, daya dukung lingkungannya menurun dan saat ini kita bisa merasakan kondisi di lapangan, hitam dan berbau, ini fakta yang tak boleh terulang,” ujar Iyus. Pembangunan IPAL sangat diperlukan, mengingat saat ini Batam tidak lagi memiliki kemampuan mengolah limbahnya sendiri.

Apalagi, jumlah limbah domestik dari aktivitas mandi, cuci, kakus terus bertambah setiap hari seiring pesatnya pertumbuhan penduduk Batam.

Iyus menerangkan, sistem pembuangan dan pengolahan limbah di Kota Batam merupakan sistem pembuangan limbah domestik yang kemudian diolah menjadi dua produk utama, yakni pupuk dan air bersih. Setelah adanya IPAL, rumah-rumah di Batam tidak lagi menggunakan septic tank dan akan terkoneksi secara otomatis ke pengolahan air limbah.

Setelah Batam Center, nantinya proyek pengerjaan IPAL akan dilakukan di 6 titik daerah lanjutan, yakni di perairan Tanjung Uma, Bengkong, Telaga Punggur, Tembesi, Sekupang, dan Kabil.

Air merupakan kebutuhan vital yang sangat penting bagi kehidupan. Batam yang tidak memiliki sumber air dari tanah, akan sangat terbantu dengan manajemen pengelolaan air limbah terbarukan yang ramah lingkungan demi tercukupinya kebutuhan air bagi Batam.

 

(*)