Maruarar Sirait: Covid-19 Jadi Batu Ujian Bagi Calon Presiden 2024

Oleh Liputan6.com pada 07 Jun 2020, 22:29 WIB
Diperbarui 08 Jun 2020, 06:25 WIB
Piala Presiden 2017, Drawing 8 Besar, Bola.com, Maruarar Sirait
Perbesar
Maruarar Sirait (Bola.com/Nicklas Hanoatubun)

Liputan6.com, Jakarta- Pandemi virus corona Covid-19 ini menjadi batu ujian bagi banyak pihak yang dinilai atau memang mau maju dalam kontestasi demokrasi ke depan, khususnya pemilihan presiden (Pilpres) 2024. Dan ini bukan semata ujian bagi kepala daerah belaka.

"Ke depan, siapapun, apakah dia kepala daerah, apakah dia menteri, politisi, purnawirawan jenderal, pengusaha atau tokoh agama, yang mau maju menjadi pemimpin, maka penanganan Covid-19 ini akan menjadi track-record-nya," kata Ketua Umum Taruna Merah Putih (TMP), Maruarar Sirait.

Hal ini disampaikan Maruarar saat menjadi pembicara dalam rilis hasil survei Indikator Politik dengan tema "Persepsi Publik terhadap Penanganan Covid-19, Kinerja Ekonomi dan Implikasi Politiknya". 

Dalam rilis survei yang dilakukan melalui aplikasi zoom ini, selain Maruarar, hadir sebagai pembicara Ketua Umum KADIN Rosan Roeslani, Ketua Umum HIPMI Mardani H Maming, Ketua Umum Persepsi Philip J Vermonte, politisi Golkar Nurul Arifin dan politisi PKS Mardani Ali Sera. 

Maruarar mengatakan bahwa publik akan melihat tokoh-tokoh dalam menghadapi dan menangani virus corona Covid-19. Misalnya soal konsep dan gagasannya, soal kenegarawanan dan integritasnya, juga bagaimana tanggungjawab dan kemampuan teknokratisnya.

"Ini menjadi ujian bahwa pemimpin ke depan tak boleh lahir dari proses ruang gelap. Namun harus dari proses yang terang benderang, bagaimana karya, kinerja dan tanggungjawabnya," tegas Ara.

Apa yang disampaikan Maruarar sama dengan apa yang disampaikan Philip Vermonte. Menurut Philip, virus corona Covid-19 ini, sebagaimana juga terjadi di berbagai negara, menjadi batu ujian kapabilitas pemimpin dan calon pemimpin. Juga menjadi ujian dalam membangun good goverment. 

2 dari 2 halaman

Hasil Survei

Philip menekankan bahwa kemampuan teknokratis para tokoh dalam menghadapi krisis saat ini menjadi sangat penting. Publik akan menghakimi kemampuan teknokratis ini para pemimpin dan calon pemimpin.

"Kita punya modal ketika otonomi daerah menghasilkan pemerintahan daerah yang semakin baik. Kita lihat gubernur atau bupati walikota mana yang berfungsi," jelas Philip.

Direktur Eksekutif Indikator Politik, Burhanuddin Muhtadi, mengatakan bahwa survei kali ini menunjukkan bahwa ada tokoh yang dalam menghadapi virus corona covid-19 ini mendapatkan insentuif elektoral. Namun ada juga tokoh yang malah angka elektablitasnya menurun. 

Di antara tokoh yang angka elektoralnya menjadi naik adalah Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil. Dalam tiga bulan terakhir ini, elektabilitas Ganjar naik menjadi 11,8 persen dari semula 9,1 persen. Sementara elektabilitas Ridwan naik dari 3,8 persen menjadi 7,7 persen.

Sementara tokoh yang malah jatuh elektabilitasnya adalah Prabowo Subianto dari 22,2 persen menjadi 14,1 persen. Demikian juga dengan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dari 12,1 persen menjadi 10,4 persen. Elektabilitas Sandiaga juga jatuh dari 9,5 persen menjadi 6 persen. Juga Agus Yushyono dari 6,5 persen menjadi 4,8 persen.

Burhan menjelaskan bahwa survei ini melibatkan 1.200 responden yang dipilih dengan wawancara via telepon. Survei ini memiliki toleransi kesalahan (margin of error) sekitar kurang lebih 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 pesren. Sampel berasal dari seluruh provinsi yang terdistribusi secara proporsional dan dilakukan pada 16-18 Mei 2020.

Lanjutkan Membaca ↓