Kisah Bung Karno sebagai Arsitek dan Karya-karyanya yang Tersisa

Oleh Delvira Hutabarat pada 02 Jun 2020, 22:22 WIB
Diperbarui 02 Jun 2020, 22:22 WIB
Presiden RI
Perbesar
Soekarno (Bung Karno)

Liputan6.com, Jakarta - Juni dikenal sebagai bulan Bung Karno. Di mana bulan kelahiran Presiden Pertama RI Sukarno selalu diperingati dengan berbagai acara, termasuk diskusi.

Selain dikenal sebagai pemimpin dan proklamator, Bung Karno rupanya juga seorang arsitek yang mewariskan banyak karya arsitektur nasional. Hal itu terungkap dalam diskusi virtual bertema 'Bung Karno Sang Arsitek' yang menghadirkan arsitek Yuke Ardhiati dipandu sejarawan Bonnie Triyana.

Yuke menjelaskan, Bung Karno adalah lulusan Teknik Sipil jurusan Pengairan (Waterbouwkunde) dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Namun, seorang profesor di ITB membaca bakat Bung Karno dalam menggambar, sehingga diminta menjadi asisten dengan tugas semacam draftman sejumlah proyek arsitektur.

Nama profesor itu adalah Charles Prosper Wolff Schoemaker, yang dikenal juga sebagai arsitek sejumlah bangunan seperti Villa Isola dan Hotel Preanger di Bandung, Jawa Barat. Salah satu rumah yang terkenal menjadi karya mereka berdua adalah rumah Red Tulip.

"Jadi kesempatan baik itu menjadikan Bung Karno percaya diri mendirikan biro arsitek di tahun 1926," kata Yuke dalam diskusi, Selasa (2/6/2020).

Belakangan, Sukarno bermitra dengan Ir Anwari, kemudian Roosseno Soerjohadikoesoemo yang dikenal sebagai Bapak Beton Indonesia, sebagai biro konsultan arsitektur.

Yuke melanjutkan, bahwa pengalaman itulah yang berkontribusi pada kematangan Sukarno mewujudkan berbagai karya di era berikutnya.

“Dalam arsitektur, gagasan itu sudah dipandang sebagai karya. Sejak bekerja sama dengan zaman Pak Anwari dan Pak Roosseno, Bung Karno berperan sebagai penyumbang gagasan,” terang Yuke.

Ketika menjadi presiden, kata Yuke, Sukarno banyak mempekerjakan arsitek dalam negeri untuk mewujudkan ide-idenya atas berbagai bangunan publik Indonesia. Salah satunya adalah Sudarsono, arsitek yang memvisualisasikan ide Bung Karno tentang Tugu Monas di Jakarta.

Sementara itu sejarawan Bonnie Triyana mempertanyakan keabsahan keterlibatan Bung Karno dalam membangun berbagai bangunan publik. Sebab, ia menilai Sukarno pastilah sangat sibuk sebagai seorang presiden.

Menjawab itu, Yuke menjelaskan bahwa dalam dunia arsitektur, ide awal saja sudah merupakan bagian dari arsitektur itu sendiri.

Dari risetnya, Yuke menemukan bahwa berbagai bangunan publik yang dibangun di masa kepemimpinan Bung Karno, merupakan ide awal dari sang presiden, contohnya Monas.

 

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:


Selalu Berkolaborasi

Ilustrasi Soekarno Hatta dan rumah di Rengasdengklok
Perbesar
Sukarno, Hatta, dan rumah tempat mereka "diamankan" di Rengasdengklok

Dari diskusi tersebut, Bonnie Triyana menyimpulkan selain sebagai proklamator bangsa dan presiden, Bung Karno ternyata juga seorang arsitek dan seniman yang karyanya masih bertahan hingga saat ini.

"Dan Bung Karno adalah seorang yang selalu berkolaborasi dalam menghasilkan karya seni dan karya arsitekturnya," kata Bonnie.

Lanjutkan Membaca ↓

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya