Komisi VI DPR: Pemberlakuan New Normal Harus Konsisten dan Tegas

Oleh Liputan6.com pada 28 Mei 2020, 23:17 WIB
Diperbarui 29 Mei 2020, 04:42 WIB
Jokowi Meninjau Kesiapan Prosedur New Normal di Stasiun MRT

Liputan6.com, Jakarta Langkah pemerintah mengajak masyarakat masuk ke kehidupan dengan normal baru (new normal) untuk berdampingan dengan ancaman Covid-19 mendapat dukungan luas. Salah satu dukungan disampaikan anggota Komisi VI DPR RI, Deddy Yevri Sitorus.

Deddy menyampaikan, ajakan untuk memulai kehidupan new normal dapat memulihkan ketahanan nasional, baik dari sisi ekonomi maupun sosial.

Akan tetapi, pelaksanaannya harus dengan disiplin melaksanakan protokol kesehatan untuk mencegah penularan Covid-19.

"Keputusan new normal sudah tepat, sebab dampak pembatasan akibat pandemi akan menghancurkan ketahanan nasional, baik ekonomi maupun sosial,” kata Deddy, melalui pernyataan tertulis, Kamis (28/5/2020).

"Sebelum new normal diterapkan, pemerintah dan semua unsur masyarakat juga perlu menyiapkan diri dengan baik. Karena jika tidak maka pelonggaran pembatasan sosial ini akan melahirkan masalah baru yang serius,” sambung Deddy.

Anggota Fraksi PDI Perjuangan itu menyampaikan pemerintah harus memperhatikan beberapa langkah sebelum menerampak new normal. Pertama, sosialisasi harus dilakukan massif kepada seluruh lapisan masyarakat, terutama mereka yang tidak atau kurang mengakses informasi.

Sosialisasi itu, kata Deddy, sebaiknya dilakukan tidak hanya melalui kanal-kanal media, tapi juga dilakukan oleh seluruh aparatur pemerintahan hingga tingkat yang paling bawah.

"Paling baik jika dilakukan door to door dengan mengerahkan aparat desa/kelurahan sembari membagi masker dan brosur sosialisasi. Jika memungkinkan pemerintah daerah bisa menambahkan hand sanitizer.

Dia juga mengusulkan, agar pemerintah juga bisa menggunakan cara tradisional seperti menggunakan pengeras suara selama seminggu penuh sebelum pemberlakuan new normal. 

Kedua, pemerintah pusat dan daerah, kantor-kantor swasta, mal, pasar, terminal, stasiun, bandara, kantor desa dan lainnya, harus memastikan tersedianya sarana-sarana kesehatan dan kebersihan diri yang dibutuhkan di tempat-tempat publik, seperti bak cuci tangan, hand sanitizer, masker, dan thermometer laser.

Ketiga, perlu pengawasan terus menerus terhadap pemberlakuan new normal, baik melalui kehadiran aparat maupun penggunaan CCTV di tempat-tempat interaksi publik.

"Termasuk kantor-kantor, sarana Ibadah, dan pabrik. Kursi-kursi di sarana transportasi atau sarana publik harus disesuaikan dengan jarak fisik baku yang ditetapkan,” ungkap dia. 

Keempat, adanya standar operasional prosedur (SOP) yang jelas dan mudah dicerna dan papan-papan peringatan yang dipasang di tempat strategis untuk terus meningkatkan kesadaran warga.

“SOP juga diperlukan dalam rangka pemantauan berbasis IT bagi pergerakan ODP dan tracking OTG melalui ponsel,” ujar wakil rakyat dari dapil Kalimantan Utara tersebut.

Kelima, pemerintah harus mampu meningkatkan kapasitas pelayanan kesehatan untuk mengantisipasi meningkatnya angka penderita Covid-19. Bersama dengan itu, lanjut Deddy, kapasitas industri kesehatan juga harus ditingkatkan dalam rangka tersedianya masker, alat rapid test, hand sanitizer, vitamin, dan suplemen dalam jumlah dan harga yang terjangkau masyarakat.

"Jika perlu, bansos juga harus menyertakan kebutuhan-kebutuhan medis seperti vitamin, dan masker,” kata Deddy.

Keenam, pemerintah disarankan menyiapkan payung hukum dalam rangka penerapan sanksi bagi pelanggar ketentuan new normal.

"Pemerintah harus konsisten dalam melaksanakan kebijakan ini dan pengawasannya, ketegasannya, serta panduan yang benar,” ujar Deddy.

 

2 dari 3 halaman

Disiplin dan Kerja Sama

Melihat Penerapan New Normal di Sumarecon Mall Bekasi
Aktivitas pengunjung di Sumarecon Mall Bekasi, Jawa Barat, Kamis (28/5/2020). Sumarecon Mall Bekasi akan menjadi mal percontohan dalam menerapkan New Normal di bidang perniagaan yang rencananya akan dibuka secara bertahap mulai 8 Juni seiring berakhirnya PSBB di Bekasi.(merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Selain itu, menurut Deddy, masyarakat juga perlu kerja sama dan disiplin karena new normal berarti cara hidup baru atau kebiasaan-kebiasan baru. Untuk itu perlu melakukan disiplin diri, di dalam keluarga, di komunitas tempat tinggal atau di tempat-tempat beraktivitas.

"Saling mengingatkan sesama warga, saling membantu bila ada yang kesulitan mendapatkan alat pelindung dan kebersihan diri. Tidak ada salahnya dana desa juga dialokasikan untuk membantu masyarakat yang kesulitan membeli sendiri masker atau hand sanitizer," kata Deddy.

"Pandemi ini hanya bisa kita lawan jika masyarakat bersatu, bergotong-royong, dan disiplin. Waspadai berita atau informasi negatif tanpa sumber yang valid atau yang tidak bermanfaat seputar wabah. Pandemi ini masalah di seluruh dunia, dan tidak pilih bulu dalam menginfeksi orang,” pungkas dia.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait