Kisah Samuel yang Tak Mengeluh Meski Tidak Tersentuh Bantuan Selama Wabah Corona

Oleh Liputan6.com pada 23 Mei 2020, 09:37 WIB
Diperbarui 23 Mei 2020, 09:37 WIB
FOTO: Melihat Proses Pengemasan Bantuan Sosial Pemerintah Pusat

Liputan6.com, Jakarta - Samuel Dima tak menaruh harapan begitu besar terhadap bantuan gelombang kedua dari pemerintah di tengah wabah Corona, lantaran sudah terbiasa luput dari segala jenis bantuan yang digelontorkan pemerintah daerah maupun pusat sejak anak pertamanya lahir.

Meski, dalam lubuk hatinya, dia ingin mendapatkannya. Terlebih, kali ini, namanya sudah didaftarkan oleh aparat desa.

"Kalau dapat ya terima kasih, kalau tidak dapat ya mau bilang apa, mungkin masih ada yang lebih butuh dari beta," kata Samuel ketika ditemui di rumahnya di RT 13, RW 05, Desa Tarus, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur, Jumat 22 Mei 2020. 

Samuel mengaku tidak pernah menerima bantuan jenis apapun, dari pemerintah. Mungkin luput dari pendataan di tingkat bawah, dia juga tidak tahu, sebab malu untuk bertanya.

"Walaupun saya tidak pernah dapat, tapi saya tidak protes karena mungkin masih banyak yang lebih butuh dari saya. Sejak anak pertama sampai anak keempat ini lahir pun, saya tidak dapat bantuan, baik BLT/BLT maupun sejenisnya," ujar Samuel.

Sejak pandemi Corona, keluarga Samuel hanya mengandalkan beberapa kilo beras yang dibelinya sebelum wabah berlangsung di Kupang. Agar tidak cepat habis, istrinya memasak hanya takaran dua gelas, bahkan sehari mereka hanya dua kali makan.

"Setiap hari kami makan dua kali sa. Kalau ada uang beli ikan atau tahu, pas tidak ada uang seperti ini katong makan dengan sayur pepaya atau marungga, yang katong tanam sendiri di halaman rumah," tutur Samuel.

Ya, sejak virus Corona mewabah di Indonesia, termasuk Nusa Tenggara Timur, Samuel tidak lagi menunggu penumpang di pangkalan sebagai tukang ojek. Selain karena sepi penumpang, dia takut sebagai carier penularan virus kepada istri dan anak-anaknya di rumah.

"Ini virus buat beta takut untuk keluar ojek, beta sonde mau beta pu anak istri kena penyakit, biar susah yang penting jangan sakit," ujarnya lirih.

 

2 dari 3 halaman

Berlantai Tanah

Samuel sangat bersemangat cerita tentang kehidupan mereka saat duduk di lantai tanah bersama sang istri, Atni Kabnani, setelah mempersilakan jurnalis duduk di sebuah kursi kayu. Ketika itu, ketiga anak mereka bermain ke rumah tetangga. Hanya ada si bungsu yang baru berusia lima bulan digendong ibunya.

Agar lebih nyaman, Merdeka dan jurnalis lain memilih duduk sila bersama di lantai, sambil menyambung pembicaraan Samuel dengan pertanyaan.

Lima gelas plastik berwarna merah berisikan kopi hitam, disuguhkan di hadapan kami oleh Atni.

"Awalnya rumah lebih besar ini tapi terbakar. Jadi bangun lagi, tapi kecil begini sa. Maaf katong (kita) duduk di tanah sa karena belum ada kursi ni," kata Samuel dengan logat khas Kupang dicampur Sabu.

Selain kursi, dia ingin bisa membeli tempat tidur. Setiap malam, Samuel dan istri serta keempat anaknya hanya tidur di kasur tipis yang dibentang pada lantai kamar keluarga.

 

Reporter: Ananias Petrus

Sumber: Merdeka

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by