Wakil Ketua MPR: Lebaran Tanpa Salaman Tak Akan Mengurangi Makna

Oleh Putu Merta Surya Putra pada 22 Mei 2020, 20:58 WIB
Diperbarui 23 Mei 2020, 09:57 WIB
Ilustrasi idul fitri

Liputan6.com, Jakarta - Lebaran sebentar lagi. Tak seperti sebelumnya, perayaan Idul Fitri kali ini harus dijalani di tengah pandemi virus Corona atau Covid-19.

Menyadari Lebaran tahun ini memang berbeda, Wakil Ketua Majelis permusyawaratan Rakyat (MPR) Republik Indonesia Ahmad Muzani mengingatkan agar dalam perayaan nanti, masyarakat mematuhi protokol-protokol kesehatan jangan sampai tidak diindahkan.

"Virus Corona masih menjadi ancaman bagi kita semua. Karena itu di bulan Syawal ini social distancing akan menjadi cara kita untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri ini. Saya berharap, meskipun physical distancing atau social distancing, kita tidak akan kehilangan makna dari Idul Fitri itu sendiri," kata Muzani, Jumat (22/5/2020).

Dia menyadari, salah satu tradisi yang tak bisa dilakukan adalah bersalaman.

"Berlebaran tanpa bersalaman, berarti berlebaran tanpa bertemu muka dengan sanak saudara, kerabat ataupun sahabat," ungkap Muzani.

Meski demikian, menurut dia, yang terpenting dalam merayakan Lebaran, yakni membuka pintu maaf tanpa perlu seseorang terlebih dahulu mengucapkan permohonan maaf.

"Memberi maaf nilainya lebih tinggi daripada kita meminta maaf. Tanpa perlu orang, sahabat, kawan-kawan, saudara-saudara kita memohon maaf-meminta maaf, kita harus memberi maaf kepada mereka. Itulah permaafan sejatinya. Memberi maaf tanpa perlu meminta maaf," jelas Muzani.

Menurut dia, memberi maaf disampaikannya dapat energi positif bagi bangsa Indonesia dalam menghadapi pandemi.

"Saling maaf memaafkan menjadi energi positif bagi bangsa. Dan semangat baru dalam menghadapi pandemi covid-19," imbuhnya.

2 dari 3 halaman

Semangat Ramadan Dijaga

Hari Raya Idul Fitri (iStock)
Ilustrasi Hari Raya Idul Fitri (iStockphoto)

Tidak hanya itu, dirinya mengingatkan kepada seluruh umat muslim untuk dapat menjaga semangat Ramadan.

Ibadah katanya harus tetap dijaga, begitu juga dengan sikap saling berbagi yang diajarkan lewat kewajiban membayar zakat fitrah.

Sikap saling tolong-menolong tersebut diyakininya dapat memperkuat solidaritas untuk meningkatkan kesatuan dan persatuan bangsa.

"Kita harus bersedekah, saling berbagi-bahu membahu kepada sesama sebagai bentuk solidaritas dan ketaatan kita kepada Allah. Karena itu, kita harus tetap menjaga nilai-nilai kefitrian," ujarnya. 

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓