Pemerintah Diminta Berhati-hati soal Ganja Medis, Pastikan Tepat Pengunaan

Oleh Liputan6.com pada 30 Jun 2022, 22:06 WIB
Diperbarui 01 Jul 2022, 21:49 WIB
Thailand Pamerkan Ganja Medis Pertama di ASEAN
Perbesar
Botol-botol minyak ganja hasil ekstraksi ditampilkan saat konferensi pers di Kementerian Kesehatan Thailand, Bangkok, Rabu (7/8/2019). Laman CNN menulis, sekitar 10 ribu botol ganja medis siap didistribusikan ke sejumlah rumah sakit pemerintah di Thailand. (AP Photo/Sakchai Lalit)

Liputan6.com, Jakarta - Belum lama ini, pasangan suami istri Santi Warastuti dan Sunarta disorot lantaran menanti keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) berkenaan dengan uji materi Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

Santi dan Sunarta berharap ganja yang masuk dalam daftar narkotika golongan 1 itu dapat digunakan untuk kepentingan medis. Mereka membutuhkan ganja medis untuk sang anak yang didera penyakit Cerebral Palsy.

Menurut Wakil Ketua Umum Partai Garuda Teddy Gusnaidi, hal pertama yang harus jelas apakah benar aturan pemberian ganja bisa untuk penyakit Cerebral Palsy.

"Ada kejadian di mana seorang ibu meminta anaknya diberi ganja untuk pengobatan. Tentu harus jelas, apakah itu penilaian sang ibu atau memang berdasarkan hasil medis, tapi pihak dokter tidak berani memberikan karena bertentangan dengan aturan di Indonesia. Ini dulu yang harus jelas, sehingga ada dasarnya," ujar Teddy melalui keterangan tertulis, Kamis (30/6/2022).

Teddy menyebut, apabila berdasarkan hasil medis dan tidak ada obat lain selain ganja untuk pengobatan penyakit Cerebral Palsy, maka tak masalah.

"Jika memang berdasarkan hasil medis dan tidak ada obat lain selain ganja, tentu saja hal itu menjadi tidak masalah, karena tujuan maupun takarannya diperuntukkan untuk medis," ucap dia.

Teddy menegaskan, sesuatu yang dianggap berbahaya menjadi tidak berbahaya ketika tepat dalam penggunaannya dan berdasarkan ilmu pengetahuan.

"Morfin itu dilarang, karena bagian dari Narkotika golongan tinggi, ganja itu tidak seberapanya morfin. Tapi morfin boleh digunakan ke pasien untuk proses pengobatan. Tentu dasarnya ada, baik dasar aturan maupun dasar secara medis. Begitupun Ganja, harus memiliki dasarnya juga," papar dia.

 


Bukan Hal Baru

Ilustrasi pengemasan daun ganja untuk pengobatan medis
Perbesar
Ilustrasi pengemasan daun ganja untuk pengobatan medis

Teddy mengatakan, penggunaan narkotika untuk kebutuhan medis bukalah hal baru.

"Sehingga untuk ganja yang tingkat bahayanya lebih rendah dari Morfin apalagi berasal dari tumbuhan alami, tentu akan lebih mudah diizinkan untuk medis," jelas Teddy.

Sebelumnya, Hari Antinarkotika Internasional yang jatuh pada Minggu 26 Juni 2022 dimaknai pasangan suami-istri Santi Warastuti dan Sunarta sebagai sebuah harapan.

Mereka menanti keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) berkenaan dengan uji materi Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Mereka berharap ganja yang masuk dalam daftar narkotika golongan 1 itu dapat digunakan untuk kepentingan medis.

Santi bersama dua rekannya yakni Dwi Pertiwi, dan Novi menggugat Pasal 6 ayat 1 huruf H, Pasal 8 ayat 1 ke Mahkamah Konstitusi pada November 2020 silam.

Namun, selama hampir dua tahun lamanya tidak ada kabarnya kelanjutan lagi. Padahal, ia bersama dengan pemohon lain untuk menjalani hampir delapan kali sidang.

"Saya menunggu kepastian dari Mahkamah Konstitusi, sudah dua tahun sejak mengajukan permohonan Undang-Undang Narkotika belum ada kepastian hukum sampai sekarang," kata Santi saat berbincang, Minggu 26 Juni 2022.

 


Tunggu Keputusan MK

Kemenkes Segera Terbitkan Regulasi Riset Ganja Medis di Indonesia
Perbesar
Sudah melakukan kajian, regulasi yang mengatur pelaksanaan riset ganja untuk kebutuhan medis sebentar lagi keluar. (Twitter/andienaisyah).

Keputusan MK sangatlah penting untuk keberlangsung hidup anak semata wayang yang bernama Pika Sasikirana. Apalagi, jika Mahkamah Konstitusi mengabulkan permohonan melegalkan tanaman ganja untuk kepentingan medis.

Keinginan Santi untuk mendesak putusan ini semakin besar ketika mengingat Musa, anak dari salah satu pemohon yang bernama Dwi meninggal dunia di tengah proses persidangan pada 26 Desember 2020, setelah 16 tahun berjuang melawan penyakit Cerebral Palsy. Santi tak ingin anak bernasib sama seperti Musa.

"Beberapa minggu terkahir ini, ada beberapa teman kita yang meninggal tanpa sakit tanpa nge-drop jadikan sebagai ibu saya khawatir," ujar dia.

Pagi tadi, bersama suami dan anak, Santi berjalan kaki dari Jalan Sudirman-Thamrin menuju ke Mahkamah Konstitusi. Santi mau menyuarakan aspirasi di Hari Anti Narkoba Internasional yang jatuh pada Minggu, 26 Juni 2022. Selain itu, hari ini merupakan ulang tahun pernikahan dengan suami.

Santi melangkah sambil menenteng satu poster bertuliskan "Tolong anakku butuh ganja medis". Sementara suaminya, mendorong kursi roda yang di duduki anaknya, Pika.

Aksinya tak ayal menyedot perhatian pengguna jalan. Salah satu pernyanyi tanah air bernama Andien yang kebetulan sedang berolahraga di kawasan Car Free Day (CFD) ikut menghampiri memberikan dukungan moril.

"Eskpresi saya pertama menangis. Apalagi saat dia support dan ikut mendoakan. Saya bersyukur banyak orang yang ternyata mendukung saya," ujar dia.

 


Bawa Surat ke MK

pasangan suami-istri Santi Warastuti dan Sunarta berharap Mahkamah Konstitusi memberikan keputusan bijak terkait penggunaan ganja untuk kepentingan medis
Perbesar
pasangan suami-istri Santi Warastuti dan Sunarta berharap Mahkamah Konstitusi memberikan keputusan bijak terkait penggunaan ganja untuk kepentingan medis

Santi tiba di Gedung Mahkamah Konsitusi. Niat mau menyerahkan surat yang ditujukkan kepada Hakim MK. Isi surat itu pada intinya mendesak MK memberikan kepastian hukum.

Namun, Santi harus gigit jari karena tak ada satupun perwakilan MK menemuinya. Bahkan, ketika mau menyerahkan surat dan poster itu ke petugas sekuriti, mereka menolak.

"Tadi saya maunya kasih ke sekuriti dan supaua besok disampaikan ke berwenang. Tapi mereka tidak mau terima yaudah saya bawa pulang lagix" ujar dia.

Pika Sasikirana, anaknya mengidap Cerebral Palsy sejak usia 6 tahun. Pelbagai cara telah ditempuh demi mengobati si buah hati. Salah satunya ke Rumah Sakit Islam Yogyakarta.

Tapi, kesehatan tak kunjung membaik. Menurut dia, penderita Cerebral Palsy retan mengalami kejang. Dan itu pasti berdampak buruk pada perkembangan kesehatan si penderita.

"Anak-anak Cerebral Palsy pasti hampir semua ada riwayat kejang. Kalau sudah kejang pasti ada kemunduran, misal terapi dan sudah mulai bisa tengkurep ketika ada kejang tidak bisa tengkurep lagi. Itu tuh yang ditakutkan sama ibu-ibu anak-anak berkebutuhan khusus," ujar dia.

Santi mencari informasi ke sana ke mari. Ia juga berkomunikasi dengan sejumlah orangtua yang mempunyai anak dengan kondisi serupa.

 


Mengurangi Gejala Kejang

pasangan suami-istri Santi Warastuti dan Sunarta berharap Mahkamah Konstitusi memberikan keputusan bijak terkait penggunaan ganja untuk kepentingan medis
Perbesar
pasangan suami-istri Santi Warastuti dan Sunarta berharap Mahkamah Konstitusi memberikan keputusan bijak terkait penggunaan ganja untuk kepentingan medis

Ternyata ada metode lain untuk mengobati Cerebral Palsy khususnya mengurangi gejala kejang.

"Saya buka google ternyata informasi di luar negeri sudah banyak pakai itu (ganja. Untuk atasi kejang. Banyak yang akhirnya tidak kejang. Itu berita bagus buat ibu-ibu punya anak seperti Pika," ujar dia.

Namun, metode ini ilegal di Indonesia karena pengobatan menggunakan tanaman ganja. Santi sendiri tak berani mencoba-coba pengobatan itu ke anaknya karena masih terjanggal aturan hukim di Indonesia.

"Otomatis saya punya keinginan itu untuk anak saya tapi kan di sini masih belum legal. Kalau menggunakan itu saya melanggar hukum. Nanti saya yang salah. Saya maunya tetap di jalur hukum," ujar dia.

Santi berharap ganja dilegalkan untuk keperluan medis. Karena kalau memang berhasil bukan cuma anak saja yang merasakan kebahagian tapi juga anak-anak lain yang bernasib serupa dengan Pika.

"Saya bukan mengingkan ganja legal untuk semua orang. Tapi ganja untuk medis yang terawasi oleh pihak medis, di atur pihak medis. Bukan yang bebas untuk semua orang. Saya memohon kepada MK segera memberikan kepastian ke pada kami," pinta Santi.

Infografis Mendorong Fatwa Ganja untuk Medis
Perbesar
Infografis Mendorong Fatwa Ganja untuk Medis (Liputan6.com/Abdillah)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya