Physical Distancing Tak Surutkan Kartini Samarinda Selamatkan Sungai di Tengah Pandemi Corona

Oleh Liputan6.comMaria Flora pada 22 Apr 2020, 02:10 WIB
Diperbarui 22 Apr 2020, 02:10 WIB
Ilustrasi sungai (iStock)
Perbesar
Ilustrasi sungai (iStock)

Liputan6.com, Jakarta - Di tengah pandemi Corona atau Covid-19 yang seharusnya melakukan physical distancing, tidak menyurutkan salah seorang "kartini" Kota Samarinda, Kalimantan Timur, untuk tetap berjuang "menyungaikan" sungai.

Dia adalah Naniek Hardjanie. Wanita berusia 62 tahun ini adalah mantan Kepala Instalasi Farmasi Kota Samarinda (yang mengelola kebutuhan obat untuk Puskesmas di Kota Samarinda).

Setahun, sebelum dia pensiun pada 2016 lalu, Naniek telah disibukkan dengan mengampanyekan sungai agar diperlakukan layaknya sungai bersama komunitasnya. 

Naniek mengaku kerap menyempatkan waktu untuk menanam bibit pohon dan membersihkan sampah disekitar aliran sungai. 

Kini setelah adanya wabah virus Corona, waktu luangnya lebih banyak dihabiskan untuk menanam pohon di jalur hijau Sungai Karang Mumus. 

"Kalau untuk menanam pohon di jalur hijau SKM tidak berpengaruh. Justru saat ini lebih aman guna menghindari keramaian di kota dan kejenuhan di rumah, dengan berkegiatan di SKM baik merawat atau menanam pohon, justru kita bisa melakukan 'physical distancing'," katanya dilansir Antara, Selasa (21/4/2020).

Sehari sebelum masuk Ramadan, ia juga berencana mengajak orang untuk merawat pohon yang sudah ditanam. 

"Perbedaannya, kalau selama pandemi ini, untuk sementara kita tidak melayani permintaan komunitas yang ingin bergabung merawat SKM, mereka tidak datang dengan jumlah banyak orang karena kita sama-sama menjaga jangan sampai ada penularan Covid-19," ucapnya.  

Naniek yang kerap disapa Keinan ini juga kerap mengingatkan teman-temannya selalu menjaga kesehatan di tengah pandemi Corona agar tubuh imun dan tidak mudah terserang berbagai jenis virus.

2 dari 3 halaman

Perlakukan Sungai Layaknya Sungai

Perjuangannya untuk memulihkan sungai sampai sekarang belum kendur meski sungai ini belum juga pulih. Ia menyebut menyungaikan sungai karena sungai memang harus diperlakukan layaknya sungai.

"Selama ini kebanyakan orang hanya berpikir bahwa sungai hanya untuk kepentingan manusia, sehingga pola pikirnya adalah bagaimana bisa menciptakan sungai yang indah dan nyaman untuk dinikmati manusia," katanya. 

Untuk itu, ia meminta masyarakat atau siapapun tidak menebang pohon yang tumbuh di Daerah Aliran Sungai (DAS) Karang Mumus maupun di sungai-sungai lainnya, karena banyak makhluk lain yang hidupnya bergantung pada alam. 

"Ruang sungai seperti rawa dan aneka pohon yang ada juga jangan dihabisi, karena bagian sungai yang terpenting adalah aliran airnya. Untuk menjaga kuantitas, kualitas, dan kontinuitas air sungai, pohon, rawa, dan bukit-bukit adalah penentunya," tutur Keinan. 

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓