Misteri Asal Dentuman Belum Terpecahkan, BMKG Sebut Tak Ada Kaitan dengan Gempa

Oleh Rita Ayuningtyas pada 11 Apr 2020, 13:37 WIB
Diperbarui 11 Apr 2020, 13:38 WIB
Memantau Aktivitas Gunung Anak Krakatau Lewat Seismograf
Perbesar
Petugas memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau lewat seismograf di sebuah pos pengamatan di Carita, Banten, Kamis (27/12). Petugas terus memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau pascatsunami Selat Sunda. (AP Photo/Achmad Ibrahim)

Liputan6.com, Jakarta - Rentetan dentuman mengagetkan masyarakat di Jakarta dan sekitarnya, di antara Jumat 10 April malam hingga Sabtu (11/4/2020) dini hari. Sampai siang ini, misteri asal dentuman itu belum terpecahkan.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut, dentuman ini tidak ada kaitan dengan letusan Gunung Anak Krakatau. Terlebih, letusan gunung yang terletak di Selat Sunda tersebut lebih kecil dari erupsi 22 Desember 2020.

Lalu, dari mana asal dentuman tersebut?

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono mengatakan, memang, Jumat 10 April malam. Gempa itu terjadi pukul 22.59 WIB.

"Tadi malam telah terjadi gempa bumi dengan magnitudo yang tidak signifikan 2,4 terjadi pukul 22.59 WIB ini berlokasi di 6,66 LS 105,14 BT berjarak 70 km arah barat daya Anak Gunung Krakatau dengan kedalaman 13 km," ujar Rahmat Triyono dalam siaran pers BMKG, Sabtu.

Namun, dia memastikan tidak ada laporan dari masyarakat terkait guncangan yang diakibatkan gempa itu.

"Dan tentunya dentuman yang dirasakan dan didengar masyarakat sekitar Jakarta kami yakini bukan diakibatkan gempa tektonik dengan magnitudo 2,4," kata Rahmat Triyono.

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Suara Apa?

Kabid Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono juga memastikan, dentuman yang beberapa kali terdengar dan membuat resah masyarakat Jabodetabek, tidak bersumber dari aktivitas gempa tektonik. Hasil monitoring BMKG menunjukkan tidak terjadi aktivitas gempa tektonik yang kekuatannya signifikan di wilayah Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Provinsi Banten.

Daryono mengatakan, pendapat Surono ahli Vulkanologi yang diunggah di channel youtube Andromeda Mercury perlu dipertimbangkan.

Pada video tersebut Surono mengatakan, tidak tahu betul dari mana sumber dentuman tersebut berasal. Saat kondisi sepi sekali akibat Pembatasan Sosial Berskala Besar, bisa saja suara yang tidak biasa terdengar menjadi terdengar. "Bisa saja seperti itu," kata Surono.

"Kecepatan suara bergantung pada kerapatan udara, tekanan udara di satu tempat. Saya kemungkinan masih mempercayai (suara dentuman) dari Anak Krakatau, sumber lain apa coba?" lanjut dia.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya