Curhat TKI Asal Kendal, Rela Tak Ketemu Anak-Istri Karena Harus Isolasi Diri

Oleh Gilar Ramdhani pada 05 Apr 2020, 20:35 WIB
Diperbarui 05 Apr 2020, 20:35 WIB
Rela Tak Ketemu Anak Istri, Demi Rampungkan Masa Isolasi
Perbesar
Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo yang touring ke desa-desa untuk mengecek tempat karantina menyempatkan waktu untuk menengok Sakur dan Anas.

Liputan6.com, Kendal Wabah corona yang terjadi di seluruh dunia membuat banyak Tenaga Kerja Indonesia di luar negeri memutuskan untuk kembali ke Tanah. Termasuk Sakur (35 Tahun) dan Anas Muhidin (24 Tahun) TKI di Malaysia yang berasal dari Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.

Baru dua hari lalu Sakur dan Anas menginjakkan kakinya di Desa Jungsemi Kecamatan Kangkung. Perjalanan panjang ditempuh keduanya dan harus melewati beberapa kali pengecekan sebelum tiba di kampung halamannya.

Sakur dan Anas yang meninggalkan Negeri Jiran sejak 31 Maret 2020 lalu harus menjalani isolasi selama tiga hari di Batam. Setelah dinyatakan sehat, keduanya diperbolehkan terbang ke Yogyakarta.

 

"Setelah tiga hari di sana (Batam), kami kemudian terbang ke Yogya dan baru tiba di rumah ini dua hari lalu. Kami langsung didata dan dicek kesehatannya. Setelah itu kami isolasi di rumah," kata Sakur saat ditemui di rumahnya, Minggu (5/4).

 

 

2 dari 3 halaman

Tidak Bisa Menggendong Anak

Setibanya di rumah, Sakur yang memiliki anak balita tak dapat melepas kangen padanya. Rasa kangen bertemu keluarga terpaksa dikubur dalam-dalam karena dirinya harus menjalani isolasi diri. Selama 14 hari tidak akan keluar rumah dan tidak berjumpa dengan keluarga.

"Anak saya balita, sejak pulang dari Malaysia, saya dan Anas langsung isolasi mandiri di rumah. Belum berani bertemu keluarga. Rasanya pengen gendong anak," ucap Sakur lirih.

Anaknya tinggal bersama ibunya di rumah belakang tempatnya melakukan isolasi. Meski dapat memandang dari kejauhan, namun ia sedih karena tidak bisa menggendongnya.

"Kalau dikatakan kangen, ya kangen sekali. Tapi belum berani ketemu. Biar menjaga satu sama lain. Saya tidak tahu, apakah saya membawa virus corona itu atau tidak, yang penting menjaga agar anak dan keluarga tidak tertular," imbuh Sakur.

Sakur dan Anas berangkat ke Malaysia untuk mengadu nasib. Keduanya bekerja di bagian kelistrikan dan mendapat upah 70 Ringgit sehari.

"Alhamdulillah uangnya masih ada, jadi kalaupun harus isolasi selama dua minggu, masih punya tabungan," timpal Anas.

 

3 dari 3 halaman

Dapat Bantuan Sembako

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo yang touring ke desa-desa untuk mengecek tempat karantina menyempatkan waktu untuk menengok Sakur dan Anas.

Dengan menjaga jarak dan mengenakan masker, Ganjar mengajak ngobrol dua warganya itu serta memberikan motivasi. Ganjar juga memberikan sembako kepada keduanya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari selama karantina.

"Pokoknya kudu sabar, sampai 14 hari harus karantina di rumah. Kalau merasa batuk, pilek dan demam, segera telpon bidan desa untuk dilakukan tindakan," kata Ganjar.

Ganjar mendoakan agar keduanya sehat dan tidak terpapar Covid-19. Meski begitu, ia tetap meminta agar Kepala Desa serta bidan desa selalu aktif melakukan pemantauan.

"Tidak hanya untuk mas Sakur dan mas Anas ini, nanti kalau ada warga lain yang mudik harus dikarantina selama 14 hari. Kita semua menjaga bersama, agar penyebaran virus ini tidak semakin meluas," imbuhnya.

Ganjar juga meminta masyarakat di sekitar untuk bergotong royong membantu saudara sekitar. Apabila ada salah satu warga yang terdampak, maka warga yang mampu harus mengulurkan bantuan.

"Hidupkan lagi lumbung desa, jimpitan dan giatkan sumbangan bagi mereka yang mampu. Tujuannya untuk membantu saudara-saudara kita yang terdampak," tutupnya.

Lanjutkan Membaca ↓