Kisah Perjuangan Pasien Covid-19 Melawan Corona hingga Meninggal Dunia

Oleh Yopi Makdori pada 31 Mar 2020, 19:48 WIB
Diperbarui 31 Mar 2020, 19:48 WIB
Kerabat Pasien Corona Depok Dibawa ke RSPI Sulianti Saroso
Perbesar
Petugas Dinas Kesehatan DKI Jakarta mengenakan pakaian pelindung khusus saat menangani pasien yang diduga terinfeksi Corona di Gedung Mawar RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso, Sunter, Jakarta, Senin (2/3/2020). (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Liputan6.com, Jakarta - Tak teras sudah sembilan hari sejak kakak kandung JD meninggal dunia karena Covid-19 akibat infeksi virus Corona. Ya, tepat pada 22 Maret lalu, kakak kandungan JD menghadap sang pencipta karena terjangkit virus mematikan tersebut.

Saat Facebook Live Liputan6.com, JD menceritakan bagaimana kakak dan keluarganya melawan wabah mematikan tersebut.

Menurut JD, sang kakak pada awal Maret hendak mendatangi pertemuan di Bogor. Karena tinggal jauh dari wilayah Jabodetabek, akhirnya dia menginap di rumah JD di daerah Bekasi.

"Selesai pertemuan itu, nginep lagi di rumah kita. Sempat juga ke Yogjakarta, ada pertemuan lain lagi," papar JD, Selasa (31/3/2020).

Sepulang dari Yogyakarta, JD mengungkapkan, kakaknya kembali lagi ke kediamannya untuk transit sebelum kembali bertolak ke kota asalnya. Saat itu, kakaknya mulai batuk-batuk.

"Rasanya, katanya tenggorokannya sangat sakit, lain daripada yang lain batuknya. Tenggorokannya terasa berbeda waktu itu," papar JD.

JD mengaku tak berpikir sang kakak terinfeksi virus Corona. Kala itu, dia menduga sang kakak hanya masuk angin biasa.

Pada 4 Maret, kakaknya bertolak dari Jakarta ke tempat tinggalnya. Tak lama, sang kakak diopname selama beberapa hari.

Virus Corona belum terdeteksi telah menginfeksi kakaknya. Bahkan, kakaknya sempat keluar dari rumah sakit, bahkan sempat kembali bekerja seperti biasa. Namun tak lama, kakaknya kembali merasa tak enak badan.

Akhirnya kembali masuk ke rumah sakit, yakni pada 14 Maret 2020.

"Dan di tanggal 15-nya kakak saya sudah suspect Covid-19. Sudah di-swab tapi hasilnya rupanya membutuhkan waktu beberapa hari," kata JD.

 

2 dari 5 halaman

Doa Dilantunkan

Mengintip Ruang Isolasi Pasien Virus Corona di RSUP Persahabatan
Perbesar
Tim medis menangani pasien dalam pengawasan (PDP) virus corona atau COVID-19 di ruang isolasi Gedung Pinere, RSUP Persahabatan, Jakarta Timur, Rabu (4/3/2020). RSUP Persahabatan tengah menangani 31 pasien dalam pemantauan dan pengawasan dari potensi terpapar virus corona. (merdeka.com/Iqbal Nugroho)

Tak menyangka, Corona yang dia pikir nan jauh di sana justru telah menginfeksi kakak tercintanya. Tak putus harapan, ia sekeluarga pun berdoa untuk kebaikan sang kakak.

JD menceritakan pada 19 Maret, hasil pengecekan swab kakaknya diterima pihak keluarga. Dinas kesehatan mengonfirmasi, benar, sang kakak terinfeksi virus Corona.

Seluruh keluarga merasa sedih mendengar hal tersebut. Yang lebih memprihatinkan adalah tatkala sang kakak semakin sulit untuk bernapas, sampai akhirnya harus menggunakan ventilator atau alat bantu napas.

"Pada 22 Maret kakak kami dipasang ventilator itu. Setelah dipasang itu kami sekeluarga sempat sangat sedih dan rasanya tuh masih berharap Tuhan memberikan mukjizat," tukas JD.

22 Maret dini hari, JD sempat terbangun mengingat kakak kandungnya itu. Saat hari masih gulita, dia berdoa kepada Tuhan supaya kakaknya itu bisa kembali sehat.

Namun, dia tetap ikhlas manakala Tuhan berkehendak lain.

Pada 22 Maret malam, JD tengah asik menikmati jamuan makan malam dengan keluarganya. Tak lama, ponselnya berdering.

Bagai disambar petir, dia mendapat kabar sang kakak telah pergi untuk selamanya.

"Ya, namanya manusia ya kita sudah pasrah kita sudah ikhlas tapi tetap saja sedih," ungkapnya.

 

3 dari 5 halaman

Tak Diizinkan Mengantar Jenazah

Kerabat Pasien Corona Depok Dibawa ke RSPI Sulianti Saroso
Perbesar
Petugas Dinas Kesehatan DKI Jakarta mengenakan pakaian pelindung khusus saat menangani pasien yang diduga terinfeksi Corona di Gedung Mawar RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso, Sunter, Jakarta, Senin (2/3/2020). (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Kesedihan yang dihadapi keluarganya, tak sampai di situ. JD mengungkapkan kesedihan keluarga semakin dalam, mana kala mereka tak diizinkan untuk mengantarkan jenazah kakaknya untuk terakhir kali.

"Dan waktu itu hanya dikirimkan oleh salah satu teman di sana bagaimana melepas jenazah kakak yang diurus langsung oleh pihak rumah sakit," tutur JD.

4 dari 5 halaman

Nasib JD dan Keluarga

Mengintip Ruang Isolasi Pasien Virus Corona di RSUP Persahabatan
Perbesar
Aktivitas tim medis saat menangani pasien dalam pengawasan (PDP) virus corona atau COVID-19 di ruang isolasi Gedung Pinere, RSUP Persahabatan, Jakarta Timur, Rabu (4/3/2020). Sebanyak 10 dari 31 pasien yang dipantau dan diawasi RSUP Persahabatan merupakan pasien rujukan. (merdeka.com/Iqbal Nugroho)

Usai kakaknya dinyatakan positif, secara otomatis, JD masuk ke kelompok orang dalam pemantauan. Namun, kala itu, dia mencoba berpikir positif kendati telah berhubungan dekat dengan sang kakak pada awal Maret.

Dia menilai tubuhnya masih sehat kendati telah merasakan gejala tak enak di tenggorokannya. Begitupula keluarganya yang lain.

"Saya sendiri juga merasakan radang tenggorokan. Itu radang tenggorokannya beda, lebih panas gitu," tutur JD.

JD dan keluarga kemudian menjaga supaya daya tahan tubuhnya tetap fit, yakini dengan mengonsumsi makanan bergizi dan meminum suplemen makanan.

Dia menekankan, pikiran positif begitu berpengaruh terhadap kesehatan mereka.

5 dari 5 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓