DPR Desak Pemerintah Pulangkan 4 Mahasiswa Indonesia yang Tertinggal di Wuhan

Oleh Yopi Makdori pada 29 Feb 2020, 11:10 WIB
Diperbarui 29 Feb 2020, 11:10 WIB
Orang-orang berjalan melewati Stasiun Kereta Api Hankou yang ditutup di Wuhan, Provinsi Hubei, China, Kamis (23/1/2020). Pemerintah China mengisolasi Kota Wuhan yang berpenduduk sekitar 11 juta jiwa untuk menahan penyebaran virus corona.

Liputan6.com, Jakarta - Anggota Komisi IX DPR RI, Saleh P Daulay mendesak pemerintah Indonesia untuk segera memulangkan empat mahasiswa Indonesia yang masih tertinggal di Wuhan, China.

"Saya mendesak pemerintah untuk segera melakukan langkah-langkah yang diperlukan untuk mengevakuasi mahasiswa Indonesia yang ada di Wuhan. Saya mendengar masih ada empat orang mahasiswa yang luput dari evakuasi," kata dia kala kepada Liputan6.com, Sabtu (29/2/2020).

Anggota dewan dari fraksi PAN itu meminta pemerintah untuk segera mencari informasi mengenai keberadaan dan kondisi dari keempat mahasiswa tersebut.

"Mereka ini kan sebenernya orang-orang sehat. Dan mereka juga bersedia dipulangkan dan mereka bersedia mengikuti seluruh peraturan observasi. Oleh karena itu sudah selayaknya pemerintah kita mencarikan jalan untuk memulangkan mereka ke tanah air," ucapnya.

Daulay menilai, di tengah ancaman wabah virus mematikan ditambah sesama warga Indonesia telah banyak yang pulang, maka saat ini mereka yang tertinggal menghadapi beban psikologis yang begitu berat.

"Masing-masing orang kan dengan suasana seperti ini sebetulnya kan panik. Tentu mahasiswa kita juga," tandasnya.

 

2 dari 3 halaman

Tak Lolos Kesehatan

Sebelumnya, pemerintah menyebut masih ada tiga mahasiswa Indonesia yang tertinggal di episentrum penyebaran virus corona di China. Kala itu pemerintah mengatakan, tiga WNI yang berstatus mahasiswa itu tertahan lantaran tidak lolos pemeriksaan kesehatan di bandara. Sementara sisanya menolak pulang karena alasan pribadi.

Namun ternyata bukan hanya tiga mahasiswa yang tertinggal. Mereka yang ingin pulang ke tanah air tapi gagal sejatinya berjumlah empat orang. Sementara yang memutuskan bertahan di Wuhan dan tidak mau dievakuasi berjumlah tiga orang.

"Itu keliru. Bukan empat yang memutuskan bertahan, tapi tiga orang. Sebenarnya ada empat mahasiswa di sini yang ingin pulang," ujar Humaidi Zahid saat berbincang dengan Liputan6.com, Kamis 27 Februari 2020 malam.

Humaidi yang akrab disapa Omed ini merupakan mahasiswa asal Desa Payaman, Solokuro, Lamongan, Jawa Timur yang menempuh studi S2 di Central China Normal University (CCNU), Wuhan. Dia tertinggal di Wuhan lantaran tidak lolos pemeriksaan kesehatan bersama dua mahasiswa lainnya.

Sempat tertahan beberapa jam di bandara, Omed dan dua temannya lantas dikembalikan ke asrama mahasiswa. Kini, mereka hanya menghabiskan waktunya di asrama hingga hari yang ditunggu-tunggu untuk bisa pulang ke Indonesia datang.

Omed menceritakan nasib satu rekannya yang bahkan tak sampai dijemput tim evakuasi ke bandara pada 2 Februari lalu. Saat Kota Wuhan diisolasi atau lockdown pada 23 Januari 2020, mahasiswa asal Batam, Kepulauan Riau yang tak disebut namanya itu tengah berada di luar kampus.

"Jadi kebetulan teman saya ini sedang main di tempat temannya, daerahnya pelosok sekali. Nah, bus tim evakuasi ini tidak bisa menembus ke daerah itu karena ada blokade-blokade di beberapa tempat. Bus penjemput akhirnya meninggalkan dia," katanya.

Hingga kini, satu mahasiswa yang tak sempat dijemput tim evakuasi itu masih bertahan di daerah terpencil. Jaraknya dari kampus cukup jauh, sekitar satu jam perjalanan menggunakan kereta cepat.

"Itu baru sampai kotanya. Masih jauh lagi ke pelosok. Saya lihat fotonya, rumahnya itu kayak di tengah-tengah sawah gitu," ucap Omed.

Sementara otoritas setempat terus meningkatkan keamanan. Sebelumnya, para mahasiswa masih boleh keluar area kampus, meski terbatas. Namun terhitung sejak 2 Februari 2020, pihak kampus menutup akses keluar masuk.

Meski begitu, Omed menyebut, kebutuhan logistik seperti makanan, obat-obatan, dan masker untuk dirinya dan dua mahasiswa lainnya yang tinggal di asrama aman karena dipenuhi pihak kampus. Namun tidak dengan satu temannya lagi yang masih terisolasi di luar kampus.

"Ketika tanggal 2 (Februari) itu gagal pulang, KBRI sebenarnya cepat tanggap. Kita dibuatkan grup khusus dengan KBRI untuk empat orang yang pengin pulang tapi enggak bisa. Yang tiga itu kan memang memutuskan stay di Wuhan, jadi tidak dimasukkan," kata Omed.

 

3 dari 3 halaman

Saksikan video di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓