Alasan Formula E di Monas, Sekda DKI: Biar Terkenal Dunia Akhirat

Oleh Delvira Hutabarat pada 21 Feb 2020, 02:00 WIB
Diperbarui 21 Feb 2020, 02:00 WIB
Sekda Pemrov DKI Saefullah (Liputan6.com/M Radityo)
Perbesar
Sekda Pemrov DKI Saefullah (Liputan6.com/M Radityo)

Liputan6.com, Jakarta - Sekretaris Daerah DKI Jakarta Saefullah menanggapi pernyataan dari Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri yang mempertanyakan alasan Pemprov DKI ngotot menggelar ajang Formula E di Monas.

"Kan kita ingin Indonesia ini dikenal ya di dunia dan akhirat. Ngapain tanggung-tanggung, terkenal di dunia, terkenal di dunia dan akhirat. Kan kita percaya setelah ada dunia, ada akhirat," ucap Saefullah dengan nada bergurau di Balai Kota DKI Jakarta, Kamis (20/2/2020).

Saefullah menyebut, Monas adalah ikon Jakarta dan Indonesia. Harapannya, dunia internasional akan tahu Indonesia dan Jakarta lewat Monas melalui balap Formula E.

"Monas itu kan ikon nasional yang kebetulan ada di Jakarta. Jadi ikon Jakarta juga. Kita ingin ini pada waktunya nanti ya disorot oleh banyak kamera TV nasional dan internasional sehingga, oh ini ada ya, namanya Tugu Monas, Monumen Nasional di Jakarta, Indonesia," katanya.

Menurut Saefullah, ajang Formula E sebagai ajang promosi pariwisata tidak hanya Jakarta melainkan Indonesia. Ia juga menegaskan tidak ada niat DKI merusak cagar budaya.

"Kan nggak ada yang dirusak. Siapa sih yang mau merusak? Nggak ada ya. Nggak ada yang merusak. Ini semua urusan membangun, nggak ada urusan merusak," tandas Saefullah.

2 dari 3 halaman

Pernyataan Megawati

PDIP Umumkan 48 Calon Kepala Daerah Pilkada 2020
Perbesar
Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri menyampaikan pidato saat pengumuman nama calon kepala daerah dan calon wakil kepala daerah di DPP PDIP, Jakarta, Rabu (19/2/2020). Pengumuman 48 nama calon yang akan maju Pilkada 2020 ini masuk dalam gelombang pertama. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Ketua Umum PDI Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri mempertanyakan keputusan Pemprov DKI Jakarta yang bakal menjadikan kawasan Monumen Nasional (Monas) sebagai titik perlintasan Formula E. 

"Gubernur DKI ini tahu apa tidak, kenapa bikin Formula E itu harus disitu? Kenapa Enggak ditempat lain, kan peraturan itu ya peraturan, kalian juga mesti tahu, jangan melanggar aturan," ujar Megawati saat berpidato di Kantor DPP PDIP, Jalan Diponegoro, Jakarta, Rabu (19/2/2020).

Megawati menilai, Pemprov DKI semestinya bisa menggelar Formula E ditempat lainnya. Sebagai cagar budaya, disayangkan bila kawasan Monas harus diubah karena gelaran Formula E. Terlebih memang ada aturan tidak boleh mengubah kawasan cagar budaya. 

"Monas itu di dalam keputusan peraturan itu adalah Cagar Budaya, tapi jangan pula saya dibentur benturkan sama Pak Anies (Baswedan), tapi saya hanya ngomong Monas itu adalah sudah pasti peraturan nya Cagar Budaya," kata Megawati. 

Menurut Mega, kawasan cagar budaya tidak boleh dipergunakan untuk apapun juga. Dia mencontohkan rumahnya di kawasan Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat.

"Apa artinya, tidak boleh dipergunakan untuk apapun juga, rumah saya TU (Teuku Umar) itu masuk dalan Cagar Budaya DKI, itu saya kalau betulin, mesti minta izin, karena ada hal-hal yang tidak ada di dalam arsitektur rumah yang lain. Ini kayaknya heran deh, kenapa ya, aneh buat saya," tuturnya.

Megawati kemudian teringat sang ayah, Presiden pertama RI Soekarno yang susah payah memperjuangkan Monas di DKI Jakarta. Dia heran mengapa gelaran formula e harus dilaksanakan di Monas.

"Kalau mau kompetisi nanti, tapi kalo di dalam peraturan, yang memang ada aturannya jangan coba langgar," tambah Mega.

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓