Cinlok di Karantina Natuna

Oleh Liputan6.com pada 19 Feb 2020, 09:08 WIB
Diperbarui 19 Feb 2020, 09:08 WIB
Pulang dari Karantina Virus Corona, Mahasiswa Aceh Disambut Keluarga
Perbesar
Sejumlah mahasiswa yang dipulangkan dari karantina virus corona atau COVID-19 di Natuna tiba di Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda, Blang Bintang, Aceh, Senin (17/2/2020). Empat mahasiswa Aceh tersebut dinyatakan terbebas dari virus corona. (CHAIDEER MAHYUDDIN/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Banyak kisah menarik para WNI saat diobservasi di Natuna usai dijemput dari Wuhan, China. Fadil (30), salah satu mahasiswa yang tengah belajar di Wuhan, menceritakan banyak cinta yang bersemi saat mereka diobservasi di Natuna.

Apalagi mereka berkumpul dari seluruh penjuru Nusantara ini. Bertemu dengan berbagai suku, ras dan etnis bersatu penuh dengan kekeluargaan.

Fadil bercerita, selain mendapatkan teman baru juga saudara baru, setiap hari mereka bertemu, olahraga, beraktivitas bersama, sehingga cinta bersemi tidak dapat dihindari. Mereka kembali dengan harapan baru menemukan pasangan hidupnya.

"Hal menarik, apa ya. Cinta lokasi mungkin ya," ucap Fadil sembari tertawa saat tiba di Bandara SIM.

Menurut Fadil, banyak terjadi cinta lokasi di sana. Karena sering bersama, ujar dia, berbagi kisah dan beragam cerita, sehingga membuahkan suatu rasa, hingga cinta bersemi di antara mahasiswa yang diobservasi di Natuna.

Namun, Fadil mengaku tidak mengalami cinta lokasi. Menurut dia, selama berada di Natuna , dirinya hanya fokus berjuang untuk mempertahankan hidup, sehingga tidak sempat memikirkan hal-hal seperti itu.

Fadil mengaku setelah situasi semua terkendali, dia akan kembali ke Wuhan untuk melanjutkan pendidikannya. Apalagi sekarang dia baru semester satu, masih panjang perjalanan untuk bisa memperoleh gelar doktor di sana.

Kendati demikian, pendidikan mereka tetap berjalan seperti biasa. Tetapi bedanya tidak bertatap muka. Tetapi mereka tetap belajar dan berkomunikasi dengan dosen di Wuhan melalui internet.

"Kita tetap belajar, tetapi kita lewat internet," ucapnya.

Fadil (30) berjalan tegap setiba di Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM), Blang Bintang, Aceh Besar, Selasa (18/2/2020). Menggunakan jaket kecokelatan, di dada kirinya tertempel bendera Merah Putih. Dia langsung disambut oleh rekan-rekannya yang sudah tiba sejam sebelumnya.

Dia tidak sendiri. Ada dua rekannya terbang dari Jakarta yang ikut diobservasi di Natuna selama 14 hari, yaitu Sapriadi dan Teuku Agusti Ramadhan. Masker tidak lagi menutup mulutnya. Begitu juga penumpang lainnya, semua tampak normal.

Fadil merupakan mahasiswa semester satu yang sedang mengambil studi doktor di Central China Normal University (CCNU), Wuhan, China. Selama wabah virus Corona, sekarang diubah nama COVID-19, Fadil merupakan satu di antara puluhan mahasiswa Aceh berjuang bertahan hidup melawan virus mematikan itu.

"Alhamdulillah sehat, dari awal kita sehat," kata Fadil.

Fadil bersama dua rekannya rombongan terakhir tiba di Banda Aceh usai menjalani observasi di Natuna selema 14 hari. Sehari sebelumnya ada 11 mahasiswa juga sudah tiba di Aceh.

Mereka tidak terbang secara bersamaan. Delapan di antaranya tiba Senin (17/2/2020) dibagi dalam dua jadwal penerbangan. Hayatul bersama tiga rekannya, Ory Safwar, Siti Mawaddah, dan Maisal Jannah rombongan pertama tiba.

Rombongan kedua yaitu Intan Maghfirah, Alfi Rian Tamara, Ita Kurniawati dan Jihadullah. Mereka mendarat pukul 10.35 WIB dengan maskapai Lion.

Tiba di bandara, delapan mahasiswa itu tidak hanya disambut oleh keluarga masing-masing, tetapi juga teman-teman mereka dari Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Tiongkok (PPIT) Aceh.

Total mahasiswa Aceh yang kuliah di Wuhan sebanyak 13 orang dinyatakan sehat. Semua mereka sudah berkumpul dengan keluarganya masing-masing. Begitu juga dengan 238 warga negara Indonesia (WNI) sudah kembali pada keluarga masing-masing.

2 dari 3 halaman

Dinyatakan Sehat

Setelah menjalani observasi di Natuna usai dijemput dari Wuhan oleh pemerintah Indonesia, seluruh mahasiswa sudah dinyatakan sehat dan terbebas dari virus tersebut.

Fadil berharap tidak ada lagi stigma negatif kepada seluruh mahasiswa yang diobservasi di Natuna. Ia berharap tidak ada lagi penolakan dari masyarakat. Semua ingin kembali bisa hidup dan berbaur dengan masyarakat seperti sediakala.

"Kita berharap jangan ada intimidasi, secara fisik, secara mental juga, kita akan kembali beraktivitas seperti biasa dengan masyarakat," ucapnya.

Sejak sebelum diobservasi di Natuna, Fadil mengaku semua dalam kondisi sehat, terutama mahasiswa asal Aceh. Sejak masih berada di Wuhan, tidak ada tanda-tanda terjangkit virus yang mematikan itu.

Sehingga masyarakat tidak perlu khawatir kepulangan mahasiswa asal China ke Tanah Air. Mereka sudah terbebas dari COVID-19, apa lagi setelah menjalani inkubasi di Natuna selama 14 hari.

"Kita sudah dinyatakan sehat, tidak perlu ada yang dikhawatirkan," ucapnya.

 

Reporter : Afif

Sumber: Merdeka

3 dari 3 halaman

Saksikan video di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓