3 Fakta di Balik Kejadian Para Santri Bogor Keracunan Air Minum

Oleh Liputan6.com pada 03 Feb 2020, 13:56 WIB
Diperbarui 03 Feb 2020, 13:56 WIB
Santri di Bogor Keracunan
Perbesar
Puluhan santri di Bogor keracunan air mineral. (Achmad Sudarno/Liputan6.com)

Liputan6.com, Jakarta - Puluhan santri Desa Singasari, Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor, Jawa Barat mengalami keracunan massal, Sabtu, 1 Februari 2020. Para santri tingkat SMA ini, mengeyam pendidikan di Pondok Pesantren Madinatul Qur’an.

Hal ini dibenarkan oleh Dokter piket RSUD Cileungsi Harry Fernando yang menangani peristiwa keracunan tersebut.

“Seluruh pasien langsung kita tangani pertama di IGD dan diobservasi serta dievaluasi,” ujar Harry, Minggu 2 Februari 2020.

Dari hasil diagnosa terhadap seluruh pasien tersebut, Harry mengatakan puluhan santri diduga keracunan makanan dan air mineral yang dikonsumsi pasien.

Lantas bagaimana peristiwa ini bisa terjadi ?

Berikut yang dihimpun oleh Liputan6.com

2 dari 4 halaman

Keracunan Usai Makan Malam

Nikmatnya Sahur Ramadan di Pesantren
Perbesar
Selain menciptakan kebersamaan, tradisi makan sahur dalam satu tampah bisa menambah nafsu makan para santri.

Awalnya, para santri makan malam bersama di dapur umum  Pondok Pesantren Madinatul Quran, Sabtu,1 Februari 2020.

Setelah itu, menurut Kepala Puskesmas Jonggol Dr Eva Christine mengatakan, 5 jam usai makan malam para santri mulai merasakan gejala mirip keracunan.

Para santri merasakan sakit di badannya, mereka mengeluh mual, pusing, muntah, pegal-pegal badan dan ada pula yang mencret.

3 dari 4 halaman

Dirawat

38 orang masih dirawat di Puskemas Kampung Laut akibat keracunan massal. (Foto: Liputan6.com/Nurindra Wahyu/Muhamad Ridlo)
Perbesar
38 orang masih dirawat di Puskemas Kampung Laut akibat keracunan massal. (Foto: Liputan6.com/Nurindra Wahyu/Muhamad Ridlo)

Setelah itu, para santri berbondong-bondong mencari pertolongan ke layanan kesehatan terdekat yaitu Puskesmas Jonggol, Bogor, Provinsi Jawa Barat.

Sayangnya, Pukesmas tersebut memiliki jumlah ruangan yang sangat terbatas. Puskesmas hanya bisa menampung delapan pasien.

Para santri yang belum mendapatkan perawatan, kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cileungsi, Jl. Raya Jonggol - Cileungsi No.KM.10, Cipeucang, Kec. Cileungsi, Bogor, Jawa Barat.

Menurut Dokter piket RSUD Cileungsi Harry Fernando mengatakan, sejak Sabtu 1 Februari 2020 sekitar pukul 07.00 WIB hingga 20.00 WIB, pihak rumah sakit telah menerima 43 pasien. 

Dari jumlah tersebut, saat ini terdapat 27 orang yang masih dirawat di RSUD Cileungsi. Sementara 13 orang sudah pulang, 21 orang masih dirawat inap, 6 pasien masih menjalani observasi, dan 3 pasien lainnya dirujuk ke rumah sakit atas permintaan orangtuanya masing-masing.

4 dari 4 halaman

Air yang Tidak Layak Minum

Liputan 6 default 3
Perbesar
Ilustraasi foto Liputan 6

Usai mendapatkan laporan tersebut, Kepala Puskesmas Jonggol Dr Eva Christine bersama petugas kesehatan lainnya langsung mememeriksa tempat pengolahan makanan santri di Pondok Pesantren tersebut.

Menurut keterangan Eva, menu makanan saat itu adalah bistik daging sapi dan sayur kangkung. Disisi lain, para santri tingkat SMP yang menyantap hidangan yang sama tidak merasakan keluhan apapun.

Kemudian, para petugas kesehatan memeriksa depo milik pesantren tersebut. Setelah ditelusuri dari sumber mata air yang dialirkan langsung ke tangki diketahui tidak terlindungi dengan baik.

"Kualitas sumber air tidak sesuai, secara fisik terlihat berwarna, tidak jernih. Pernah terjadi permasalahan kesehatan pada santri SMP karena meminum air depo tersebut, dan akhirnya oleh santri SMP air itu tidak lagi untuk dikonsumsi," ungkapnya.

 

 (Rizki Putra Aslendra)

Lanjutkan Membaca ↓