Kala Megawati Selamatkan Tanaman dari Penggusuran di Bekasi dan Karawang

Oleh Putu Merta Surya Putra pada 02 Feb 2020, 15:17 WIB
Diperbarui 02 Feb 2020, 18:23 WIB
Suasana Penutupan Rakernas PDI Perjuangan

Liputan6.com, Jakarta - Presiden kelima RI Megawati Soekarnoputri dikenal dengan kepedulian dan kecintaannya akan tanaman. Bahkan ini dilakukannya sedari dulu.

Salah satu bentuk kepeduliannya adalah sempat menyelamatkan tanaman lantaran hampir dirusak oleh program pembangunan kawasan industri serta persawahan di Bekasi dan Karawang, Jawa Barat. Hal itu terjadi pada akhir tahun 1980-an. Dalam kapasitasnya sebagai anggota DPR RI, Megawati menolak rencana penimbunan area persawahan di Bekasi dan Kerawang untuk kawasan Industri dan lapangan golf.

"Namun kekuatan politik saat itu tidaklah cukup, terlebih menghadapi rezim otoriter," kata Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto di hadapan peserta pencanangan Leuweung Padjajaran di Pusat Penelitian Teh dan Kina, Pasir Jambu, Bandung Barat, Minggu (2/2/2020).

Merasa gelisah melihat sawah akan ditimbun, masih kata Hasto, Megawati mendatangi embung yang esok harinya akan ditimbun. Di sana, akhirnya dia melihat pohon teratai, dan kemudian menyelamatkannya.

"Rasa sayangnya terhadap tanaman teratai yang ada di embung tersebut, mendorongnya untuk turun tangan langsung, mengambil tanaman teratai tersebut dan memindahkannya di tempatnya di Kebagusan. Teratai pun diselamatkan," kata Hasto.

 

2 dari 3 halaman

Pragmatisme Pembangunan

Maka tak heran, lanjut Hasto, bila pada hari ini pihaknya mencanangkan Gerakan Merawat Bumi lewat Leuweuh Padjajaran. Gerakan ini bersifat wajib bagi seluruh anggota dan kader Partai.

"Jawa Barat sengaja di pilih sebagai pusat kegiatan. Mengapa? Karena di provinsi ini, kita bisa belajar dari kebijakan yang salah di masa lalu. Pada zaman Pak Harto, proses modernisasi melalui industrialisasi dilakukan dengan mencabut hak hidup petani dari akar kehidupan pertanian," ujar Hasto.

"Hilangnya ribuan hektare lahan pertanian sangat subur adalah bukti nyata pragmatisme pembangunan yang tidak berakar pada kebudayaan bangsa," pungkasnya.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓