Puluhan Santri di Bogor Keracunan Usai Minum Air Mineral

Oleh Achmad Sudarno pada 02 Feb 2020, 14:25 WIB
Diperbarui 02 Feb 2020, 14:25 WIB
Santri di Bogor Keracunan
Perbesar
Puluhan santri di Bogor keracunan air mineral. (Achmad Sudarno/Liputan6.com)

Liputan6.com, Jakarta - Puluhan santri di Desa Singasari, Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor, Jawa Barat mengalami keracunan usai meneguk air minum dari depo tempat mereka menimba ilmu di Pondok Pesantren Madinatul Quran.

Dari sekitar 50 santri yang keracunan, 38 orang di antaranya sampai saat ini masih dirawat intensif di Puskesmas Jonggol dan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cileungsi, serta rumah sakit lainnya di kawasan Bogor.

Dokter piket RSUD Cileungsi Harry Fernando mengatakan, sejak Sabtu 1 Februari 2020 sekitar pukul 07.00 WIB hingga 20.00 WIB, pihak rumah sakit telah menerima 43 pasien. Mereka mengeluhkan pusing, pegal-pegal, mual, muntah, dan diare.

"Seluruh pasien langsung kita tangani pertama di IGD dan diobservasi serta dievaluasi," ujar Harry, Minggu (2/2/2020).

Dari jumlah tersebut, saat ini terdapat 27 orang yang masih dirawat di RSUD Cileungsi. Sementara 13 orang sudah pulang, 21 orang masih dirawat inap, 6 pasien masih menjalani observasi, dan 3 pasien lainnya dirujuk ke rumah sakit atas permintaan orangtuanya masing-masing.

"Untuk 3 pasien di ambil orangtuanya masing-masing untuk pindah rumah sakit dekat rumahnya," kata Harry.

Dari hasil diagnosa terhadap seluruh pasien tersebut, lanjut Harry, puluhan santri diduga keracunan makanan dan air mineral yang dikonsumsi pasien.

"Rata-rata pasien mengeluhkan mual, pusing, muntah, pegal-pegal badan dan ada beberapa yang mencret," kata dia.

 

2 dari 3 halaman

Kronologi Keracunan

Kepala Puskesmas Jonggol Dr Eva Christine mengatakan, para santri Ponpes Madinatul Quran tingkat SMA itu mulai merasakan gejala mirip keracunan sekitar 5 jam usai makan malam dari dapur umum dan mengonsumsi air minum dari depo milik pesantren.

Secara bertahap, santri mendatangi Puskesmas Jonggol dengan keluhan yang sama. Karena jumlah ruangan sangat terbatas, sehingga hanya bisa menampung 8 pasien dan selebihnya dirujuk ke RSUD Cileungsi.

"Setelah menerima informasi itu, kami langsung mengecek tempat pengolahan makanan santri. Menu makanan saat itu bistik daging sapi dan sayur kangkung. Hidangan itu juga dikonsumsi oleh santri SMP, tapi mereka tidak ada keluhan apapun," terangnya.

Petugas kesehatan kemudian memeriksa depo milik pesantren tersebut. Setelah ditelusuri dari sumber mata air yang dialirkan langsung ke tangki diketahui tidak terlindungi dengan baik.

"Kualitas sumber air tidak sesuai, secara fisik terlihat berwarna, tidak jernih. Pernah terjadi permasalahan kesehatan pada santri SMP karena meminum air depo tersebut, dan akhirnya oleh santri SMP air itu tidak lagi untuk dikonsumsi," ungkapnya.

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓