Hari ke-18 Usai Banjir Bandang di Lebak, Pengungsi Mulai Terserang ISPA

Oleh Yandhi Deslatama pada 18 Jan 2020, 20:17 WIB
Diperbarui 18 Jan 2020, 20:17 WIB
Ratusan warga korban banjir bandang mengeluhkan sakit ISPA, gatal-gatal, hingga diare.
Perbesar
Ratusan warga korban banjir bandang di Lebak mengeluhkan sakit ISPA, gatal-gatal, hingga diare. (Liputan6/Yandi Deslatama)

Liputan6.com, Jakarta - Ratusan warga korban banjir bandang mengeluhkan sakit ISPA, gatal-gatal, hingga diare. Beruntung hingga hari ke-18 banjir bandang dan longsor di Kabupaten Lebak, Banten, belum ditemukan penderita leptosperosis atau penyakit yang ditimbulkan oleh air kencing dan kotoran tikus yang tergenang air banjir.

"Leptosperosis, kita juga tetap menanyakan ke pasien, tapi sampai siang ini kita belum menemukan," kata dr. Irfan Maulani, pengurus Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) Banten, ditemui dilokasi pengobatan gratis bagi korban banjir bandang di Kampung Paniis, Desa Lebak Gedong, Kecamatan Lebak Gedong, Kabupaten Lebak, Banten, Sabtu (18/1/2020).

Selain memberikan pengobatan gratis bagi korban banjir bandang dan longsor, para dokter dari PAPDI Banten bersama tim Dokkes Polda Banten juga memberikan bantuan seragam sekolah bagi para siswa Sekolah Dasar (SD).

Mengerahkan 12 dokter spesialis dan 10 perawat, mereka memberikan pelayanan kesehatan gratis kepada para korban. Pengobatan gratis kerap mereka lakukan di setiap bencana, seperti saat Tsunami Selat Sunda tahun 2018 lalu. Mereka mengaku siap jika ada korban bencana alam di Kabupaten Lebak yang membutuhkan tindakan medis lebih lanjut.

"Kegiatan rutin kita setiap ada bencana. Seperti yang gawat darurat tetap kita tindak lajuti, jika ada yang perlu di rujuk, kita rujuk," terangnya.

Sedangkan menurut dr. Eko Yuniarto, kepala Rumah Sakit (RS) Bhayangkara Polda Banten, berdasarkan catatan dari tim kesehatan Polda Banten, korban bencana alam banyak yang mengeluhkan batuk, pilek, flu, masuk angin, kelelahan hingga sulit tidur. Kondisi itu disebabkan lantaran mereka masih tinggal di pengungsian hingga cuaca yang kerap kali turun hujan.

"Keluhan paling banyak ISPA, batuk, flu, pilek, diare. Untuk orang tua hypertensi, ada juga sudah tidur, karena mereka memikirkan paska banjir mau seperti apa," kata dr. Eko Yuniarto, ditempat yang sama, Sabtu (18/01/2020).

2 dari 3 halaman

Dirikan 3 Posko

Dokter berpangkat Komisaris Polisi (Kompol) ini memberitahu kepada para korban yang ingin berobat secara gratis bisa mendatangi tiga posko milik tim kesehatan Polda Banten.

"Dari Biddokkes Polda Banten, bisa di (Posko) Sajira, di Lebak Gedong dan ada di pesantren. Setiap hari kita piketkan memberikan pelayanan kesehatan ke korban. Sekarang sudah (memasuki) tahap trauma healing, pendidikan. Ke posko induk sekitar ada 100 orang setiap hari, selama pengobatan itu belum ada sampai ke rujukan ke rumah sakit," jelasnya.

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓