13 Tahun Aksi Kamisan, Suara Tuntaskan Impunitas

Oleh Liputan6.com pada 16 Jan 2020, 21:17 WIB
Diperbarui 16 Jan 2020, 22:45 WIB
13 Tahun Aksi Kamisan di Depan Istana Negara

Liputan6.com, Jakarta Didampingi Koordinator KontraS Yati Andriani, Maria Catarina Sumarsih (67) kembali menggelar Aksi Kamisan di Istana Negara. Hari ini, Kamis (16/2/2020), aksi tersebut memasuki tahun ke-13.

Aksi Kamisan merupakan sebuah aksi damai untuk bertahan dalam berjuang membongkar fakta kebenaran, mencari keadilan, melawan lupa dan melawan impunitas.

Sumarsih merupakan ibu dari Benardinus Realino Norma Irawan, mahasiswa Universitas Atma Jaya yang tewas saat Tragedi Semanggi I pada 11-13 November 1998.

Aksi yang dimulai dengan longmarch mengelilingi istana kepresidenan mendapat pengawalan ketat petugas. Bahkan para peserta aksi sempat di halangi oleh pihak kepolisian.

Aksi kamisan merupakan sebuah aksi damai untuk bertahan dalam berjuang membongkar fakta kebenaran, mencari keadilan, melawan lupa dan melawan impunitas. (Foto: Liputan6/Rizki Putra Aslendra)

Bedasarkan pantuan Liputan6.com, peserta mulai melakukan long march sekitar pukul 15.20 WIB yang di mulai dari pintu masuk Monumen Nasional (Monas) di seberang Istana. Para peserta Aksi Kamisan terlihat berpakaian hitam dan membawa payung bernada sama.

Sepanjang perjalanan, mereka meniupkan peluit panjang yang menandakan bahwa negeri ini sedang kritis dan butuh pertolongan.

2 of 2

Layangkan Protes

13 Tahun Aksi Kamisan di Depan Istana Negara
Aksi kamisan merupakan sebuah aksi damai untuk bertahan dalam berjuang membongkar fakta kebenaran, mencari keadilan, melawan lupa dan melawan impunitas. (Foto: Liputan6/Rizki Putra Aslendra)

Aksi protes sempat dilayangkan Sumarsih ketika ingin menebar bunga sebagai pertanda duka di depan gerbang istana dihalangi petugas.

"Izinkan saya meletaki bunga ini di depan gerbang," teriak keras Sumarsih ketika berusaha meletakan bunga di depan pintu gerbang Istana Negara, Kamis, (16/1/2020).

Protes dilakukan ketika berusaha meminta keadilan untuk mengungkap kematian anaknya.

"Ini melambangkan betapa sulitnya penyelesaian kasus bagaimana sulitnya memperjuangkan kasus hukum dan HAM di Indonesia," ucap ibu dari Benardinus Realino Norma Irawan, mahasiswa Universitas Atma Jaya yang tewas saat Tragedi Semanggi I.

Dari depan Istana, Aksi Kamisan berlanjut di depan Sekretariat Negara. Secarik surat kembali dikirimkan. Kali ini berisi tentang peringatan 13 tahun kamisan serta menuntut bencana impunitas yang belum tuntas.

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait