Lapan Rilis Data Satelit Bencana Longsor di Sukajaya Bogor

Oleh Liputan6.com pada 10 Jan 2020, 09:47 WIB
Diperbarui 10 Jan 2020, 09:47 WIB
bogor
Perbesar
Lokasi banjir bandang dan longsor yang melanda Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat pada Rabu (1/1/2020) lalu. (Liputan6.com/Achmad Sudarno)

Liputan6.com, Jakarta - Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) mengeluarkan informasi data satelit penginderaan jauh titik bencana longsor di Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Kepala Bidang Diseminasi Pusat Pemanfaatan Penginderaan Jauh LAPAN M Priyatna di Jakarta, Jumat (10/1/2020) mengatakan, informasi longsor berbasis data satelit penginderaan jauh tersebut diperoleh dengan menggunakan data unmanned aerial vehicle (UAV).

Lapan melakukan perekaman data satelit terkait kondisi lokasi bencana di Sukajaya pada 7 Januari 2020, dan hasil analisa menunjukkan terdapat 20 titik lokasi bangunan rusak dan lima titik lokasi jalan yang mengalami kerusakan.

Sebelumnya, Lapan juga sudah mengeluarkan informasi genangan banjir berbasis data satelit penginderaan jauh untuk wilayah Provinsi Banten dan sekitarnya, serta Kabupaten Karawang dan sekitarnya. Untuk mendeteksi banjir tersebut, Lapan menggunakan citra Sentinel-1 pada sebelum dan setelah kejadian.

Terlihat dari data citra satelit tersebut wilayah terluas yang terdampak banjir adalah Kabupaten Karawang, Kabupaten Bekasi dan Kota Bekasi.

Sedangkan di Banten menyebar di Kabupaten Pandeglang, Kota Serang, Kabupaten Serang, Kota Cilegon, Kabupaten Lebak, Kota Tangerang, Kota Tangerang Selatan. Lapan juga mengeluarkan data satelit titik banjir di DKI Jakarta tanggal 2 Januari 2020, dan terlihat hampir di sejumlah wilayah DKI Jakarta terdapat genangan, tampak Jakarta Utara dan Jakarta Pusat terbanyak ditutupi warna biru yang berarti genangan banjir.

"Sementara tidak ada. Karena data satelit berawan, namun kita sedang koordinasi dengan mitra kerja sama riset terkait penginderaan jauh di luar negeri, tentang ketersediaan atau perekaman datanya," kata Priyatna seperti dikutip Antara, Jumat (10/1/2020).

Saksikan video pilihan di bawah ini:


Analisa dari Sadewa

Lapan melakukan analisis kondisi atmosfer melalui Sadewa atau Satellite-Based Disaster Early Warning System merupakan Decission Support System (DSS) yang dikembangkan oleh Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer (PSTA) LAPAN.

Sadewa menyajikan informasi berbasis pengamatan termasuk liputan awan dari satelit Himawari-8 dan prediksi parameter atmosfer seperti curah hujan, angin, suhu, dan kelembaban.

Berdasarkan pantauan satelit itu, sel konveksi (molekul cairan dan gas) yang tumbuh menjadi sistem konvektif skala meso (MCC) terbentuk di sekitar Selat Karimata sejak pagi pada 31 Desember 2019.

Pembentukan MCC di wilayah tersebut bersamaan dengan pembentukan Cross-Equatorial Northerly Surge (CENS) di wilayah yang sama. Untuk diketahui, CENS merupakan fenomena meteorologis berupa aliran angin permukaan yang sangat kuat melintasi garis ekuator.

Aktivitas CENS yang menguat terus terjadi hingga sore hari pukul 15.00 WIB, dan secara cepat membuat MCC tersebut bermigrasi ke Laut Jawa. Selain berpindah, pertumbuhan sel-sel konveksi yang baru juga terjadi sangat intens dan meluas meliputi seluruh Laut Jawa.

Kondisi inilah yang kemudian memicu pembentukan hujan ekstrem maksimum pada tengah malam hingga dini hari di atas pantai utara Jawa Barat.

Aktivitas CENS dan hujan ekstrem pada dini hari di utara Jawa Barat tersebut dapat diprediksi melalui Sadewa Lapan.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya