Kisah Haru Putri Korban Bus Masuk Jurang Pagar Alam Menikah di Depan Jenazah Ayah

Oleh Liputan6.com pada 26 Des 2019, 07:17 WIB
Diperbarui 26 Des 2019, 07:17 WIB
Evakuasi Menegangkan 6 Korban Bus Sriwijaya di Sungai Lematang Pagar Alam
Perbesar
Tim evakuasi berhasil menemukan 6 jasad korban Bus Sriwijaya di Sungai Lematang Pagar Alam Sumsel (Dok. Humas Basarnas Palembang / Nefri Inge)

Liputan6.com, Jakarta - Dwi Fitria Rahmadi, anak perempuan dari salah satu korban kecelakaan maut Bus Sriwijaya yang masuk jurang di Liku Lematang, Kota Pagar Alam, Sumatera Selatan (Sumsel) memutuskan untuk menikah di depan jenazah ayahnya, Warsono (62).

Pernikahan Dwi dengan seorang lelaki bernama Rahmad Kasmantri berlangsung Rabu 25 Desember 2019 pagi di Dusun 1 Perajen RT 1, Kelurahan Mariana, Banyuasin I, Kabupaten Banyuasin, Sumsel.

"Awalnya akad nikah direncanakan pada 29 Desember 2019, namun karena kondisinya berkabung jadi kedua keluarga sepakat memajukan waktu akad hari ini (25/12)," kata besan alamarhum Warsono, Kasim usai prosesi akad nikah.

Dilansir Antara, Dwi tampak tak bisa membendung air matanya saat prosesi akad nikah. Hari paling bahagianya memang dihadiri sang ayah, namun dalam kondisi tak bernyawa. Kesedihan juga dirasakan anggota keluarga lainnya.

Meski begitu, Dwi berusaha tabah dan ikhlas melepas kepergian sang ayah. Proses akad nikah berjalan lancar. Selanjutnya, warga langsung memakamkan jenazah Warsono di tempat pemakaman umum (TPU) Desa Perajen.

Selain Warsono, diketahui ada empat warga Desa Perajen lainnya yang menjadi korban kecelakaan maut Bus Sriwijaya masuk jurang di Pagar Alam, Sumsel pada Senin malam, yakni Ulul Azmi (15), Selvi (16), M Ikbal (13), dan Amelia Sapira (13).

 

2 dari 4 halaman

Jemput Cucu di Pesantren

Banyak Korban Bus Sriwijaya Masuk Jurang Terseret Arus Sungai Pagar Alam
Perbesar
Korban Bus Sriwijaya lainnya yang ditemukan di jurang Sungai Lematang Pagar Alam Sumsel (Dok. Humas Basarnas Palembang / Nefri Inge)

Kepala Desa Perajen, Anhar mengatakan, keempat korban tersebut merupakan warganya yang bersekolah di salah satu pesantren di Bengkulu. Warsono dan keempat korban lainnya juga masih terikat dalam hubungan kekeluargaan.

"Dia (Warsono) itu ke Bengkulu ingin jemput cucunya (Akbar) dan yang lain karena tantenya (Dwi) akan menikah, tapi apa daya takdir berkata lain," kata Anhar.

Kelima jenazah dikebumikan secara kolektif di lokasi yang sama atas kesepakatan keluarga.

Anhar tidak menyangka lima warganya menjadi korban kecelakaan Bus Sriwijaya. Warsono sendiri dikenal ramah, murah senyum dan baik selama hidupnya.

Sebagai ungkapan duka cita, Wakil Bupati Banyuasin, Slamet, datang langsung menjadi saksi pernikahan Dwi dan Rahmad, ia juga menyampaikan duka cita dari Bupati Banyuasin, Askolani kepada keluarga korban.

 

3 dari 4 halaman

Masuk Jurang

Bangkai Bus Sriwijaya yang terjun ke jurang di Pagar Alam Sumatera Selatan
Perbesar
Evakuasi bangkai Bus Sriwijaya yang terjun ke jurang di Pagar Alam Sumatera Selatan. (Nefri Inge/Liputan6.com)

Sebelumnya Bus Sriwijaya Jenis Mitsubishi Fuso Plat No Polisi BD 7031 AU rute Bengkulu - Palembang terjun ke jurang di Liku Lematang Jalan Lintas Pagaralam - Lahat KM 9, Desa Plang Kenidai, Kecamatan Dempo Tengah, Kota Pagaralam pada Senin malam pukul 23.15 WIB.

Bus tak mampu menanjak sehingga mundur dengan kecepatan tinggi lalu menabrak beton pembantas kemudian terjun dari ketinggian 80 meter, Liku Lematang memang dikenal cukup rawan karena kerap terjadi kecelakaan terutama saat jalur licin.

Data tim SAR terbaru hingga Rabu pukul 16.00 WIB, korban meninggal dunia tercatat 34 orang, terdiri dari 16 laki-laki dan 12 perempuan, serta korban selamat sebanyak 13 orang, sehingga total yang telah dievakuasi sebanyak 47 korban.

4 dari 4 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓