Kisah Pengemis Tajir Sepanjang 2019

Oleh Mevi Linawati pada 23 Des 2019, 07:46 WIB
Diperbarui 23 Des 2019, 07:46 WIB
Ilustrasi uang (sumber: iStockphoto)

Liputan6.com, Jakarta - Pengemis kaya atau tajir menjadi salah satu fenomena menarik sepanjang 2019. Sebab, di balik tampang memelas, mengiba, dan kumal, mereka membawa pundi-pundi rupiah yang jumlahnya mencengangkan.

Dari hasil mengiba, puluhan juta hingga ratusan juta rupiah pun bisa didapat. Bahkan, ada pengemis yang mengaku memliki harta Rp 1 miliar dan memiliki mobil. 

Liputan6.com mencatat, sepanjang 2019 terdapat setidaknya empat pengemis yang menghebohkan publik lantaran menyimpan uang dengan jumlah bikin geleng-geleng kepala. 

Para pengemis yang rata-rata sudah berusia lanjut ini ternyata sudah berulangkali diciduk dinas sosial untuk dibina dan dikembalikan ke pihak keluarga. Namun, mereka kembali melakukan aksi meminta belas kasihan.

Berikut informasi selengkapnya mengenai pengemis tajir yang ditemukan selama 2019:

2 dari 6 halaman

Muklis si Pengemis Tajir Gandaria

Muklis, pengemis di Jaksel ini kedapatan membawa uang Rp 194 juta.
Muklis, pengemis di Jaksel ini kedapatan membawa uang Rp 194 juta. (Ady Anugrahadi/Liputan6.com)

Muklis Muctar Besani (65) terjaring razia petugas Dinas Sosial di kawasan Gandaria Jakarta Selatan, pada Jumat 29 November 2019.

Dari tas yang dibawa Muklis petugas mendapati uang dengan ragam pecahan Rp 100 ribu, Rp 50 ribu, dan Rp 20 ribu. Totalnya mencapai Rp 194,5 juta.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Suku Dinas Sosial Jakarta Selatan Mursyidin mengatakan, petugas telah memantau Muklis sejak tiga bulan terakhir. Muklis tak pernah berhenti menadahkan tangan ke pejalan kaki yang melintas selama petugas membuntuti aktivitasnya.

"Kami tidak serta-merta menangkap, kami rekam bagaimana pengemis beraksi. Biasanya di depan bank, minimarket, dan tempat-tempat yang berpotensi orang-orang memberikan uang Rp 2 ribu atau Rp 3 ribu," ucap Mursyidin saat dihubungi Liputan6.com, Jumat 29 November 2019. 

Muklis beranjak dari rumahnya di Bukit Indah Ciputat, Tangerang Selatan pada pukul 06.00 WIB ke tempat-tempat strategis di wilayah Kebayoran baru, dan Kebayoran Lama. Ia menyambangi setiap perbankan, dan retail. Uniknya, ketika uang hasil mengemis yang didapat sudah lumayan banyak akan ditukarkan ke bank

"Dari puluhan ribu menjadi ratusan ribu sehingga uang dia bagus-bagus," ucap dia.

Muklis kemudian menaruh uang-uang itu ke dalam ranselnya. Hingga kini terkumpul Rp 194,5 juta.

Ini bukan yang pertama kali Muklis terciduk petugas Suku Dinas Sosial Jakarta Selatan. Pada 2017 lalu Muklis juga pernah tertangkap dengan bukti uang Rp 82 juta.

"Yang pertama kami masukan ke panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 1 Kedoya, kemudian kami hubungi keluargannya. Setelah dibina, sanak keluarga menjemput ya dipulangkan. Singkat cerita mereka membuat pertanyaan tidak mengemis. Tapi nyatanya tidak demikian," ucap dia.

Mursyidin mengatakan, Muklis mempunyai target apabila sudah terkumpul Rp 200 juta akan dipakai untuk modal usaha dan membangun rumah di Kampung Jambi

"Uang dan pengemis ada di Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya. Duitnya nanti dikembalikan," tutup dia.

3 dari 6 halaman

Pengemis Sragen Punya Tabungan dan Deposito

Pengemis Tajir di Sragen
Isi tas dan kantong plastik milik pengemis tajir di Sragen terdapat uang Rp12 juta dan deposito Rp25 juta. (Solopos.com/ Tri Rahayu)

Pengemis bernama Cipto Wiyono Sukijo (74) ditangkap petugas gabungan Satpol PP dan Dinsos Sragen. Di tas dan kantong plastik miliknya terdapat uang Rp12 juta dan deposito Rp25 juta.  

Dia terjaring razia tim gabungan pada Rabu 28 Agustus 2019, di simpang empat radio umum Cantel Kulon, Sragen Kota. Dia kemudian dibawa ke Rumah Singgah Dinsos Tlebengan, Sragen Tengah, Sragen.

"Masih ada tabungan berisi Rp22.000 dan deposito senilai Rp25 juta di BNI. Jadi total uang yang ada dalam tas itu senilai Rp37.441.000. Kami tidak mengira tas kumal itu berisi uang yang cukup fantastis bagi seorang pengemis," ujar Kasi Operasi Pengendalian Gangguan Ketentraman dan Ketertiban Satpol PP Sragen, Sriyono dikutip Solopos.com, Selasa 3 September 2019.

Cipto Wiyono Sukijo diketahui merupakan warga Dukuh Sundoasri RT 019, Desa Banaran, Kecamatan Sambungmacan, Sragen. Cipto mengalami gangguan jiwa. Kakek-kakek itu mengemis dengan membawa tas hitam itu ke mana-mana sambil berkalung radio.

Kasi Operasi Pengendalian Gangguan Ketentraman dan Ketertiban Satpol PP Sragen, Sriyono mengatakan, Cipto sudah tertangkap Satpol PP dua kali. Pertama pada Februari 2019 lalu, saat itu ia juga membawa tas berisi uang tunai senilai Rp5 juta dan deposito Rp25 juta.

Sriyono mendapat informasi dari warga, Cipto si pengemis tajir kerap mengancam orang yang tidak memberi uang menggunakan tongkat besi yang dibawanya.

Bahkan Kasi Rehabilitasi Sosial Tuna Sosial Dinsos Sragen, Ine Marliah, mengatakan kondisi kejiwaan Cipto tidak stabil, sehingga perlu dibawa ke RSJ. Setiap barang yang dibawa pengemis ini, kata dia, diperiksa dan disaksikan yang bersangkutan.

4 dari 6 halaman

Pengemis di Bogor Punya Mobil

Viral Bermobil, Satpol PP Amankan Pengemis Tanpa Hidung di Bogor
Pengemis yang sempat viral saat diinterogasi petugas Dinas Sosial di Kantor Dinsos, Jalan Merdeka, Bogor, Jawa Barat, Rabu (20/3). Pengemis tersebut juga membantah kabar bahwa dia sebagai juragan angkot. (merdeka.com/Arie Basuki)

Pengemis bernama Herman diamankan anggota Satpol PP Kota Bogor saat mengemis di Yasmin, Jalan Abdullah bin Nuh, Kota Bogor, Rabu 20 Maret 2019. Sosoknya sempat populer lantaran beberapa hari sebelum razia, dia kedapatan hendak mengemudikan mobil minibus untuk meninggalkan lokasi tempatnya mengemis.

Terkuaknya seorang pengemis tua memiliki mobil itu berawal saat sejumlah anggota Satpol PP sedang melakukan giat penertiban alat peraga kampanye di kawasan Jalan Abdullah bin Nuh, tepatnya di Simpang Yasmin pada Senin 18 Maret 2019.

Karena dikira kedatangan petugas Penegak Perda yang hendak melakukan razia Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS), pria yang belum diketahui identitasnya itu terlihat tergesa-gesa masuk area parkir gedung dekat Lotte Mart.

Secara kebetulan, kendaraan yang ditumpangi petugas Satpol PP pun masuk ke tempat yang dituju kakek tersebut dan parkir saling berdekatan.

Karena takut digelandang ke kantor, kakek tanpa hidung itu langsung mengeluarkan kunci mobil dari saku baju kokonya.

Namun, sesaat akan membuka pintu depan mobilnya, anggota Satpol PP yang sudah mengenali wajah pengemis itu lantas menghampiri dan menginterograsinya. Begitu mengetahui kakek itu memiliki kendaraan pribadi, para anggota Satpol PP pun tercengang.

Para petugas kemudian hanya melakukan pengusiran terhadap kakek yang mengenakan sarung, baju koko, dan peci hitam itu. Sebelum meninggalkan lokasi, seorang anggota Satpol PP sempat memfoto saat pengemis membuka pintu kemudi mobilnya.

Pada Rabu 20 Maret 2019, kakek tanpa hidung ini kemudian digelandang ke Kantor Satpol PP di Jalan Pajajaran Kota Bogor untuk dimintai keterangan. Usai diinterogasi, Herman selanjutnya dibawa ke Kantor Dinas Sosial (Dinsos) untuk didata.

Saat ditanya petugas Dinsos, Herman membantah memiliki kendaraan roda empat dan rumah mewah, serta mempunyai tiga istri. "Jadi, apa yang diaampaikan di medsos itu fitnah, tidak benar. Saya bisa menuntut itu," ucap Herman.

Menurut dia, kendaraan Toyota Avanza warna hijau yang sempat viral di media sosial dia sewa berikut sopir sebesar Rp 85 ribu per hari. "Iya naik mobil, tapi bukan punya saya. Itu tiap hari saya sewa sama tetangga. Sopirnya juga dia tiap hari diantar jemput," kilahnya.

Pria yang akrab disapa Enur ini mengaku menyewa mobil lantaran sudah tidak kuat lagi untuk mengangkat kakinya pada saat naik angkot.

"Kaki kalau diangkat begini enggak bisa jalan, makanya pakai mobil," ucap pengemis berusia 87 tahun ini.

Enur juga membantah memiliki rumah mewah di Leuwiliang, Kabupaten Bogor, dan mempunyai istri tiga. Menurut dia, ketiga istrinya kini sudah tiada.

"Kalau kawin memang tiga kali, tapi kawin-cerai, kawin-cerai, dan sudah meninggal semua. Yang pertama orang Madura, kedua Cimayang, ketiga orang Palembang," ujar dia.

Herman mengungkapkan sudah menjalani profesinya sebagai pengemis di sejumlah ruas jalan Kota Bogor sejak tahun 1980. Saat ini, dia lebih sering mangkal di lampu merah Simpang Yasmin maupun Simpang Semplak Kota Bogor.

Dari hasil mengemis mulai pukul 07.00 WIB sampai 11.00 WIB, dia mampu menghasilkan uang minimal Rp 150 ribu per hari. Uang tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari anak, menantu dan cucu-cucunya.

"Anak saya kerja gajinya kecil. Semua tinggal satu rumah, menantu, anak dan cucu," ujarnya.

 

5 dari 6 halaman

Pengemis Punya Rp 1 Miliar?

Pengemis Legiman
Legiman, pengemis yang miliki aset hingga miliaran rupiah. (dok. SATPOL PP FOR RADAR KUDUS/JawaPos.com)

Legiman merupakan seorang pengemis berusia 52 tahun asal Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Namanya sempat menjadi bahan pergunjingan publik karena mengaku memiliki kekayaan dari hasil mengemis mencapai Rp 1,4 miliar.

Angka Rp 1,4 miliar berupa uang, rumah, tanah pekarangan, dan tabungan. Untuk tabungan yang disimpan adiknya mencapai Rp 900 juta, aset tanah Rp 275 juta, dan rumah senilai Rp 250 juta.

"Legiman tercatat sebagai warga Ngawen, Kecamatan Margerojo, Pati. Ngakunya punya kekayaan Rp 1,4 miliar. Pengakuannya itu saat terjaring razia dan kebetulan di video dan jadi viral," kata Sekretaris Satpol PP Kabupaten Pati, Imam Rifai, kepada Liputan6.com, Kamis 17 Januari 2019.

Menurutnya, saat sepi, pendapatan sehari sekitar Rp 500 ribu. Namun, ketika ramai Legiman mengaku bisa membawa pulang uang hingga Rp 2,5 juta.  

Ketika terjaring razia Minggu, 12 Januari 2019, didapat uang Rp 600 ribu. "Hari ini sepi. Hanya dapat Rp 695 ribu," kata Lik Man Ceker, panggilan akrabnya ketika ditangkap di sekitar Simpang Lima, Pati.

Dalam pengakuannya Lik Man kerap mendapatkan makanan dan minuman. Bahkan, jika beruntung berttemu Anak Buah Kapal, ada yang memberinya Rp 50 ribu.

Lik Man Ceker sendiri sudah dua kali terjaring razia. Tiap razia ia mengaku dalam semalam ia mampu mengumpulkan uang Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta.

Satpol PP tidak mau gegabah mempercayai pengakuan itu. Namun, Imam Rifai menyebut bahwa penjelasan itu memang berasal dari mulut Legiman sendiri. 

Kepala Desa Sokokulon, Pati, tempat di mana Legiman tercatat sebagai warga menyebutkan, Legiman tidak memiliki rumah dan hanya kos. Sehingga pengakuannya terasa janggal.

"Hidup di rumah kos saja, yang bayari adiknya yang jualan rosok (barang-barang bekas), tiap bulan Rp 400 ribu. Jika punya aset miliaran mosok kerjanya juga mengemis setiap hari," kata Masrikan, Kades Sokokulon, kepada Liputan6.com, Kamis (17/1/2019).

Pemilik rumah kos yang ditempati Legiman juga meragukan pengakuannya itu. Menurut dia, jika memang punya tabungan uang sampai Rp 900 juta tentu uang kos tak jadi masalah.

"Tapi ini kok dibayar sama adiknya yang kerja jualan rosok. Saya kok ragu," kata Mohadi.

6 dari 6 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓