Tingkatkan Keterampilan Masyarakat Desa, BLK Komunitas Dekatkan Akses Pelatihan

Oleh stella maris pada 16 Des 2019, 12:15 WIB
Diperbarui 16 Des 2019, 13:16 WIB
BLK Komunitas

 

Liputan6.com, Jakarta Pemerintah meluncurkan program Balai Latihan Kerja (BLK) Komunitas, untuk mempercepat peningkatan kompetensi masyarakat. Program BLK itu diharapkan dapat mejadi akses peningkatan keterampilan bagi komunitas masyarakat, terutama di pedesaan.

Kepala Biro Hubungan Masyarakat Kementerian Ketenagakerjaan, Soes Hindharno, dalam siaran pers Biro Humas, menjelaskan bahwa salah satu tujuan program BLK Komunitas adalah mendekatkan akses pelatihan kepada masyarakat, khususnya masyarakat desa yang jauh dari kota.

Hal ini mengingat lembaga pelatihan, baik milik pemerintah maupun swasta, umumnya terletak di jantung kabupaten/kota.

"Jadi BLK Komunitas tidak hanya membantu komunitas di lembaga keagamaan, namun juga warga yang di sekitar BLK Komunitas dapat mengikuti pelatihan," katanya.

Soes menjelaskan, saat ini BLK Komunitas baru memiliki satu program kejuruan yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat sekitar. Ke depan, Kemnaker akan terus melakukan upgrading kejuruan sesuai dengan perkembangan industri.

"Seperti otomotif, dulu pakai karburator, kemudian menjadi CDI, engine, kemudian listrik. Ini akan terus disesuaikan dengan perubahan yang ada," terangnya.

BLK Komunitas sendiri merupakan unit pelatihan vokasi yang didirikan di lembaga pendidikan keagamaan atau lembaga keagamaan non pemerintah. Tujuannya untuk memberikan pelatihan vokasi sebagai bekal keterampilan teknis berproduksi atau keahlian kejuruan sesuai kebutuhan pasar kerja.

Salah satu penerima program ini adalah Pondok Pesantren Edi Mancoro di Semarang, Jawa Tengah. BLK ini menyelenggarakan program pelatihan komputer, mencakup pelatihan Computer Office Assistant (COA) dan desain grafis.

Direktur BLK Komunitas Pesantren Edi Mancoro, M. Yaki Pamungkas, menjelaskan bahwa pelatihan di BLK Komunitas ini diikuti santri pesantren, warga desa sekitar pesantren, dan beberapa warga dari daerah lain. Umumnya, warga yang ikut pelatihan berpendidikan lulusan SD, SMP, dan SMA.

BLK Komunitas di Pesantren ini berjalan efektif sejak 2018. Pada tahun itu, BLK Komunitas menyelenggarakan lima paket pelatihan dan pada 2019 sebanyak enam paket pelatihan (tiap paket diikuti 16 peserta).

"Sebagian dari mereka ada yang bekerja di advertising, bekerje freelancer sebagai desainer grafis, ada juga yang membuka usaha mandiri," terang Yaki.

Berdasarkan penuturan salah satu alumni BLK Komunitas Pesantren Edi Mancoro, Rizki Eka Utami, pelatihan di BLK Komunitas mampu meningkatkan keterampilannya. Sebelumnya, Eka bekerja sebagai reseller olshop. Namun setelah mengikuti pelatihan di BLK ini, kini Eka dapat membuat desain produk sendiri yang disesuaikam dengan kebutuhan customer.

"Sekarang aku sudah bisa desain kaos sendiri. Dan aku juga sudah bisa excell, jadi bisa melalukan pembukuan keuangan," terang Eka.

 

(*)