Tunggak Pajak Rp 81 Juta, Pemilik Mercedes Benz c63 Ini Mengaku Sedang Kesusahan

Oleh Liputan6.com pada 11 Des 2019, 16:43 WIB
Diperbarui 11 Des 2019, 16:43 WIB
Kepala Samsat Jakarta Selatan, Khairil Anwar
Perbesar
Kepala Samsat Jakarta Selatan, Khairil Anwar. (Merdeka.com/ Tri Yuniwati Lestari)

Liputan6.com, Jakarta - Sejumlah petugas dari Satuan Administrasi Manunggal Satu Atap (Samsat) Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan menyambangi rumah salah seorang penunggak pajak di kawasan Dwijaya, Gandaria, Jakarta Selatan.

"Kita akan melakukan razia door to door di daerah Gandaria, karena adanya penemuan petugas sebuah mobil mewah belum membayarkan pajaknya selama tiga tahun," kata Kepala Samsat Jakarta Selatan, Khairil Anwar, saat dimintai keterangan, Jakarta Selatan, Rabu (11/12/2019).

Saat disambangi oleh petugas, di rumah dengan pagar hitam itu terdapat satu buah mobil Mercedes Benz c63 dengan Nopol B 279 AU yang tercatat oleh petugas Samsat. Pajak kendaraan mobil ini telah mati sejak 2016.

Setelah menemukan mobil tersebut, petugas langsung memanggil orang yang berada dalam rumah. Dari dalam keluar seorang perempuan mengenakan kerudung hitam dan mengaku mobil itu miliknya.

Perempuan yang diketahui bernama Ratih saat disambangi oleh petugas terlihat pemilik dari mobil itu cukup kooperatif terhadap petugas saat diminta izin untuk dipasangkan sticker 'Objek Pajak Ini Belum Melunasi Kewajiban Pajak Daerah' di mobil Mercedez miliknya.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Pengakuan Pemilik

Ratih pemilik mobil mewah di Gandaria yang menunggak pajak
Perbesar
Ratih pemilik mobil mewah di Gandaria yang menunggak pajak. (Merdeka.com/ Tri Yuniwati Lestari)

Ratih mengaku belum membayar wajib pajak kendaraan bermotor selama tiga tahun dikarenakan belum ada biaya untuk membayarnya.

"Alasan saya belum bayar karena belum ada dananya, dan sedang diusahakan," ucap Ratih pada wartawan di kediamannya, Jakarta, Rabu (11/12/2019).

Ibu berusia 40 tahun ini mengaku tidak bisa membayar pajak mobil dikarenakan sedang mengalami kesusahan. Usaha percetakan yang Ia bangun bersama suami mengalami masalah sehingga harus tutup pada 2016.

"Tadinya saya usaha percetakan, dan usaha konveksi tas di rumah tapi dua-duanya tutup karena ada masalah keluarga," sambung Ratih.

Ratih mengaku mobil ini dibeli oleh suaminya pada 2013. Namun memang kepemilikan mobil ini diatasnamakan untuk Ratih. Mobil ini digunakan oleh Ratih untuk mobilitas kesehariannya sebelum akhirnya hanya ditaruh di rumah karena pajaknya mati.

"Suami saya beli second mobil ini pada 2013, alasan beli mobil ini karena rare hitam," tambah Ratih.

"Sudah lama ini tidak dipakai, faktor utama karena menunggak pajak," sambung dia.

 

Reporter: Tri Yuniwati Lestari

Sumber: Merdeka

Lanjutkan Membaca ↓