Kubu Bamsoet Kirim Nama untuk Masuk di DPP Golkar

Oleh Liputan6.com pada 05 Des 2019, 18:06 WIB
Diperbarui 05 Des 2019, 18:06 WIB
Airlangga Hartarto dan Bambang Soesatyo
Perbesar
Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto dan Politikus Partai Golkar Bambang Soesatyo Tampak Berfoto Bersama Saat Menghadiri Acara Malam Anugerah Penghargaan Untuk Calon Legislatif Terpilih Periode 2019-2024 di Hotel Ritz Calton, Mega Kuningan, Jakarta, Minggu (15/9/2019). (Foto: Merdeka.com)

Liputan6.com, Jakarta - Rapat Komisi A di Munas X Partai Golkar menyepakati Ketum Golkar Airlangga Hartarto sebagai formatur tunggal atau penentu susunan kepengurusan Golkar periode 2019-2024. Airlangga pun punya mandat membuat tim bantuan untuk menyusun kepengurusan.

"Bisa meminta bantuan, di dalam Pasal 12 (AD/ART) tadi sudah diketok," kata pimpinan rapat Komisi A Azis Syamsuddin di sela Munas Golkar, Hotel Ritz-Carlton, Kuningan, Jakarta, Kamis (5/12/2019).

"Mandat penuh, Pak Airlangga saja, bila diperlukan Pak Airlangga bisa membentuk," tambah Azis.

Para loyalis Bambang Soesatyo juga disebut telah mengirim nama untuk masuk kepengurusan Golkar pusat. Namun, kata Azis, hal tersebut belum final.

"Belum final, masih dia ngirim-ngirim nama," ucap Azis.

Dikonfirmasi terpisah, Loyalis Bamsoet, Ahmad Noor Supit mempercayakan kepada Airlangga membentuk kepengurusan baru. Dia menyebut Airlangga menjanjikan gerbong Bamsoet masuk DPP.

"Iyalah (dijanjikan). Kita tunggu saja. Kan sudah disampaikan juga pada saat pidato pembukaan ada rekonsiliasi. Tinggal realisasi saja apa benar, apa enggak," kata Supit.

Supit tidak memungkiri bila kubu Bamsoet meminta 30 persen di struktur kepengurusan pusat Golkar. Menurutnya, cerminan rekonsiliasi harus terealisasi di kepengurusan baru.

"Itu kan konsep ke konsep aja, pada intinya adalah cerminan rekonsiliasi itu harus kelihatan dari nanti konfigurasi pengurus yang akan nanti diputuskan," pungkasnya.

2 dari 3 halaman

Tak Perlu Diakomodasi

Sementara itu, loyalis Airlangga, Ace Hasan Syadzily menyebut kubu Bamsoet tidak perlu diakomodasi dalam struktur DPP. Sebab, Bamsoet tidak punya dukungan dari DPD I dan II di Munas.

"Nggaklah, konteksnya kemarin kan nggak ada DPD dukung Bamsoet, kan basenya pemilik suara ini kan DPD DPD tingkat satu. Kan mereka nggak ada yang dukung Bamsoet lalu siapa yang mau diakomodasi," kata Ace di Hotel Ritz-Carlton, Kuningan, Jakarta, Kamis (5/11/2019).

Lagipula, menurut Ace, Kubu Bamsoet tidak mengikuti Munas selama beberapa hari. Harusnya, gerbong Bamsoet mau berbaur di forum tertinggi Partai Golkar itu.

"Seharusnya kan mereka ketika dinyatakan sudah bersama ya gabung dong, ini Bamsoet nggak hadir selama Munas. Orang-orangnya kayak Robert (Kardinal), Nusron (Wahid), hadir nggak?" kata Ace.

"Harusnya kan berbaur, berdiskusi jadi bagian dari proses munas kan nggak cuma pemilihan ketum tapi gagasan apa yang ditawarkan buat Golkar," ujarnya.

 

Reporter: Muhammad Genantan Saputra/Merdeka.com

 

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓