Sahroni Dorong Kurikulum Pendidikan Selaras Perkembangan Zaman

Oleh Hanz Jimenez Salim pada 25 Nov 2019, 12:15 WIB
Diperbarui 26 Nov 2019, 18:15 WIB
Sahroni

Liputan6.com, Jakarta - Anggota DPR dari Fraksi Nasdem Ahmad Sahroni mendorong dunia pendidikan untuk selalu memperbarui kurikulum pendidikan sesuai perkembangan zaman.

Tujuannya agar para lulusannya mampu bersaing dan menciptakan peluang-peluang dari perubahan dunia yang bergerak begitu cepat.

Hal tersebut disampaikan Sahroni dalam sambutannya sebagai perwakilan mahasiswa pascasarja Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (Stikom) Inter Studi, Jakarta.

"Kita semua menyadari bahwa dunia begitu cepat berubah. Perubahan ini berdampak pada industri dan lapangan kerja yang akan kita hadapi bersama," kata Sahroni dalam keterangannya, Senin (25/11/2019).

Menurut Wakil Ketua Komisi Hukum DPR ini, merujuk pada laporan terbaru McKinsey and Company yang dirilis September 2019 lalu, dimana diperkirakan 23 juta pekerjaan pada tahun 2030 akan hilang, seiring meningkatnya adopsi otomatisasi dan kecerdasan buatan.

Realitas ini, menurutnya akan menjadi tantangan bagi dunia pendidikan untuk selalu memperbarui kurikulum sesuai perkembangan zaman. Begitu pula menjadi tantangan bagi kita sebagai produk perguruan tinggi.

"Bekal ilmu pengetahuan yang kita peroleh di bangku kuliah akan segera menjadi tidak relevan, apabila kita tidak terus menerus belajar untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman," ucap Sahroni.

"Continuous learning atau belajar berkelanjutan adalah keniscayaan bagi kita agar tetap bertahan di tengah perubahan dunia dan persaingan global," imbuhnya.

Sejalan dengan itu, kampus Inter Studi sebagai lingkungan akademik yang telah membekali para lukusannya dengan keilmuan di bidang komunikasi dan kreativitas, tentu juga dituntut mampu bertahan di tengah derasnya perubahan zaman.

"Belajar dan mendengar, dalam pengalaman pribadi saya, adalah kunci agar kita selalu exist dalam banyak situasi," tukas Sahroni membagikan pengalaman suksesnya baik di dunia bisnis maupun politik.

Ia kemudian mengingatkan, kepada para wisudawan untuk tidak tidak menjadikan selembar ijazah sebagai tanda tuntasnya kegiatan belajar mengajar. Justru ia menganggap bahwa ijazah merupakan bekal awal untuk terjun dan berkontribusi nyata kepada masyarakat.

2 dari 2 halaman

Saksikan video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓