Malaikat Jalanan yang Bebaskan Ambulans dari Kemacetan

Oleh Ratu Annisaa Suryasumirat pada 24 Nov 2019, 02:15 WIB
Diperbarui 26 Nov 2019, 00:13 WIB
Indonesian Escorting Ambulance (IEA)

Liputan6.com, Jakarta - Wajahnya tetap semringah meski sering kena caci maki pengendara di jalan. Dia adalah Yunus Musthofa, umur 33 tahun. Salah satu anggota organisasi sukarelawan bernama Indonesian Escorting Ambulance (IEA).

Meski sibuk bekerja sebagai insinyur di bidang minyak dan gas (migas), Yunus masih rela berpanas-panasan demi mengawal ambulans di waktu senggangnya. Hal ini dilakukannya secara cuma-cuma, tak dibayar sepeser pun. 

Hatinya senang bila melihat pasien sampai di rumah sakit dengan lancar. Pengalaman pribadinya yang membuat dia gigih membantu perjalanan ambulans.

“Pengalaman saya ketika orang tua saya tertabrak mau berangkat kerja. Pagi itu benar-benar jam berangkat kerja ya, crowded dan gangguan jalan,” ungkap Yunus kepada Liputan6.com.

“Dengan penuh rasa ketakutan, rasa kalut karena ayah saya dalam ambulans, saya bingung harus bisa sampai atau tidak waktunya. Karena situasi dipindahkan ke RS Gatot Subroto, harus segera dioperasi karena pendarahan,” sambung dia.

Untung, bantuan datang tanpa terduga. Sekitar empat pengendara motor tiba-tiba mendekati ambulans tersebut dan mengetuk jendela sopir. Mereka menanyakan rumah sakit tujuan ambulans

“Mereka membantu membukakan jalan. Syukur, alhamdullilah pemandu motor yang tidak saya kenal itu mengantarkan sampai Atrium, tanpa halangan di jalan, meskipun keadaan macet,” tutur Yunus.

 

Saksikan video di bawah ini:

2 of 4

Menjadi Malaikat Jalanan

Indonesian Escorting Ambulance (IEA)
Yunus Musthofa bergabung dalam Indonesian Escorting Ambulance (IEA) setelah ambulans yang tengah mengangkut ayahnya ditolong oleh 4 pengendara motor tak dikenal. Ayah Yunus akhirnya sampai rumah sakit tepat waktu. (Foto: Zulfikar Abubakar/Liputan6.com)

 

Aksi heroik para pengendara motor tak dikenal ini akhirnya menginspirasi Yunus. Ayahnya selamat, sebab ambulans datang tepat waktu. Karena itu, dia ingin bisa membalas jasa dengan ikut membukakan jalan bagi ambulans. 

Yunus lalu bergabung dalam Indonesian Escorting Ambulance (IEA) pada awal tahun 2018.

“Sangat bergerak hati saya untuk menolong, jadi saya ingin tahu ini organisasi apa, bergerak di bidang apa. Pas saya cek di media online, ternyata sejalan dengan hati saya, ingin membantu,” ucapnya.

“Di IEA itu bukan sekedar mengawal, memandu ambulans, tapi juga IEA itu sudah terkenal sebagai salah satu bagian kecil dari tim medis di lapangan. Alhamdulillah kita satu visi dan misi,” lanjut dia.

Yunus pun menyayangkan masih banyaknya pengendara di Indonesia yang tak mengutamakan ambulans. Ketika ditegur, mereka justru menyemprot dengan amarah.

Tak jarang, kata-kata kasar pun dilontarkan kepada para anggota IEA yang tengah membukakan jalan.

“Dikata-katai jagoan jalan, dikatai enggak punya otak, dikatai bahasa binatang, sering, ya kita maklumi. Dia (pengguna jalan) mungkin enggak tahu yang di dalam ambulans lagi membutuhkan penanganan intensif, dia enggak tahu,” kata Yunus sembari tertawa.

Tapi, dia tetap berbesar hati menerima cacian itu. Baginya, ini adalah risiko yang harus ditanggung demi tujuan yang mulia. Bisa dikatakan, para anggota IEA bak 'malaikat jalanan'.

 

3 of 4

Ingin Berguna Bagi Banyak Orang

Indonesian Escorting Ambulance (IEA)
Pendiri Indonesian Escorting Ambulance (IEA) Nova Tri Widyatmoko (Foto: Zulfikar Abubakar/Liputan6.com)

Pendiri Indonesian Escorting Ambulance (IEA) Nova Tri Widyatmoko memang tak memiliki pengalaman pribadi yang menegangkan, seperti Yunus, anggotanya. Namun, hal itu bukan berarti tekadnya kalah kuat.

Pria berusia 27 tahun ini bercerita, IEA adalah sebuah organisasi yang resmi didirikan pada 1 Oktober 2017. IEA murni dijalankan oleh para relawan dan menolak untuk dibayar, meski banyak keluarga pasien yang ingin membalas jasanya.

“Berdirinya Indonesian Escorting Ambulance (IEA) adalah dari kesadaran masyarakat Indonesia terhadap perjalanan ambulans. Seperti yang kita tahu, ambulans salah satu kendaraan yang mendapat hak prioritas jalan seperti yang tercantum dalam undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 Pasal 134, poin kedua setelah pemadam kebakaran,” jelas Nova.

Dia menegaskan, sudah menjadi prinsip hidupnya agar bisa berguna bagi banyak orang. Selain mengawal ambulans, IEA juga aktif menyosialisasikan pentingnya membuka jalan bagi kendaraan medis itu.

Organisasi yang sudah legal ini juga kerap membekali anggotanya dengan pengetahuan akan pertolongan pertama atau first aid. Yakni dengan memberikan pelatihan Basic Life Support (BLS), penanganan patah tulang, penanganan luka terbuka, dan lainnya.

“Jadi dengan anggota IEA yang mencapai 2.000 anggota tersebar di wilayah Sumatra, Jawa, Kalimantan dan Bali, diharapkan ini bisa menambah skill atau kemampuan teman-teman lebih bermanfaat untuk masyarakat, khususnya dalam penanganan laka lantas di jalan,” Nova menuturkan.

 

4 of 4

Ingin Bisa Kerja Sama dengan Polisi

Indonesian Escorting Ambulance (IEA)
Para anggota Indonesian Escorting Ambulance (IEA) mengikuti pelatihan pertolongan pertama sebagai bekal bila menghadapi kecelakaan lalu lintas. Hal ini agar nyawa korban dapat diselamatkan sebelum ambulans tiba menjemput. (Foto: Zulfikar Abubakar/Liputan6.com)

 

Ke depannya, Nova berharap agar IEA bisa semakin dikenal agar mudah bekerja sama dengan pihak terkait. Terutama saat harus membukakan jalan.

“Saya harap untuk pemerintah maupun instansi-instansi terkait dapat mendukung atau membantu program-program yang kami rencanakan,” kata Nova.

Dia ingin agar dinas kesehatan maupun pihak kepolisian bisa berkoordinasi dengan IEA. Hal ini agar tak ada kesalahpahaman dari masyarakat terhadap IEA, selain juga mengedukasi anggotanya terkait pengawalan di jalan.

“Mudah-mudahan dari pihak kepolisian bisa memberikan pelatihan-pelatihan safety riding ataupun tata acara pengawalan,” ungkapnya.

Nova berpesan, masyarakat harus sadar bahwa ambulans wajib diutamakan saat berada di jalan. Sebab, bisa saja suatu saat nanti mereka berada di dalam ambulans dalam kondisi terburu-buru.

“Kita tidak tahu kapan kita ada di dalam ambulans tersebut. Entah diri kita, ataupun orang yang kita sayangi. Maka karena itu, cobalah untuk lebih memprioritaskan dan lebih peduli,” ucapnya.

“Karena satu detik yang kita berikan kepada mereka itu sangat bermanfaat untuk kelanjutan hidup,” pungkas Nova.

Lanjutkan Membaca ↓