Latihan Militer di Permukiman Pasuruan, Kodam V Brawijaya: Itu Bukan Daerah Latihan Kami

Oleh Putu Merta Surya Putra pada 20 Nov 2019, 14:11 WIB
Diperbarui 20 Nov 2019, 14:11 WIB
Melihat Latihan Menembak Prajurit TNI di Aceh

Liputan6.com, Jakarta - Video mengenai latihan perang yang dilakukan sejumlah prajurit TNI beredar. Latihan militer tersebut di tengah permukiman warga Desa Wates, Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan pada Selasa, 19 November 2019.

Kepala Divisi Tanah dan Lingkungan LBH Surabaya Moh Soleh menuturkan, pihaknya mendapatkan kiriman video dari warga ada latihan militer di tengah permukiman warga di Desa Wates, Pasuruan.

Dia menuturkan, warga dikagetkan dengan suara tembakan pada Selasa siang 19 November 2019. Latihan militer tersebut diperkirakan terjadi pukul 12.00-14.00 WIB. Desa tersebut memang masuk 10 desa sengketa, tetapi Sole melihat latihan militer juga sebaiknya tidak dilakukan di lokasi tersebut.

LBH Surabaya pun mengecam latihan tersebut. Salah satu alasannya latihan tersebut tanpa pemberitahuan sebelumnya kepada warga.

Terkait hal ini, Kapendam V Brawijaya Letkol Imam Haryadi membantah pasukannya latihan militer di sana. Menurut dia, itu bukan wilayah latihannya.

"Sampai saat ini, satuan jajaran Kodam V Brawijaya belum pernah yang latihan di daerah tersebut. Itu bukan daerah latihan Kodam V," ucap Imam kepada Liputan6.com, Rabu (20/11/2019).

Menurut dia, latihan TNI AD di wilayah Jawa Timur hanya ada di dua tempat.

"Pertama di Latma Ausindo di Asembagus. Kedua di Lat Posko Brigif 16 di Dodiklatpur Situbondo," pungkasnya.

2 dari 3 halaman

LBH Surabaya mengecam

LBH Surabaya mengecam latihan militer di tengah permukiman warga  Desa Wates, Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan pada Selasa, 19 November 2019. Latihan militer tersebut pun tanpa pemberitahuan sebelumnya kepada warga.

Kepala Divisi Tanah dan Lingkungan LBH Surabaya Moh. Soleh menuturkan, pihaknya mendapatkan kiriman video dari warga ada latihan militer di tengah permukiman warga di Desa Wates, Pasuruan.

Warga dikagetkan dengan suara tembakan pada Selasa siang 19 November 2019. Latihan militer tersebut diperkirakan terjadi pukul 12.00-14.00 WIB.  Desa tersebut memang masuk 10 desa sengketa, tetapi Sole melihat latihan militer juga sebaiknya tidak dilakukan di lokasi tersebut.

"(Warga-red) dikagetkan bunyi tembakan sekitar pukul 12.00-14.00 ketika warga juga lagi istirahat. Sedang ada latihan militer dekat rumah mereka. Warga menyampaikan kalau tidak ada pemberitahuan sebelumnya," ujar Soleh saat dihubungi Liputan6.com, Rabu (20/11/2019).

Soleh pun mengecam latihan militer di tengah permukiman warga. Hal ini melanggar pasal 28 D UUD 1945. Dalam pasal itu disebutkan kalau setiap orang berhak untuk rasa aman dan tentram.  Selain itu, pada Juli 2019, menurut Soleh, peluru nyasar sempat mengenai pelipis warga. "Latihan dilakukan di tempat seperti itu melanggar hak,” kata dia.

Soleh menuturkan, latihan militer di tengah permukiman membuat warga trauma. Meski belum ada korban dan kerusakan fasilitas karena latihan militer tersebut saat ini.

LBH Surabaya pun sudah mengadukan kepada Komnas HAM mengenai hal tersebut. Pihaknya pun menagih janji presiden terkait Kepres Nomor 86 Tahun 2018 mengenai reforma agraria.

"Kami ingin Presiden menyelesaikan konflik 10 desa sengketa dengan TNI AL. Karena kalau berlarut-larut dikhawatirkan dapat menimbulkan korban," ujar dia.

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓