PT MRT Terbitkan Kartu Jelajah untuk Mudahkan Pengguna

Oleh Devira Prastiwi pada 17 Nov 2019, 16:29 WIB
Diperbarui 19 Nov 2019, 12:13 WIB
MRT

Liputan6.com, Jakarta PT MRT Jakarta akan menerbitkan Multi Trip Ticket (MTT) atau disebut Kartu Jelajah pada 25 November 2019. Dengan K artu Jelajah, pengguna MRT tidak akan perlu menunggu saat tap masuk ke peron.

Saat ini, untuk bisa menaiki MRT, masyarakat harus membeli tiket di loket (single trip) atau bisa juga menggunakan kartu elektronik dari bank (U-Nik).

Namun jika menggunakan U-Nik tersebut, para pengguna mesti menunggu setidaknya 2 detik untuk memastikan apakah kartu itu terbaca atau tidak.

"Bedanya kita dengan kartu bank, gunanya sama, cuma kecepatannya. Kalau kartu single trip itu 0,2 detik, kartu bank hampir 2 detik. MTT pun akan cepet. Kalau kartu kita tuh kita bahkan enggak perlu sentuh," ujar Direktur Operasional dan Pemeliharaan PT MRT Jakarta Muhammad Effendi di Depo MRT Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Jumat 15 November 2019.

Dengan ini, masyarakat tidak perlu lagi refund saat tiba di stasiun tujuan. Hal ini pun dapat menghemat waktu dan kerja dari para karyawan MRT Jakarta.

"Tinggal beli 1 kartu jadi enggak perlu refund. Penumpang yang capek, kita pun capek. Kami harus melayani, paling enggak ada petugas yang melayani refund. Jadi kalau MTT akan lebih mudah," kata Effendi.

Mengingat izin dari Bank Indonesia sudah keluar untuk MTT ini, pada 25 November 2019 akan dikeluarkan atau dilaunching secara resmi oleh MRT Jakarta.

2 of 2

Sama Seperti di Jepang

Tarif Normal MRT Jakarta
Rangkaian kereta Moda Raya Terpadu (MRT) Lebak Bulus-Bundaran HI melintas di Stasiun MRT Fatmawati, Jakarta, Rabu (8/5/2019). Terhitung mulai 13 Mei 2019, tarif MRT Jakarta akan kembali normal seharga Rp 7.000 hingga Rp 14.000 per sekali perjalanan. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Penggunaan MTT ini sama dengan di Jepang. Di Jepang, para pengguna MRT bisa masuk ke peron tanpa harus menempelkan ke card reader. Sembari jalan, kartu ditempelkan, pengguna tersebut bisa naik MRT.

"Kalau di Jepang itu sambil lari, sambil masuk. Kalau di sini kita mesti nunggu dulu. Kecepatan antrean lebih tinggi. Kalau semua orang pakai MTT harusnya antrean akan lebih lancar. Sekarang kan banyak harus berhenti dulu. Sistem kami dengan bank beda, readernya beda," papar Effendi.

Untuk harga MTT atau Kartu Jelajah ini sekitar Rp 25 ribu. Jumlah itu belum termasuk saldo. Para pengguna MRT bisa isi saldo atau top up di mesin yang sudah disediakan di tiap stasiun.

"Nanti kalau beli, top up bisa di samping loket tiket ada cabin machine atau di loket tiket juga bisa atau di office. Dijual kartunya saja Rp 25 ribu, nanti tinggal top upnya," ucapnya.

Meski begitu, nantinya MRT Jakarta ini juga akan ikut dalam kartu Jak Lingko. Karena MRT Jakarta ini memang merupakan program dari Pemprov DKI Jakarta.

"Kita masuk program Jak Lingko. Nanti itu ke Jak Lingko karena kan kita punya Pemprov," pungkas Effendi.

Lanjutkan Membaca ↓